Sosok Hasan Fawzi Resmi Ditunjuk OJK Sebagai Pengawas Pasar Modal di Tengah Gejolak IHSG
February 01, 2026 02:20 PM

 

BANGKAPOS.COM--Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjuk Hasan Fawzi sebagai pejabat pengganti di kursi panas yang sebelumnya diduduki oleh Inarno Djajadi.

Keputusan ini diumumkan dalam rapat Dewan Komisioner OJK di Jakarta, Sabtu (31/1/2026).

Hasan Fawzi ditetapkan sebagai Anggota Dewan Komisioner (ADK) Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon sekaligus memegang tanggung jawab atas pengawasan inovasi teknologi sektor keuangan, aset keuangan digital, dan aset kripto.

Penunjukan Hasan dilakukan sesuai mekanisme yang diatur dalam Peraturan Dewan Komisioner OJK dan merupakan bagian dari upaya lembaga menjaga stabilitas organisasi dalam menjalankan fungsi dan tugasnya. Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK, M. Ismail Riyadi, menegaskan bahwa keputusan ini efektif berlaku mulai 31 Januari 2026. “Penunjukan ini merupakan langkah strategis untuk memastikan kepemimpinan OJK tetap konsisten dalam menghadapi tantangan pasar,” ujarnya.

Latar Belakang Hasan Fawzi

Hasan Fawzi lahir di Purwakarta, Jawa Barat, pada 27 April 1970. Ia menempuh pendidikan sarjana teknik di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan lulus pada 1993.

Ambisinya dalam dunia finansial membuatnya menempuh pendidikan lanjutan dengan meraih gelar Master of Business Administration (MBA) dari Université Pierre Mendes, Grenoble, Perancis, serta gelar Magister Manajemen (MM) dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada 2008.

Dengan fondasi akademik yang kuat, Hasan memulai kariernya di sektor pasar modal dan kliring efek.

Ia meniti karier di PT Kliring Depositori Efek Indonesia (KDEI) sebagai Kepala Departemen Pengembangan Sistem pada 1993–1997.

Pengalaman ini memberinya wawasan mendalam tentang infrastruktur teknis pasar modal, yang menjadi modal penting bagi peranannya di masa mendatang.

Setelah itu, Hasan melanjutkan kariernya di PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) sebagai Kepala Divisi Teknologi Informasi selama 1997–2008.

Di sinilah Hasan mengasah kemampuannya mengelola sistem teknologi informasi yang menjadi tulang punggung perdagangan efek di Indonesia.

Karier Profesional dan Jabatan Strategis

Hasan Fawzi kemudian memperluas tanggung jawabnya di sektor pasar modal. Pada 2008, ia menjabat sebagai Direktur PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) hingga 2012.

Kariernya kian menanjak ketika dipercaya sebagai Direktur Utama KPEI pada 2012–2015 dan periode kedua 2015–2018.

Ia juga pernah menjadi Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2018–2022, mengawasi strategi pengembangan pasar modal dan sistem perdagangan efek.

Selain itu, Hasan juga sempat menjabat sebagai Komisaris Utama PT Pefindo Biro Kredit (2022–2023), Komisaris Utama dan Independen PT RHB Sekuritas Indonesia (2022–2023), serta Komisaris Independen PT Merdeka Battery Materials Tbk pada 2023.

Posisi-posisi ini semakin memperkuat reputasinya sebagai figur yang memiliki integritas tinggi dan kompetensi luas dalam pengawasan pasar keuangan.

Peran Strategis di OJK

Dengan penunjukan sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan memegang peran krusial dalam menjaga integritas pasar modal Indonesia.

Ia bertanggung jawab memastikan seluruh transaksi pasar modal, instrumen derivatif, dan aset digital berjalan sesuai regulasi, sekaligus memfasilitasi inovasi fintech dan pengembangan aset kripto yang tengah berkembang pesat.

Hasan tidak hanya mengawasi kepatuhan pelaku pasar, tetapi juga berfungsi sebagai penghubung antara regulator, pelaku usaha, dan investor.

Posisi ini memastikan keputusan strategis OJK dapat diterima secara luas, menjaga stabilitas sistem keuangan, dan memperkuat kepercayaan publik terhadap pasar modal Indonesia.

Tantangan di Tengah Gejolak Pasar

Penunjukan Hasan bertepatan dengan periode gejolak pasar modal.

Pada 28 Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok lebih dari 7 persen setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menunda rebalancing indeks saham Indonesia, terkait sorotan atas konsentrasi kepemilikan saham dan potensi manipulasi harga.

Tekanan pasar terus berlanjut, bahkan sempat menyentuh penurunan lebih dari 10 persen pada hari berikutnya.

Kehadiran Hasan dalam pucuk pengawasan OJK dianggap krusial untuk menstabilkan pasar.

Pengalaman panjangnya dalam sistem kliring dan pengawasan efek menjadi modal untuk memastikan perdagangan berjalan transparan dan investor mendapatkan informasi yang akurat.

Selain itu, pengawasan aset digital dan bursa karbon di bawah kepemimpinannya menjadi penting untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam ekonomi hijau dan inovasi teknologi keuangan.

Fokus pada Inovasi dan Perlindungan Investor

Hasan Fawzi dikenal memiliki visi kuat dalam pengembangan pasar modal modern, termasuk pemanfaatan teknologi keuangan dan aset digital.

Dengan meningkatnya adopsi fintech, aset kripto, dan instrumen derivatif, peran Hasan menjadi sentral dalam memastikan ekosistem pasar modal Indonesia aman, kompetitif, dan transparan.

Selain itu, Hasan turut memperkuat perlindungan investor dengan memperketat pengawasan terhadap perilaku pelaku pasar.

Pendekatan ini tidak hanya menjaga stabilitas, tetapi juga meningkatkan kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor domestik maupun global.

Harapan Publik dan Industri

Penunjukan Hasan Fawzi menimbulkan harapan besar di kalangan pelaku pasar dan investor.

Ia dianggap mampu menghadirkan kebijakan yang tegas, profesional, dan berpihak pada integritas pasar.

Dengan pengalaman lintas sektor dan pemahaman mendalam soal teknologi keuangan, Hasan diharapkan menjadi sosok yang mampu memulihkan kepercayaan pasar pasca gejolak IHSG serta memastikan pengembangan pasar modal digital berjalan optimal.

Dalam konteks ini, publik menunggu arah baru kebijakan OJK, terutama dalam mengatur inovasi fintech, aset digital, dan perdagangan derivatif.

Kepemimpinan Hasan menjadi kunci bagi OJK untuk menjaga keseimbangan antara inovasi dan regulasi, serta melindungi kepentingan investor.

Hasan Fawzi bukan sekadar pejabat pengganti di OJK. Dengan latar belakang pendidikan teknik, pengalaman panjang di sistem kliring dan bursa efek, serta reputasi yang solid di industri keuangan, ia menjadi sosok strategis di tengah tantangan pasar modal Indonesia.

Penunjukan ini bukan hanya untuk menjaga stabilitas, tetapi juga menandai era baru pengawasan aset digital, derivatif, dan inovasi fintech yang semakin kompleks.

Dengan Hasan Fawzi di pucuk pengawasan, OJK diharapkan mampu menghadirkan pasar modal yang lebih transparan, aman, dan adaptif terhadap perubahan teknologi, sekaligus memulihkan kepercayaan investor di tengah dinamika ekonomi global.

(Bangkapos.com/Zulkodri)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.