Saham Gorengan Resahkan Investor, Pemain Pemula di Kalsel Pilih Hati-hati
February 02, 2026 08:41 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Anjloknya harga saham di Indonesia dan munculnya isu saham gorengan yang akan diselidiki Mabes Polri menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor pemula di Kalimantan Selatan, khususnya mahasiswa.

Beberapa pemain saham muda yang ditemui BPost, Minggu (1/2), mengaku bakal lebih berhati-hati dalam bertransaksi menyusul anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menutup pasar pada Rabu (28/1/2026) dan Kamis (29/1/2026). Terlebih setelah sejumlah petinggi BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengundurkan diri pada Jumat (30/1).

Kehati-hatian semakin ditingkatkan setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan IHSG anjlok akibat rekomendasi Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang merupakan perusahaan keuangan Amerika Serikat (AS), serta akibat saham gorengan.

Pasto, warga Banjarmasin, bahkan mengaku resah mendengar maraknya saham yang harganya dimanipulasi untuk menarik pembeli tersebut. Terlebih dia baru mulai berinvestasi saham dalam dua tahun terakhir sehingga keterbatasan pengalaman dan informasi.

“Jujur agak takut, apalagi saya masih pemula. Takutnya ikut-ikutan rekomendasi di media sosial, ternyata saham gorengan,” ujarnya.

Baca juga: Pemain Saham Banjarmasin Waspada, BEI Setop Sementara

Selama ini, Pasto mengaku memilih saham berkapitalisasi besar (blue chip), terutama di sektor perbankan dan consumer goods. Modal yang ia putar pun relatif kecil.

“Kadang kalau ada uang lebih Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta, dibeli sedikit demi sedikit. Anggap investasi kecil-kecilan,” tuturnya.

Hal serupa disampaikan Nabila (20), mahasiswi yang baru setahun terjun ke pasar modal. Ia mengaku sempat tertarik saham lapis dua dan tiga karena iming-iming laba cepat.

“Dulu sempat main di saham second liner, tapi sekarang lebih fokus ke yang fundamentalnya jelas. Modal saya sekitar Rp 3 juta, jadi nggak berani ambil risiko besar,” ujarnya.

Menurut Nabila, kabar penegakan hukum terhadap praktik manipulasi saham menjadi pengingat penting bagi investor pemula agar tidak hanya tergiur keuntungan instan.

“Sekarang jadi lebih rajin baca laporan keuangan dan ikut kelas pasar modal kampus. Isu ini bikin kami sadar pentingnya literasi,” ujarnya.

Penting literasi juga disampaikan Eky, warga Banjarmasin. Dia bahkan memiliki pengalaman pahit menjadi investor saham pada 2021.

Tergoda untung banyak dalam waktu singkat, ia tidak segan merogoh kocek dalam untuk membeli saham Wico dan Gama.

Tindakan itu dilakukan pemain saham pemula tersebut setelah mencari tahu melalui sejumlah grup diskusi di media sosial. Mulanya ia hanya bermodal Rp 200 ribu lalu menambah hingga menjadi Rp 10 juta.

“Saat itu pandemi Covid-19 dan saya perlu dana buat penelitian tugas akhir kuliah. Jadi saya putuskan sedikit nekat beli saham,” ujarnya.

Eky, yang baru belajar pasar modal beberapa bulan, merasakan serunya bermain saham. Saat nilai saham yang dibelinya mulai turun, ia bahkan masih optimistis akan ada kenaikan. Namun harapannya musnah saat saham Wico dan Gama anjlok dan masuk daftar pembekuan BEI. Uang yang ia tanam di pasar modal pun lenyap. Usai kejadian itu, ia memutuskan berhenti sementara.

Tak jera, beberapa bulan kemudian Eky kembali masuk pasar saham.  

“Setelah rugi itu saya jadi belajar lebih hati-hati dan tidak emosional dalam berinvestasi. Walaupun sebenarnya saat itu saya merasa hancur sekali karena uang tabungan habis,” kenangnya.

Baca juga: Tren Pelemahan Rupiah di Tengah Penguatan Harga Saham

Representative Officer IPOT Banjarmasin, Firda Yusliani, menjelaskan istilah saham gorengan sering dipakai investor atau trader untuk menyebut saham dengan pergerakan harga yang tidak sejalan dengan fundamental perusahaan.

BEI sebenarnya memiliki mekanisme untuk memantaunya. “Kalau ada saham yang harganya bergerak tidak wajar, BEI akan memberikan sinyal kepada investor atau trader dan bahkan bisa menghentikan perdagangannya,” terangnya, Minggu. (msr/naa)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.