Menteri Agama Malaysia Sebut Beban Kerja Berat Bisa Buat Pria Tulen Jadi Gay
January 30, 2026 08:19 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Nama Dr. Zulkifli Hasan selaku Menteri di Jabatan Perdana Menteri Hal Ehwal Agama Malaysia tengah menjadi sorotan publik dan warganet di Negeri Jiran.

Hal ini terjadi menyusul ungkapan kontroversial yang ia lontarkan pada Senin ini (26/1/2026).

Menteri Agama Malaysia ini menjadi sorotan setelah menyatakan bahwa tekanan kerja atau beban kerja yang terlalu berat bisa menjadi salah satu faktor yang mendorong pria tulen menjadi gay dan terlibat dalam gaya hidup LGBT.

Dikutip dari Sinar Harian, pernyataan kontroversial ini disampaikan Zulkifli dalam jawaban tertulis di Parlemen Malaysia terkait masalah LGBT yang melanda di Negeri Jiran.

Adapun pertanyaan tersebut diajukan Siti Zailah Mohd Yusoff selaku anggota parlemen dari partai oposisi Islam, PAS.

Siti dalam pertemuan parlemen tersebut meminta Zulkifli Hasan untuk memaparkan data dan statistik terbaru mengenai tren terkait isu LGBT di Malaysia.

Permintaan tersebut mencakup rincian persentase dan kelompok usia yang terlibat, komposisi etnis berdasarkan studi nasional atau laporan dari lembaga terkait, serta faktor-faktor utama yang berkontribusi terhadap peningkatan kasus LGBT di negara tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Zulkifli menyebut stress dalam pekerjaan termasuk faktor kunci yang membuat seorang pria tulen menjadi gay.

"Pengaruh masyarakat, pengalaman seksual, stres kerja, dan faktor pribadi lainnya masuk ke dalam kategori faktor penyebab seseorang terlibat dalam gaya hidup LGBT," ujar Zulkifli menjawab.

Zulkifli mengaku data tersebut ia dapat dari sebuah studi tahun 2017 oleh “Sulaiman dkk,”.

Selain stress kerja, Zulkifli juga menyebut lingkungan sekitar ikut berperan dalam membuat seseorang menjadi kaum LGBT.

"Orientasi dan perilaku seksual seseorang secara signifikan dipengaruhi oleh keluarga, lingkungan yang tidak mendukung, serta rendahnya tingkat pemahaman dan pengamalan agama," pungkas Zulkifli.

Baca juga: 3 Desa di Nunukan Bergeser ke Malaysia Bikin Warga Perbatasan Resah, Ini Kata Pemerintah Indonesia

Zulkifli menambahkan bahwa Departemen Pengembangan Islam Malaysia (Jakim) secara spesifik tidak memiliki atau menguasai data dan statistik mengenai kelompok LGBT di Malaysia.

Namun demikian, Zulkifli memiliki data bahwa antara tahun 2022 hingga 2025, otoritas syariah di Malaysia mencatat sekitar 135 kasus terkait LGBT.

"Hal ini disebabkan karena penelitian mengenai komunitas LGBT di Malaysia masih sangat terbatas, sehingga mengakibatkan kurangnya data komprehensif mengenai total populasi kelompok ini," sambung Zulkifli.

Seorang peserta menghadiri Parade Tokyo Rainbow Pride 2023 di Tokyo pada 23 April 2023, untuk menunjukkan dukungan bagi anggota komunitas LGBT.
Seorang peserta menghadiri Parade Tokyo Rainbow Pride 2023 di Tokyo pada 23 April 2023, untuk menunjukkan dukungan bagi anggota komunitas LGBT. (Yuichi YAMAZAKI / AFP)

Reaksi Keras di Media Sosial

Pernyataan Zulkifli langsung memicu reaksi keras di media sosial Malaysia yang riuh.

Unggahan mengenai pernyataan tersebut menarik ribuan komentar, di mana banyak netizen memanfaatkan kesempatan ini untuk menyindir sang menteri sekaligus mempertanyakan logika di balik asumsi tersebut.

Selain warganet, kelompok hak asasi manusia, seperti Justice for Sisters, juga mengecam keras pernyataan Zulkifli tersebut.

Dikutip dari South China Morning Post, Justice for Sisters menyebut klaim tersebut sebagai "misinformasi."

Baca juga: Kepala BPJPH Tak Terima Malaysia Ungguli RI di Industri Halal, Tuding Ada Kecurangan

Mereka mencatat bahwa otoritas kesehatan global utama, seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mengakui orientasi seksual sebagai bagian alami dari identitas manusia, bukan respons terhadap stres eksternal.

"Misinformasi ini memperkuat asumsi bahwa orientasi seksual dan identitas gender orang LGBT dapat diperbaiki, diubah, atau tidak nyata, serta tidak sevalid identitas heteroseksual cisgender," ujar Thilaga Sulathireh dari kelompok Justice for Sisters pada Kamis (29/1/2026).

"Faktanya adalah keberagaman dalam orientasi seksual, identitas gender, ekspresi gender, dan karakteristik seks sepenuhnya alami dan normal. Hal ini telah dibuktikan oleh badan medis dan lembaga lainnya. Menteri harus mencabut dan mengoreksi misinformasi tersebut," tambah Thilaga.

Kelompok komunitas LGBTQ Bangkok Pride merayakan keputusan parlemen Thailand yang meloloskan undang-undang pernikahan sesama jenis pada Oktober 2024 lalu
Kelompok komunitas LGBTQ Bangkok Pride merayakan keputusan parlemen Thailand yang meloloskan undang-undang pernikahan sesama jenis pada Oktober 2024 lalu (Dokumen Bangkok Post)

(Tribunnews.com/Bobby)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.