Laporan Ramadhan L Q
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA – Sebuah kemenangan instan sering kali menjadi awal dari kehancuran.
Itulah yang dialami Erwin Erlani (26), pemuda yang terjebak dalam pusaran judi online (judol) selama delapan tahun.
Kini, Erwin bangkit dan aktif mengedukasi masyarakat melalui program "JudiPastiRugi".
Baca juga: Begini Cara Wanita Muda Tarik Dana Rekening Nasabah Senilai Rp 7,1 Miliar untuk Judi Online
Berawal dari rasa ingin tahu di bangku SMA pada 2017, Erwin justru kehilangan finansial dan masa depannya sebelum akhirnya memutuskan untuk sembuh.
“Untuk sembuh dari judi online, saya butuh sekitar satu setengah tahun. Tapi kalau dihitung, saya bermain judi online kurang lebih delapan tahun,” ungkap Erwin dalam diskusi di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (29/1/2026).
Pintu Masuk: Kemenangan yang Menipu
Kecanduan Erwin dimulai saat ia membantu temannya melakukan deposit sebesar Rp200 ribu. Tak disangka, mereka menang Rp5 juta—sebuah angka yang jauh melampaui UMR daerahnya kala itu.
“Waktu itu deposit Rp200 ribu, menang Rp5 juta. Dibagi dua, saya pegang Rp2,5 juta. Di tahun itu, angka tersebut sangat besar, apalagi UMR di daerah saya masih sekitar Rp1,7 juta,” tuturnya.
Kemenangan ini merusak pola pikirnya, menciptakan ilusi bahwa uang bisa didapat dengan mudah tanpa kerja keras.
Dampak Domino: Bohong hingga Jual Aset
Demi memenuhi hasrat berjudi, Erwin mulai melakukan berbagai cara untuk mendapatkan modal. Ia membohongi orang tuanya dengan dalih kebutuhan kuliah, padahal ia adalah penerima beasiswa.
Puncak kehancurannya terjadi dalam dua tahun terakhir sebelum ia berhenti. Meski sudah memiliki pekerjaan dengan gaji tinggi di proyek smelter Sumbawa Barat, uangnya selalu habis tak bersisa.
“Setiap gajian selalu saya habiskan untuk judi. Selalu all-in,” ungkap Erwin. Dalam kurun waktu tersebut, total kerugiannya mencapai sekitar Rp800 juta.
Mengapa Sulit Berhenti?
Menurut Erwin, jebakan paling mematikan dalam judi online bukanlah keinginan untuk kaya, melainkan obsesi untuk menutupi kekalahan sebelumnya.
“Di awal kita berharap menang. Tapi lama-lama, kita cuma ingin balikin kekalahan. Itu yang bikin susah berhenti,” jelasnya.
Beruntung, dukungan keluarga menjadi titik balik Erwin untuk pulih. Kini, ia telah menjangkau 66 kabupaten/kota dalam delapan bulan terakhir untuk mengampanyekan bahaya judol yang kini marak dipromosikan oleh influencer.
“Perjuangan ini tidak berhenti, dan akan terus kami lanjutkan agar judi online benar-benar bisa hilang dari Indonesia,” pungkasnya.