TRIBUNJAKARTA.COM - Pedagang es gabus, Suderajat (49) menerima hujatan setelah mendapatkan simpati dari masyarakat.
Pedagang es gabus yang terkena fitnah oknum aparat itu kini dipermasalahkan mengenai klaim bantuan dan tempat tinggalnya.
Pasalnya, Suderajat sempat mengaku mengontrak rumah selama bertahun-tahun kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Namun, pengakuan Suderajat dibantah oleh Ketua RW setempat.
"Sebenarnya orang tuanya (Suderajat) beliin rumah tahun 2007. Setelah dibelikan, dia tinggal bersama istrinya dan ketiga anaknya saat itu," kata Ketua RW seperti dikutip dari YouTube Dedi Mulyadi pada Kamis (29/1/2026).
Mendengar penjelasan Ketua RW, Dedi langsung menegur Suderajat karena dianggap tidak jujur.
"Babe bilangnya ngontrak, bohong sih. Kenapa sih be bohong terus," katanya.
Suderajat pun mengakui kesalahannya dan meminta maaf.
Tetangga Suderajat lalu menyampaikan bahwa pedagang es gabus itu memiliki keterbatasan mental.
Hal itu berdampak pada cara bicara Suderajat yang kerap berubah-ubah dan tidak konsisten.
Pengakuan itu disampaikan tetangga Suderajat bernama Makmur yang tinggal di depan rumah pedagang es gabus di Bojonggede, Kabupaten Bogor.
Pernyataan Makmur diungkap lewat percakapan video call dengan konten kreator sekaligus pengurus Yayasan Rumah Mans Indonesia, Aminudin.
Ia mengunggahnya di Instagram. Dalam percakapan tersebut, Makmur menjelaskan bahwa Suderajat sebenarnya memiliki rumah sendiri, tetapi kondisinya rusak dan sedang dalam proses renovasi.
Selama itu, Suderajat tinggal di rumah kontrakan yang selama ini sering disangka rumah pribadinya.
"Betul (ngontrak) aslinya punya rumah, cuma kan rumahnya hancur lagi direnovasi. Yang orang datengin itu sebetulnya rumahnya ngontrak," kata Makmur kepada Aminudin.
Makmur menyebut ucapan Suderajat kerap ngalor ngidul dan sulit dipegang.
Ia beralasan karena Suderajat memiliki keterbelakangan mental.
"Dia ini orangnya enggak bisa dipegang omongannya, suka ngalor ngidul suka berubah-berubah bahkan enggak sekali dua kali sering berubah karena pak Ajat Suderajat ini ada keterbatasan mental," jelas Makmur.
Aminudin sendiri menegaskan bahwa ia tidak bermaksud membela Suderajat, tetapi hanya ingin memberikan gambaran tentang kondisi Suderajat.
"Disini saya tidak membela sama sekali Pak Suderajat, tapi saya datang waktu itu tanggal 27 Januari sebelum besoknya ketemu Pak Dedi Mulyadi, dari pagi tanggal 27 itu Pak Suderajat banyak tamu dan saya pun menunggu beliau sampai jam 12 malam karna menunggu giliran, uang donasi memang belum dipakai sama sekali karna baru baru viral, terus saya ngobrol banyak sama anak dan tetangganya memang Pak Suderajat ini agak lain termasuk istrinya yg mengalami susah pendengaran, hari senin saya akan kembali kesana untuk memastikan amanah dari teman teman dipergunakan dengan baik atau untuk keperluan rumah, karna saya masih dipekalongan mengunjungi teman teman disabilitas, terimakasih sehat sehat untuk semua," tulis Aminudin di postingan terkait video percakapannya dengan Makmur.
Kondisi kejiwaan Suderajat dan istri juga disampaikan Camat Bojonggede Tenny Ramdhani.
Awalnya, Tenny Ramdhani mengungkapkan mengenai persoalan tempat tinggal Suderajat.
Tenny Ramdhani menuturkan Suderajat bukan tinggal di kontrakan karena tidak memiliki rumah, melainkan karena rumahnya sedang direhabilitasi melalui program bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).
Selama proses pembangunan berlangsung, Suderajat diungsikan sementara ke kontrakan.
“Dari hasil asesmen, Pak Suderajat sebagai warga kategori miskin. Dia memang punya rumah sendiri. Tapi saat ini rumahnya rusak dan sedang diperbaiki oleh Pemkab melalui program Rutilahu itu, sehingga dia tinggal sementara di kontrakan,” ujar Tenny dikutip dari Kompas.com
Menurut Tenny, proses rehabilitasi rumah Suderajat mulai berjalan sejak Desember 2025.
Ditambah lagi rumah tersebut juga sempat roboh akibat bencana hujan dan angin kencang awal tahun.
Sejak saat itu pula pedagang es gabus ini bersama keluarganya tidak lagi menempati rumahnya sendiri.
Tenny menilai, polemik yang berkembang di media sosial muncul akibat informasi yang tidak utuh mengenai kondisi Suderajat.
Status tinggal di kontrakan kerap dipersepsikan sebagai bukti ketidaksesuaian pernyataan, tanpa melihat konteks rehabilitasi rumah yang sedang berjalan saat ini.
Kemudian, Tenny mengungkapkan hasil asesmen lintas instansi menemukan indikasi disabilitas pada Suderajat dan istrinya.
Hal itu disampaikan di tengah cemoohan publik kepada Suderajat dan beredarnya berbagai rumor kebohongan pedagang es gabus.
Kondisi itu diduga berkaitan dengan gangguan mental pascatrauma, sehingga kemampuan komunikasi verbal keduanya cukup terbatas.
"Lalu kemudian terkait banyak rumor tentang Pak Suderajat, mungkin jawabannya ketika ditanya (Dedi Mulyadi dalam video) selalu berubah-ubah dan terkesan seperti berbohong. Hasil dari asesmen kami, itu terdapat indikasi disabilitas, baik pada Pak Suderajat maupun istrinya," katanya.
Dari hasil asesmen tersebut ada dugaan gangguan mental pascatrauma. Sehingga komunikasi verbal dengan yang bersangkutan memang cukup terbatas dan sulit.
"Apalagi kondisi istrinya bahkan terlihat lebih parah," ungkapnya.
Ia menambahkan, keterangan dari ketua RT dan RW setempat juga menunjukkan adanya keterbelakangan secara psikologis dan mental pada Suderajat.
Kondisi tersebut diduga sudah ada sebelumnya dan diperparah oleh tekanan trauma setelah kejadian (difitnah aparat) serta banyaknya orang yang datang ke rumahnya.
"Kami baru bicara indikasi, ya. Tapi yang terlihat jelas itu istrinya," katanya.
Bahkan Suderajat pun ketika diajak komunikasi oleh ketua RT dan RW di lingkungan sekitarnya terindikasi ada keterbelakangan secara psikologis dan mental.
"Jadi Pak Suderajat itu memiliki disabilitas dan memerlukan perhatian khusus memang. Serta tekanan setelah kejadian (trauma) dan banyaknya orang datang ke rumah saat itu (gak terbiasa ketemu orang banyak)," bebernya.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyoroti sikap pedagang es gabus, Ajat Suderajat, yang sempat viral setelah dituduh menjual es berbahan spons.
Dedi mengungkap pernyataan Suderajat yang dinilai tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Hal itu terungkap saat Dedi bertemu kembali dengan Ajat Suderajat dan Ketua RW setempat.
Dalam pertemuan tersebut, Dedi mengaku menemukan sejumlah keterangan Suderajat yang berbeda dari penjelasan Ketua RW.
Suderajat sebelumnya menyebut anaknya bersekolah di SD negeri.
Namun, menurut Dedi, sekolah anak Suderajat ternyata sekolah swasta.
"Anaknya yang SD swasta, kata babe kemaren sekolahnya negeri. Ini (yang bener) sekolahnya swasta. Aku kan ngomong sama babeh ini, itu sekolah pasti swasta enggak mungkin bayaran. Sekolahnya swasta makanya bayar," ujar Dedi Mulyadi seperti dikutip dari YouTube-nya pada Kamis (29/1/2026).
Namun, Dedi mengatakan semestinya anak Suderajat tak perlu membayar iuran meskipun mengenyam pendidikan di sekolah swasta.
Ia pun berencana akan mengecek ke pemerintah Kabupaten Bogor jika memang masih dimintai iuran oleh pihak sekolah.
"Tapi sekarang masyarakat itu mau di negeri atau swasta kalau pendidikannya dasar SD dan SMP harusnya gratis. Karena sudah ada putusan Mahkamah Konstitusi. Kalau belum gratis, nanti saya urusin ke Pemda Kabupaten Bogornya," jelasnya.
Selain itu, Suderajat juga mengaku hanya mendapatkan warisan sebesar Rp 200 ribu dari orang tuanya.
Akan tetapi, Dedi menilai pernyataan itu tidak sesuai fakta lantaran orang tua Suderajat sudah membelikan rumah sejak 2007.
"Babe ngebohong. Dia bilangnya saya dikasih warisan cuma Rp 200 ribu padahal dikasih rumah tahun 2007. Babe kemaren bilang hanya kebagian 200 ribu," katanya.
Ia lalu menasehati Babe untuk bersikap jujur agar hidupnya lebih baik.
Dedi Mulyadi pun turut menambahkan dana renovasi rumah kepada Suderajat yang kini mendapatkan program Rutilahu (Rumah Tidak Layak Huni) dari pemerintah daerah.
Ia menitipkan dana tambahan renovasi kepada Ketua RW yang memimpin renovasi rumahnya.