TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Boyolali - Seorang ibu dan anaknya di Kabupaten Boyolali, menjadi korban perampokan, korban sempat menelepon sang suami saat dalam kondisi kritis.
Padahal, saat ditelepon, sang suami yang diketahui bernama Purwanto, sedang berada di Kalimantan Barat. Sementara istrinya, bernama Daryanti, yang menjadi korban perampokan berada di kediaman mereka di Boyolali.
Alhasil, Purwanto yang panik mendapat telepon dari sang istri meminta bantuan kepada keluarganya yakni Ngatirin.
Betapa terkejutnya Ngatirin saat mendatangi kediaman Purwanto. Ia menemukan Daryanti dalam kondisi kritis dan anak Purwanto telah meninggal dunia.
Perampokan adalah tindak kejahatan mengambil barang milik orang lain dengan menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap korban.
Dalam hukum pidana Indonesia, perampokan termasuk pencurian dengan kekerasan, diatur dalam Pasal 365 KUHP.
Dikutip Tribunlampung.co.id dari TribunJateng.com, Ngatirin pun mengungkapkan kesaksiannya, lantaran ia menjadi orang pertama dari pihak keluarga yang tiba di rumah setelah mendapat kabar dari Purwanto.
Detik-detik kondisi ibu dan anak korban perampokan di rumah Dukuh Pengkol, Desa Pengkol, Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali, digambarkan secara jelas oleh Ngatirin.
Ngatirin adalah paman dari bocah yang ditemukan tewas mengenaskan di dalam rumah.
Rumah yang menjadi sasaran perampokan itu adalah milik Purwanto, pemilik usaha sate kambing di Singkawang Kalimantan Barat.
Saat ditemukan, Adisa Orlin, bocah enam tahun itu tewas di dalam kamar mandi. Kepala korban berada di dalam air penuh air.
Sedangkan Daryanti ibu dari Orlin kritis, ada luka sayatan di bagian leher.
Ngatirin merupakan orang pertama dari pihak keluarga yang datang ke rumah korban setelah mendapat kabar dari Purwanto, yang saat kejadian berada di Kalimantan Barat.
Ngatirin menjelaskan, kabar awal diterima oleh istrinya yang dihubungi langsung oleh Purwanto.
Dalam percakapan tersebut, Purwanto meminta agar keluarga segera mendatangi rumah istrinya karena kondisinya sangat gawat.
Baca juga: Polisi Kantongi Identitas Pelaku Perampokan yang Tewaskan Anak Bos Sate di Boyolali
"Istri itu (isterinya Ngatirin) dibel sama suaminya korban (Purwanto). Saya disuruh ke rumahnya, pokoknya gawat," kata Ngatirin seperti dilansir dari TribunSolo.com, Kamis (29/1/2026).
"Istrinya gawat-gawat. Saya langsung ke sini," imbuhnya.
Saat ditemui, Ngatirin baru saja kembali dari rumah sakit setelah mengantarkan korban luka, yakni Daryanti (34), ibu dari korban meninggal.
Dengan wajah pucat, Ngatirin menceritakan kondisi memilukan yang dilihatnya saat pertama kali memasuki rumah tersebut.
Dia mendapati adik iparnya, Daryanti dalam kondisi mengenaskan dengan luka di bagian leher.
Meski dalam kondisi kritis, Daryanti sempat meminta tolong agar anaknya diselamatkan.
"Orlin neng kamar mandi, Orlin neng kamar mandi (Orlin di kamar mandi)," kata Ngatirin menirukan ucapan Daryanti.
Mendengar permintaan tersebut, Ngatirin langsung berlari menuju kamar mandi.
Di lokasi itu, dia menemukan keponakannya, Adisa Orlin (6), dalam kondisi mengenaskan.
Korban ditemukan dengan kepala dimasukkan ke dalam ember yang berisi penuh air.
Ngatirin segera mengangkat tubuh bocah tersebut dengan harapan air yang ada di dalam tubuhnya bisa keluar.
Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
"Begitu diletakkan di lantai, sudah nggak bernyawa," ungkap Ngatirin.
Setelah mendapati keponakannya tidak bernyawa, Ngatirin kembali memberikan pertolongan kepada Daryanti yang kondisinya semakin melemah.
"Saya langsung nulungi ibune genti (saya langsung menolong ibunya)" tutup Ngatirin.
Kasus perampokan terjadi di Dukuh Pengkol, Desa Pengkol, Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali, pada Kamis (29/1/2026) sore.
Aksi perampokan tersebut menimpa sebuah rumah yang dihuni seorang ibu dan dua anak perempuan.
Sementara suaminya berada di Kalimantan untuk menjalankan usaha kuliner sate kambing.
Rumah korban terbilang besar dan megah.
Meski berada di tengah kampung, rumah tersebut memiliki jarak dengan rumah tetangga.
Di sisi kanan dan kiri rumah berwarna krem itu terdapat kebun jati.
Begitu pula bagian depan dan belakang rumah korban yang juga berupa kebun jati.
Karena memiliki jarak dengan rumah tetangga dan dikelilingi pagar, tidak ada warga yang mengetahui atau mendengar teriakan saat peristiwa berdarah tersebut terjadi.
Hanya terdapat satu rumah tetangga, itu pun masih berjarak sekira 20 meter.
Rahmat Kristiono, tetangga korban menyebut, meski jaraknya cukup jauh, dia kerap melihat ibu korban.
“Saya kerap melihat ibunya di depan rumah, kadang bersih-bersih,” ucapnya seperti dilansir dari TribunSolo.com, Kamis (29/1/2026).
Korban dikenal sebagai istri bos kuliner sate kambing di Singkawang, Kalimantan.
Perampokan ini pertama kali diketahui warga sekira pukul 15.30.
Warga yang curiga kemudian mendatangi rumah korban dan menemukan korban sudah tak bernyawa.
Ditemukan, korban tewas bersimbah darah di dalam rumah.
Kepala Dusun (Kadus) Pengkol, Sarjono mengatakan, mendapat informasi kejadian tersebut sekira pukul 15.30.
Setelah menerima kabar, pihaknya langsung mendatangi lokasi kejadian.
“Saya sampai di sini sudah banyak warga. Aparat dari Polsek maupun Polres juga sudah datang,” ujar Sarjono.
Dia menambahkan, ibu korban yang mengalami luka parah sudah dievakuasi ke rumah sakit.
“Ibunya juga sudah dibawa ke rumah sakit,” imbuhnya.
Sarjono menyebut, korban meninggal merupakan anak kedua dari keluarga tersebut.
“Yang meninggal itu anaknya yang nomor dua,” katanya.