BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Jaruk Tigarun. Nama yang terbilang asing pada masa kekinian sekarang ini. Namun jika orang Banjar terdahulu mendengar istilah itu disebut, akan terbayang salah satu menu tradisional.
Jaruk tigarun ini berbahan tanaman tigarun yang biasa tumbuh di daerah perdesaan. Tanaman tigarun ini diambil bagian tangkai yang berbunga.
Konon, bahan utama makanan ini hanya ada di banua Kalimantan terutama Kalimantan Selatan.
Tak heran di pasar tradisional di Kalsel cukup banyak yang menjualnya, harga yang ditawarkan untuk jaruknya Rp 5.000 isi 3 hingga 4 ikat per bungkusnya.
Bila ingin mengolah sendiri bisa membeli ikatan yang masih segar hanya Rp 500 per ikat, namun untuk mendapatkannya harus membeli di perdesaan diantaranya kawasan sungai Tabuk, pasar Martapura dan Banyu Irang.
Sarman, warga Sungai Tabuk yang menjual bunga Tigarun, mengatakan, biasanya pedagang dari pasar Sentra Antasari yang mengambil di tempatnya.
"Untuk tigarun yang belum diolah saya menjual Rp 500 per ikat, lumayan banyak yang memesan," ujarnya.
Pohon tigarun masih lumayan banyak tumbuh di daerah tempat tinggalnya, bila musim berbunga, langsung dipetik agar tidak sempat tua.
Dikatakan Jainah, cara pengolahannya, relatif mudah dan masyakarat orang Banjar banyak yang bisa membikinkan, jaruk Tigarun ini bisa diolah sendiri di rumah.
Nah caranya, setelah tangkai bunga tigarun dibersihkan kemudian ditaruh di toples dan direndam dengan air hangat kuku, rendam minimal 3 hari dan selebihnya bisa berhari-hari. "Jaruk tigarun ini semakin lama di direndam rasanya akan semakin enak," ujar Janiah,
Proses perendaman atau permentasi akan memunculkan aroma khas. Bila ingin menyantapnya, ambil jaruk tigarun tempatkan dalam wadah, bisa ditambahkan garam maupun micin, kemudian disantap dengan sambal. (banjarmasinpost.co.id/salmah saurin)