Pelita, Renungan P/KB GMIM 1-7 Februari 2026, Seia Sekata, Erat Bersatu dan Sehati Sepikir
January 31, 2026 06:48 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pelita, renungan Pria Kaum Bapa (P/KB) GMIM dalam sepekan mulai 1-7 Februari 2026.

Pembacaan alkitab terdapat pada 1 Korintus 1:10-17.

Tema perenungan adalah Seia Sekata, Erat Bersatu dan Sehati Sepikir.

Khotbah:

Sahabat-sahabat Pria/Kaum Bapa yang dikasihi dan diberkati Tuhan,

Kita semua tentu bersyukur karena diberi kesempatan lagi oleh Tuhan untuk bersekutu memuliakan nama-Nya di minggu 
pertama bulan kedua tahun 2026 ini. Menarik tema minggu ini  "Seia Sekata, Erat Bersatu dan Sehati Sepikir" berdasarkan bacaan kita saat ini 1 Korintus 1:10-17. 

Kita adalah  sepersekutuan jemaat namun kita memiliki banyak perbedaan dari pribadi dan keluarga kita masing-masing.

Perbedaan-perbedaan yang ada dapat menyebabkan gesekan-gesekan, perselisihan bahkan perpecahan. 

Oleh karena itu penting sekali tema yang diangkat minggu ini agar kita Pria/Kaum Bapa tidak terjebak pada sikap-sikap yang merasa diri lebih baik atau paling benar dan cenderung meremehkan orang lain. 

Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan, 

Panggilan untuk seia sekata bukan berarti semua harus sama, tetapi satu pengakuan iman, satu arah tujuan pelayanan dan satu pusat kehidupan, yaitu Yesus Kristus.

Perbedaan tidak boleh berubah menjadi perpecahan. Penting sekali tiap anggota jemaat untuk saling merendahkan diri di dalam takut akan Kristus (Bandingkan Efesus 5:21).

Hidup rendah hati adalah level tertinggi orang beriman dalam proses mencapai kepenuhan Kristus atau karakter Kristus, "... yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia...dan telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati..." (Filipi 2:6-8). 

Mari kita bapak-bapak untuk belajar merendahkan diri; siapa pun kita dan apapun status sosial kita hendaknya kita bersikap rendah hati, karena memang kita semua adalah sama di hadapan Allah.

Jangan kita membanggakan diri, dan dalam persekutuan gereja janganlah kita cenderung mengidolakan atau mengkultuskan seseorang atau seolah-olah `mendewakan' sosok hamba Tuhan dan membentuk persekutuan yang eksklusif, sebagaimana keberadaan di jemaat Korintus yang ditegur oleh rasul Paulus.

Dalam persekutuan dan pelayanan gereja, mari kita pergunakan masing-masing potensi sebagai karunia Tuhan untuk melayani dan memperlengkapi bukan untuk menyombongkan diri. 

Kepada jemaat di Korintus, Paulus mengajukan tiga pertanyaan retoris: Apakah Kristus terbagi? Apakah Paulus 
disalibkan? Apakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?

Jawabannya jelas tidak. Sebab salib hanya satu. Penebus hanya satu. Kepala gereja hanya satu yaitu Yesus Kristus. Paulus tidak menonjolkan peran pribadi dalam satu bentuk pelayanan, melainkan justru ia bersyukur tidak banyak membaptis.

Ini menunjukkan baptisan bukan alat membangun loyalitas, pelayan Tuhan bukan pusat iman, Injil tidak boleh dikaitkan dengan nama manusia.

Paulus dengan tegas menolak hikmat manusia yang memegahkan diri.

Sebaliknya salib Kristus menyatukan kita semua karena semua manusia sama-sama berdosa, semua diselamatkan oleh anugerah dan tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain.

Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan,

Firman Tuhan memanggil kita untuk seia sekata dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Kita juga terpanggil untuk erat 
bersatu sebagai satu tubuh Kristus, serta sehati sepikir karena salib Kristus yang telah menyatukan kita. 

Dalam keluarga, tunjukkan teladan sikap rendah hati, tegas memberikan nasihat nasihat tetapi terbuka untuk mendengar masukan yang positif. 

Keluarga Kristen akan dapat bertahan dan kuat dalam menghadapi berbagai-bagai pergumulan jika tiap anggota 
keluarga bersikap rendah hati, berjiwa besar dan tidak egois untuk saling menghargai dan menopang bukan saling 
 meremehkan dan melemahkan.

Dari dalam keluarga, istri dan anak-anak dapat meneladani kita sebagai bapak-bapak yang takut akan Tuhan; taat beribadah, rajin bekerja. tetapi juga dalam keseharian rendah hati; jujur dan bersahaja.

Bila kita egois, angkuh, gila hormat, merasa diri paling benar dan hebat maka kita bisa menjadi batu sandungan.

Apalagi kalau kita lebih suka berselisih dari pada berdamai, hanya mau mengkritik tapi tidak mau dikritik. Tetapi bila kita seia sekata, erat bersatu dan sehati sepikir maka pasti keluarga Kristen dan persekutuan jemaat akan 
 semakin kuat serta berbuah bagi banyak orang. Amin. 

Pertanyaan untuk PA: 

1. Mengapa rasul Paulus meminta jemaat Korintus untuk seia sekata. erat bersatu dan sehati sepikir? 

2. Apa dan bagaimana peran konkret P/KB dalam menjaga keutuhan rumah tangga serta kesatuan jemaat yang terdiri 
 dari berbagai latar belakang hidup dan karakter yang berbeda-beda?

Sumber: Komsi P/KB Sinode GMIM edisi Februari - Maret 2026

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.