Potret Kirab Ritual Bwee Gee di Kudus, Ada Atraksi Tusuk Pipi Dengan Besi
February 01, 2026 04:54 PM

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Lantunan doa menggema dari dalam altar di Kelenteng Hok Hien Bio Kudus yang terletak di Jalan Ahmad Yani, Desa Getaspejaten, Kecamatan Jati, Kudus, Minggu (1/2/2026).

Doa-doa yang dipanjatkan itu berharap agar keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan menyelimuti umat manusia.

Saat doa-doa itu dipanjatkan, sebagian umat Tionghoa mengikutinya dengan menelakupkan tangan tepat di dada atau di kepala. Sebagian lainnya di sela-sela telakupan tangannya terdapat hio atau dupa yang ujungnya telah dibakar.

Mereka berdoa dalam kondisi saksama dan khusyuk. Doa itu dipanjatkan sebelum memulai kirab. Kirab ini merupakan bentuk penghormatan umat Tionghoa atas Hok Tek Ceng Sin atau Dewa Bumi.

Baca juga: Detik-detik Polisi Mencoba Kabur Setelah Terlibat Kecelakaan Tabrak Lari, Mobil Terjun ke Sungai

Baca juga: Ini Dugaan Penyebab Jalan Sumberrejo Kaliwungu Kendal Sering Banjir

Peringatan penghormatan atas Dewa Bumi yang diselenggarakan setiap tahun di Kelenteng Hok Hien Bio di Kudus ini disebut sebagai Bwee Gee.

Kirab yang dimulai sejak dari Kelenteng Hok Hien Bio ini berjalan menuju Jalan Loekmono Hadi, Jalan Mangga, Jalan Wahid Hasyim, Jalan Sunan Kudus, Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Tanjung, Jalan Pemuda, Jalan Ahmad Yani, dan kembali lagi ke Kelenteng Hok Hien Bio.

Sementara warga sudah memadati seluruh ruas jalan yang dilalui peserta kirab. Mereka setia menunggu kedatangan para peserta kirab.

Kirab dimulai dengan barisan para pelajar yang mengenakan seragam pramuka. Mereka membentangkan spanduk berwarna merah bertuliskan Kirab Ritual Bwee Gee.

Pada barisan para pelajar ini juga membawa delapan Sang Saka Merah Putih yang membuka jalannya kirab.

Di belakang para pelajar, diikuti peserta kirab dari berbagai kelenteng di Tanah Air. Tercatat ada sebanyak 32 kelenteng dari berbagai daerah di Indonesia yang terlibat dalam kirab kali ini.

Kehadiran mereka tidak sekadar ikut kirab, melainkan juga membawa kongco untuk dikirab menggunakan tandu. Tak jarang pula dalam memikul tandu kongco, mereka sembari menggoyang-goyangkannya bak gerakan atraktif.

Yang membuat penonton kirab tertarik di antaranya karena ada atraksi liong atau tarian naga. Atraksi ini khas datang dari Tanah Tiongkok. Selain itu di sela-sela kirab juga terdapat peserta yang menampilkan atraksi tusuk pipi menggunakan besi tajam.

Penampilannya membuat ngilu para penonton kirab. Tidak jarang mereka juga harus mengernyitkan dahi dan menutup kedua matanya saat atraksi itu ditampilkan.

Putri Nadila merupakan satu di antara warga Kudus yang tidak pernah melepaskan kesempatan untuk menonton kirab setiap tahunnya.

Perempuan 22 tahun asal Kelurahan Mlati Kidul, Kecamatan Kota Kudus tersebut selalu menanti hadirnya kirab Bwee Gee yang digelar rutin setiap sepekan atau dua pekan sebelum jatuhnya Tahun Baru Imlek.

“Yang terkesan saya melihat tarian naga atau liong. Bagus menurut saya. Lagian adik saya juga ikut memainkan liong,” ucap perempuan berkerudung itu.

Selain tari liong, dia juga terkesima saat melihat atraksi tusuk pipi menggunakan besi tajam. Kemudian suasa kian meriah saat peserta kirab menyalakan petasan renteng. Suara gemeretak menggema di antara barisan peserta kirab yang kemudian disambut tepuk tangan meriah penonton.

Penasihat Kelenteng Hok Hien Bio Kudus, Liong Kuo Tjun, mengatakan, tema yang diambil dalam Kirab Bwee Gee kali ini yaitu tolak balak agar Bangsa Indonesia terhindar dari malapetaka dan wabah penyakit.

Berbagai rangkaian doa dan ritual kirab seluruhnya dipersembahkan untuk Dewa Bumi. Dewa yang dipercaya mampu memberikan kesejahteraan kepada umat manusia.

“Kenapa ada kirab, ini seperti prosesi yang kami harapkan Dewa-Dewa mengunjungi umat-umatnya untuk memberi berkah,” kata Liong.

Doa-doa yang dipanjatkan selama ritual bertujuan untuk menguatkan hati dalam menghadapi berbagai ancaman bencana. Apalagi Kabupaten Kudus tempo hari dilanda banjir dan tanah longsor.

Hal ini, kata Liong, membuat sejumlah kelenteng mengurungkan kehadirannya untuk ikut serta dalam Kirab Bwee Gee.

“Karena dipikirnya Kudus tenggelam karena banjir gara-gara kabar di media sosial. Kalau tahun sebelumnya bisa diikuti lebih dari 60 kelenteng,” kata Liong. Saat ini, yang tercatat ikut hanya 32 kelenteng dari berbagai daerah di Tanah Air.

Kini ritual Kirab Bwee Gee telah selesai digelar. Ritual setahun sekali yang rutin diselenggarakan di Kelenteng Hok Hien Bio Kudus bagi Liong Kuo Tjun merupakan harapan atas kesejahteraan umat manusia.

Selain itu harapan yang juga tersemat yaitu adanya perbaikan umat manusia dari seluruh aspek dan bentuk apresiasi atas Dewa Bumi yang selama ini telah menyertai umat manusia.

“Juga untuk mendoakan pemimpin bangsa agar mendapat perlindungan, kesehatan, dan kemampuan yang memadai untuk memimpin bangsa dengan baik. Mereka para pemimpin bangsa harapannya siap memberi suri tauladan yang positif untuk kami rakyat Indonesia. Makanya kami yakin penuh Indonesia akan melesat sebagai salah satu negara yang disegani di dunia,” katanya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.