BOP di 44 Sekolah Tana Tidung Turun dari Rp 700 Juta Jadi Rp 500 Juta, Dampak Efesiensi Anggaran 
January 30, 2026 06:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Tana Tidung memastikan anggaran Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) sekolah tahun ini mengalami penurunan akibat kebijakan efisiensi anggaran daerah. 

Meski demikian, Disdikbud Tana Tidung tetap memastikan dana BOP tetap diterima oleh sekolah di Tana Tidung Kalimantan Utara, walau besarannya tidak sama dengan tahun sebelumnya.

Plt Kepala Disdikbud Tana Tidung, Arman Jauhari menjelaskan, anggaran BOP bersumber dari APBD dan besarannya dihitung berdasarkan jumlah peserta didik di masing-masing sekolah.

“Penganggaran BOP itu lewat APBD dan dihitung per anak. Jadi satu siswa di sekolah itu dianggarkan sekian rupiah per tahun,” ujar Arman kepada TribunKaltara.com, Jumat (30/1/2026).

Baca juga: BOP PAUD Bertambah, Bunda PAUD Tana Tidung Vamelia Ibrahim Minta Kualitas Pendidikan Ditingkatkan

Ia mengatakan, pada tahun ini terjadi penyesuaian nilai anggaran karena efisiensi fiskal dan besaran penurunan ditetapkan oleh dinas melalui bidang perencanaan program.

“Tahun ini memang ada penurunan karena efisiensi anggaran. Keputusan besarannya ada di dinas, melalui bidang program. Dari kisaran sebelumnya sekitar Rp 700 juta, turun di angka Rp 400 sampai Rp 500 juta,” katanya.

Dampaknya, nilai alokasi per siswa juga ikut turun, jika sebelumnya sekitar Rp 3 juta per siswa per tahun, kini menjadi sekitar Rp 2,5 juta, tergantung kategori jumlah murid di sekolah tersebut.

“Contohnya yang tadinya sekitar Rp 3 juta per siswa per tahun, sekarang turun menjadi kurang lebih Rp 2,5 juta. Itu menyesuaikan kemampuan anggaran,” jelasnya.

Arman Jauhari menambahkan, efisiensi juga berimbas pada pemangkasan sejumlah kegiatan dinas, damun program prioritas dari kementerian tetap dijalankan.

Baca juga: Bupati Tana Tidung Tekankan Efisiensi Anggaran dan Implementasi RPJMD 2025-2029

“Kegiatan rutin dari kementerian seperti O2SN dan OSN tetap berjalan. Begitu juga peningkatan kompetensi guru melalui bimbingan teknis dan komunitas belajar,” ucapnya.

Sebanyak 44 sekolah penerima BOP di Tana Tidung tersebar di lima kecamatan, meliputi TK negeri, SD dan SMP negeri maupun swasta. 

Ia menegaskan sekolah swasta juga menerima BOP meski nilai per siswa berbeda dengan sekolah negeri.

“Penerima BOP itu TK negeri, SD dan SMP negeri serta swasta. Sekolah swasta juga dapat, hanya besarannya tidak sama dengan negeri,” tegasnya.

Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi bentuk dukungan daerah terhadap sekolah swasta.

“Sekolah swasta juga bersyukur karena tidak semua daerah memberikan porsi yang sama. Ini bentuk kepedulian pemerintah daerah terhadap pendidikan,” katanya.

ILUSTRASI SEKOLAH- SMP Negeri Terpadu Unggulan 1 Tana Tidung, Kalimantan Utara. (TRIBUNKALTARA.COM)
ILUSTRASI SEKOLAH- SMP Negeri Terpadu Unggulan 1 Tana Tidung, Kalimantan Utara. (TRIBUNKALTARA.COM) (TRIBUNKALTARA.COM)

Arman Jauhari menekankan BOP tidak disalurkan langsung ke siswa dalam bentuk uang, melainkan dikelola sekolah untuk kebutuhan operasional dan peningkatan mutu layanan pendidikan.

“Disebutnya memang per siswa, tapi bukan berarti uangnya diberikan ke siswa. Dana itu dikelola sekolah untuk kebutuhan pendidikan,” jelasnya.

Dana BOP, lanjut dia, dapat digunakan untuk tiga komponen utama belanja, yakni belanja pegawai, belanja barang dan jasa, serta peningkatan mutu pembelajaran.

“Belanja pegawai misalnya untuk honor operator dan pengelola BOP. Barang dan jasa untuk kegiatan sekolah, peningkatan kompetensi guru, komunitas belajar, sampai dukungan program peningkatan literasi dan mutu pendidikan,” paparnya.

Penetapan besaran dana juga mempertimbangkan jumlah murid di sekolah sehingga ekolah dengan jumlah siswa sedikit mendapat alokasi per siswa lebih besar dibanding sekolah dengan jumlah murid banyak.

“Sekolah dengan murid sedikit bisa mendapat sampai Rp 2,5 juta per siswa. Kalau muridnya ratusan, per siswanya sekitar Rp 1,25 juta. Itu supaya sekolah kecil tetap bisa berkembang,” terangnya.

Saat ini Disdikbud Tana Tidung masih melakukan pendampingan penyusunan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) kepada seluruh sekolah penerima sebelum dana disalurkan.

“Kami lakukan asistensi bertahap. Sekolah diberi waktu memperbaiki dokumen bersama guru. Setelah RKAS-nya final dan sesuai data siswa cut off Desember, baru diproses penyalurannya,” pungkasnya.

(*)

Penulis : Rismayanti 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.