Harga Emas Sempat Tembus Rp 3,16 Juta Per Gram, Begini Saran Pengamat ULM
February 02, 2026 12:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Pergerakan harga emas yang sempat menembus Rp 3,16 juta per gram tidak lagi dapat dibaca sebagai fluktuasi pasar yang wajar. Skala dan kecepatan kenaikannya menunjukkan perubahan preferensi risiko pelaku ekonomi global yang signifikan. 

Dalam situasi meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia, mulai dari potensi resesi global, eskalasi konflik geopolitik, hingga kemungkinan keterlibatan Amerika Serikat terhadap Iran, emas kembali berfungsi sebagai jangkar perlindungan nilai yang paling dipercaya.

Secara historis, lonjakan harga emas hampir selalu beriringan dengan fase krisis atau menjelang perlambatan ekonomi global. 

“Pada krisis keuangan 2008 dan pandemi 2020, emas menguat tajam ketika kepercayaan terhadap aset finansial dan prospek pertumbuhan melemah. Pola serupa terlihat saat ini,” ujar Pengamat Ekonomi dari ULM, Prof Handry Imansyah. 

Dikatakan Handry, di dalam negeri, sentimen kehati-hatian ini diperkuat faktor institusional. Pengunduran diri salah satu Deputi Gubernur Bank Indonesia disertai pergantian pejabat yang memiliki kedekatan politik dengan presiden, memunculkan persepsi pasar mengenai potensi berkurangnya independensi bank sentral.

Dalam ekonomi modern, independensi bank sentral adalah fondasi utama kredibilitas kebijakan moneter. 

“Sekalipun belum tentu tercermin dalam arah kebijakan aktual, persepsi pasar memiliki daya pengaruh yang nyata. Ketika kredibilitas institusional mulai dipertanyakan, respons pasar hampir selalu defensif dan emas menjadi tujuan utama,” katanya.

Apabila tekanan global ini berlanjut, dampak paling cepat di tingkat daerah akan muncul melalui kenaikan harga barang, terutama produk impor atau barang dengan kandungan impor tinggi. 

Pelemahan nilai tukar dan meningkatnya biaya distribusi akan langsung menekan daya beli masyarakat. 

Dampak ini tidak terbatas pada investor atau pemilik emas, tetapi dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat melalui inflasi harga kebutuhan sehari-hari.

“Pesan kepada masyarakat harus jelas dan proporsional: tidak perlu panik, tetapi perlu waspada. Lonjakan emas adalah cermin dari ketidakpastian global, bukan alasan untuk kepanikan domestik. Dalam fase seperti ini, yang paling menentukan stabilitas ekonomi bukan spekulasi, melainkan kredibilitas kebijakan, ketahanan institusi, dan ketenangan publik,” ujar Handry. (Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.