Warga Bangun Jembatan Darurat di Sungai Beringin Semarang di Tengah Harap-harap Cemas Cuaca Ekstrem
February 01, 2026 04:54 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sekitar seratus warga turun ke dasar sungai beringin di Tambaksari, Kelurahan Mangkang wetan, Kecamatan Tugu, Minggu (1/2/2026).

Mereka bekerja bahu-membahu untuk membangun jembatan darurat yang nantinya digunakan aktivitas harian oleh warga sekitar.

Meski warga harap-harap cemas, dengan arus yang kencang dan berpotensi merubuhkan kembali jembatan darurat itu.

Beberapa pria terlihat menghaluskan bambu dengan parang, tali ditarik kencang, beberapa orang terlihat menginjak bambu untuk menancapkan ke tanah.

Baca juga: Potret Kirab Ritual Bwee Gee di Kudus, Ada Atraksi Tusuk Pipi Dengan Besi

Baca juga: Detik-detik Polisi Mencoba Kabur Setelah Terlibat Kecelakaan Tabrak Lari, Mobil Terjun ke Sungai

Sungai berubah jadi ruang gotong royong, tempat warga merakit jembatan darurat yang akan menyambung kembali kampung mereka.

Sudah lebih dari dua pekan lamanya warga di sisi timur sungai hidup dalam keterbatasan sejak jembatan utama ambrol. 

Sebagai pengingat dampak dari akses terputus, aktivitas terhambat, sampah menumpuk.

Hal itu karena jembatan itu adalah akses utama Kelurahan Mangkang wetan dan Kelurahan Mangunharjo

Bahkan, di sisa-sisa reruntuhan jembatan lama, bangkai seekor kambing sempat terlihat tersangkut, jadi penanda betapa kerasnya arus saat debit sungai naik.

Ketua RW 7 Tambaksari, Sumadi, menyebut kondisi itu benar-benar membuat warga terisolir.

“Alhamdulillah ya, selama dua minggu ini warga terus terang kesulitan akses penghubung. Dengan adanya jembatan darurat ini, setidaknya bisa membantu warga untuk penyeberangan,” ujarnya di lokasi.

Menurut Sumadi, saat jembatan ambrol, berbagai akses lumpuh total, termasuk pengelolaan sampah.

“Waktu jembatan ambrol, sampah enggak bisa ke TPS. Jadi sementara ditaruh di pinggiran tambak, dikumpulkan di sana dulu,” katanya.

Di RW 7 Tambaksari, sekitar 170 keluarga terdampak langsung. Mayoritas warganya bekerja sebagai nelayan, yang sehari-hari sangat bergantung pada akses keluar masuk kampung.

“Pas jembatan ambrol itu semua terisolir,” ucap Sumadi.

Jembatan darurat ini dirancang agar bisa dilalui pejalan kaki dan sepeda motor, meski dengan pembatasan ketat.

“Nanti enggak bareng-bareng. Satu-satu,” katanya.

Strukturnya menggunakan bambu sebagai dasar, dengan lantai dari papan, serta gedek bambu di sisi kanan-kiri sebagai pengaman agar pengendara tidak melihat langsung ke bawah sungai.

“Ini cuma darurat. Yang penting aman,” ujarnya.

Sementara itu, Lurah Mangkangwetan, Benny Irawan, menjelaskan bahwa pembangunan jembatan dilakukan masyarakat dengan dukungan kecamatan serta unsur TNI dan Polri.

“Hari ini bersama-sama membangun jembatan darurat dari bambu petung. Ini upaya masyarakat, disupport kecamatan dan pihak-pihak terkait,” kata Benny.

Jembatan darurat tersebut memiliki panjang sekitar 30 hingga 36 meter, dengan lebar sekitar 1,5 meter.

“Awalnya untuk pejalan kaki, tapi diupayakan bisa dilewati sepeda motor dan gerobak sampah. Kalau enggak, sampah enggak bisa dibuang ke TPS di seberang,” jelasnya.

Untuk pembangunan ini, warga membeli sekitar 40 batang bambu, dengan estimasi biaya mencapai Rp20–35 juta. 

Proses pengerjaan ditargetkan selesai dalam tiga hari, termasuk tahap finishing.

Benny menjelaskan, jembatan lama yang ambrol sebenarnya sudah berbahan cor dan besi. Namun, pondasi besinya tergerus arus sungai saat debit air tinggi.

“Air terus menggerus, besinya hanyut, jembatannya ambles, lalu hilang saat banjir kemarin,” katanya.

Jembatan lama dipastikan tidak dibangun kembali di titik yang sama karena terkendala pembebasan lahan. 

Lokasi jembatan darurat saat ini dipilih karena berada di jalur umum, tanpa melewati lahan milik warga.

Terkait cuaca ekstrem yang diperkirakan masih berlangsung hingga Februari, Benny mengakui ada kekhawatiran. Namun konstruksi sudah disesuaikan.

“Selama tidak kena air langsung, kemungkinan kuat. Tiang tidak dipasang persis di tengah sungai, ketinggiannya juga setara talud,” ujarnya.

Meski begitu, jembatan bambu ini tetap hanya bersifat sementara. 

Warga dan pemerintah kelurahan masih berharap adanya jembatan permanen yang lebih aman dan layak.

Di tengah arus Sungai Beringin yang tak bisa ditebak, warga Tambaksari memilih tidak menunggu. 

Mereka menuruni sungai, memikul bambu, dan membangun jalan pulang mereka sendiri pelan, sederhana, tapi bersama. (Rad)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.