Narsumi Bos Suderajat Penjual Es Gabus Bantah Pakai Spons, Beri Harga Rp 500 Meski Tak Dapat Untung
January 30, 2026 06:14 PM

TRIBUNJATIM.COM - Sosok Narsumi, bos Suderajat penjual es gabus muncul ke publik.

Pemilik sekaligus produsen es gabus yang dijual Suderajat membantah bahwa produknya dicampuri spons.

Diketahui, sosok Suderajat viral setelah dituduh aparat menjual es mengandung spons.

Menurut Narsumi, tuduhan itu tak berdasar mengingat besaran modal justru akan lebih besar jika membeli spons untuk es.

"Enggak ada lah (spons), sponsnya lebih mahal daripada sagu aren," kata Narsumi saat ditemui Pancoran Mas, Kota Depok, Kamis (29/1/2026).

Baca juga: Suderajat Penjual Es Gabus Tak Jujur soal Warisan Rumah, Dedi Mulyadi Tak Jadi Beri Rp 10 Juta

Ia juga membantah tudingan itu dikarenakan Narsumi telah susah payah dengan seorang anggota keluarganya dalam memproduksi es gabus yang sedang viral ini.

Proses pembuatannya memakan waktu berjam-jam, karena harus mengaduk, membuat adonan, merebus air, mencetak, dibekukan di kulkas, hingga membungkus ke plastik.

Narsumi menyebut, proses membuat es gabus lebih melelahkan daripada mengurus bayi.

"Capeknya setengah mati bikin es gabus, tapi keuntungannya juga enggak ada. Cuma ya ini membantu orang yang menganggur saja," ujarnya.

Jual Harga Rp 500

Satu kali produksi, Narsumi membuat es gabus untuk dijual ke sekitar lima pedagang termasuk Suderajat.

Sepengetahuannya, Suderajat telah membeli es gabus buatannya selama belasan tahun, ketika anak-anaknya juga masih kecil.

"Pak Suderajat tuh dagangnya enggak beli dari saya doang, kadang di saya tapi kadang di tempat lain. Dari dulu sampai sekarang, kan enggak ada orang keracunan makan es krim," terang Narsumi.

Selama ini, Narsumi menjual murah harga satuan es gabus kepada Suderajat, yaitu hanya Rp 500 per buah.

"Itu kan (es gabus) harganya murah juga, dari saya Rp 500 satunya, kan yang dapat untung gede dari yang jualan," tutur Narsumi, melansir dari Kompas.com.

Harga itu telah disesuaikan dengan modal yang dikeluarkan Narsumi dalam memproduksi es gabus.

Ia menyebutkan, seluruh bahan yang diperlukan sederhana sebab tingkat kesulitan berada pada proses memasaknya.

"Pembuatannya dari sagu aren, vanili, gula pasir, garam, pasta pisang ambon, dan pewarna makanan. Sudah, kayak gitu saja," jelas Narsumi.

"Enggak bisa dinyatakan berapa lama (waktu masaknya), pokoknya lama karena kayak harus telaten," lanjut dia.

Berdasarkan pengamatan Kompas.com di lokasi, tampilan luar pabrik berbentuk rumah kontrakan bercat biru tua.

Pagar besi rumahnya dibuka lebar, menunjukkan sejumlah barang dan perabotan untuk produksi es gabus yang diletakkan di teras rumah.

Baca juga: Gubernur Ambil Uang Rp10 Juta yang Diberikan ke Suderajat, sempat Tak Percaya ke Si Penjual Es Gabus

Salah satunya baskom berisikan cetakan es berbahan plastik dengan variasi warna berbeda.

Lalu, terlihat sebuah keranjang persegi yang disusun menumpuk di sisi depan pintu masuk.

Sekitar 2-3 tas boks kosong yang nantinya bisa diisi es gabus atau es kue juga terlihat disusun di atas meja kayu.

Di luar itu, tidak terlihat adanya aktivitas produksi es gabus di dalam rumah kontrakan.

Sebagai informasi, dugaan penjualan es gabus berbahan spons di Kemayoran, Jakarta Pusat, mencuat setelah adanya laporan warga.

Warga bernama M. Arief Fadillah (43), seorang wiraswasta yang tinggal di Utan Panjang III, Kemayoran, melaporkan dugaan tersebut melalui call center 110 pada Sabtu (24/1/2026).

Pedagang yang dilaporkan adalah Suderajat (49). Ia diketahui menjual es kue, es gabus, agar-agar, cokelat meses, serta sisa kue yang sempat dibeli pelapor.

Dalam laporan tersebut, es yang diperjualbelikan disebut mengandung Polyurethane Foam (PU Foam) atau biasa dikenal sebagai material busa kasur maupun spons untuk mencuci.

Baca juga: Suderajat Penjual Es Gabus Akui Motor Pemberian Kapolres Dipakai Anak, Dedi Mulyadi: Gak Miskin Lagi

Usai mendapat laporan, tim piket Reskrim Polsek Kemayoran mendatangi lokasi di wilayah Utan Panjang, Kemayoran, Jakarta Pusat, untuk menindaklanjuti pengaduan.

Tim Keamanan Pangan Dokpol Polda Metro Jaya memeriksa seluruh barang dagangan milik Suderajat.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, disampaikan seluruh sampel es kue, es gabus, agar-agar, dan coklat meses dipastikan aman dan layak dikonsumsi.

“Tim DOKKES telah melakukan pemeriksaan menyeluruh dan hasilnya jelas: Produk tersebut layak dikonsumsi atau tidak mengandung zat berbahaya," jelas Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra.

“Namun untuk menjamin ketenangan publik dan memastikan hasil yang lebih pasti dan ilmiah, kami juga mengirim sampel ke Dinas Kesehatan dan Laboratorium Forensik (Labfor) Polri," tambahnya.

Roby bilang, hasil resmi pengujian setelah dikirimkan ke kedua instansi masih menunggu proses uji selesai.

Selain itu, polisi juga menelusuri lokasi pembuatan es di Depok.

Penelusuran ini memastikan bahwa produksi es tersebut tidak menggunakan bahan berbahaya atau spons.

Suderajat Banjir Bantuan

Sementara itu, Suderajat kini mendapat perhatian luas dari berbagai pihak.

Bantuan mengalir dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, influencer Aisar Khaled, TNI, Polres Metro Depok, hingga pemerintah daerah.

Rabu (28/1/2026), Suderajat menerima sembako dan uang tunai dari staf Wakil Presiden Gibran.

Andi, anak Suderajat, mengatakan bantuan tersebut diantar tanpa pesan khusus dari Gibran.

“Dari Wapres ada uang sama sembako,” kata Andi. Ia menambahkan, isi sembako dan jumlah uang belum dibuka oleh orangtuanya.

Selain itu, Suderajat bersama istri mendapat hadiah umrah dari influencer Aisar Khaled. Mereka dijadwalkan berangkat pada 6 Februari 2026.

“Iya dapat hadiah umrah dari Aisar. Alhamdulillah banget, bapak berdua sama ibu,” ujar Andi.

TNI melalui Kodim 0501/Jakarta Pusat memberikan dukungan berupa kulkas Polytron, dispenser Miyako, dan satu unit kasur spring bed untuk membantu dagangan dan kenyamanan keluarga Suderajat.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat Brigjen TNI Donny Pramono menegaskan, bantuan itu merupakan bentuk perhatian Kodim.

Babinsa yang menuduh Suderajat, Serda Heri, dijatuhi hukuman disiplin, sementara Dandim melakukan evaluasi internal dan memberikan jam komandan bagi seluruh anggota.

Donny menegaskan, berdasarkan uji laboratorium, es yang dijual Suderajat aman dikonsumsi.

“Peristiwa ini merupakan kesalahpahaman antara aparat dan warga,” ujarnya.

Baca juga: Sosok Arief Fadillah yang Laporkan Es Gabus Suderajat Mengandung Spons, Kini sang Penjual Ketakutan

Lalu, Pemerintah Kabupaten Bogor mencairkan dana Rp 20 juta untuk memperbaiki atap rumah Suderajat yang masuk kategori Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

Bantuan mencakup bahan material dan upah tukang. Ketua RT setempat, Anan, mengatakan renovasi akan rampung maksimal akhir pekan ini.

Kondisi rumah sebelumnya rusak parah akibat hujan deras dan lapuknya papan kayu. Warga sekitar terlihat bergotong-royong memperbaiki atap dan menata bahan material.

Sementara itu, Kapolres Metro Depok Kombes Pol Abdul Waras menyerahkan motor Yamaha Mio warna hijau tosca dan uang tunai sebagai modal usaha kepada Suderajat di kontrakan keluarga Suderajat di Bojonggede, Selasa (27/1/2026).

“Hari ini kami hadir untuk memberikan bantuan. Mudah-mudahan bermanfaat untuk usaha beliau,” kata Abdul.

Suderajat mengaku bersyukur dan bertekad kembali berdagang es gabus, meski masih khawatir dengan stigma negatif dari masyarakat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.