Bacaan Injil Katolik Hari Ini Senin 2 Februari 2026 dan Renungan Harian Katolik
February 02, 2026 08:47 AM

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak bacaan Injil Katolik hari ini Senin 2 Februari 2026.

Bacaan injil katolik hari ini lengkap renungan harian Katolik.

Senin 2 Februari 2026 merupakan hari Senin, Pesta Yesus dipersembahkan di Kenizah, Beata Eugenia de Smet, Perawan, Santa Yoana Lestonac, Janda, Beato Theofanus Venard, Martir, dengan warna liturgi putih.

Adapun bacaan liturgi Katolik hari Senin 2 Februari 2026 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 2 Februari 2026, Terang bagi Bangsa-bangsa

Bacaan Pertama Maleakhi 3:1-4

"Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya."

Beginilah firman Tuhan semesta alam, “Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Tuhan yang kamu cari itu dengan mendadak akan masuk ke bait-Nya.

Malaikat perjanjian yang kamu kehendaki itu sesungguhnya, Ia datang. Siapakah yang dapat tetap berdiri apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia laksana api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. 

Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan kurban yang benar kepada Tuhan. 

Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati Tuhan seperti pada hari-hari dahulu kala, dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm 24:7.8.9.10

Ref. Bukalah pintu hatimu, sambutlah Raja Sang Kristus.

Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan bukalah dirimu lebar-lebar, hai pintu-pintu abadi, supaya masuklah Raja Kemuliaan!

Siapakah itu Raja Kemuliaan? Tuhan, yang jaya dan perkasa, Tuhan yang perkasa dalam peperangan!

Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan bukalah dirimu lebar-lebar, hai pintu-pintu abadi, supaya masuklah Raja Kemuliaan.

Siapakah itu Raja Kemuliaan? Tuhan semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!

Bait Pengantar Injil: Lukas 2:32

Ref. Alleluya, alleluya, alleluya

Dialah terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel. Alleluya.

Bacaan Injil: Lukas 2:22-40

"Mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu."

Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat Musa, Maria dan Yusuf membawa Anak Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan, “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah.” 

Juga mereka datang untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Waktu itu adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. 

Ia seorang yang benar dan saleh hidupnya, yang menantikan penghiburan bagi Israel; Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Atas dorongan Roh Kudus, Simeon datang ke Bait Allah. 

Ketika Anak Yesus dibawa masuk oleh orang tua-Nya, untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, Simeon menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya, 

“Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” Yusuf dan Maria amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Anak Yesus. 

Lalu Simeon memberkati mereka, dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel, dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri - , supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

Ada juga di situ seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer, namanya Hana. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah menikah, ia hidup tujuh tahun bersama suaminya, dan sekarang ia sudah janda, berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah, dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. 

Pada saat Anak Yesus dipersembahkan di Bait Allah Hana pun datang ke Bait Allah, dan bersyukur kepada Allah serta berbicara tentang Anak Yesus kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. 

Setelah menyelesaikan semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah Maria dan Yusuf serta Anak Yesus ke kota kediamannya, yaitu Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik 

“Terang bagi Bangsa-Bangsa, dan Kemuliaan bagi Israel” Lukas 2:22–40

Datang kepada Tuhan dengan Tangan Terbuka

Ada momen-momen dalam hidup ketika kita datang kepada Tuhan bukan untuk meminta, tetapi untuk mempersembahkan. Bukan membawa prestasi, tetapi membawa diri. Bukan membawa jawaban, tetapi membawa kehidupan apa adanya.

Injil hari ini, Lukas 2:22–40, mengisahkan Maria dan Yosef yang membawa Yesus kecil ke Bait Allah untuk mempersembahkan-Nya kepada Tuhan. Sebuah tindakan sederhana, sunyi, dan penuh makna. Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada mukjizat besar. Hanya ketaatan, doa, dan perjumpaan.

Namun justru di tengah kesederhanaan itulah, Allah menyatakan sesuatu yang agung: Terang telah datang ke dunia.

Dalam renungan Katolik harian Lukas 2:22–40, kita diajak masuk ke dalam suasana Bait Allah, bertemu dengan Simeon dan Hana, dan belajar tentang iman yang menunggu, mata yang melihat, serta hati yang bersedia melepaskan.

Yesus Dipersembahkan: Iman yang Hidup dalam Ketaatan

Maria dan Yosef datang ke Yerusalem untuk melakukan dua hal: penyucian menurut hukum Musa dan mempersembahkan anak sulung kepada Tuhan. Mereka datang bukan karena perasaan, tetapi karena ketaatan.

Menariknya, mereka membawa persembahan orang kecil: sepasang burung tekukur atau dua anak burung merpati. Ini tanda bahwa Keluarga Kudus bukan keluarga kaya. Mereka sederhana. Tetapi justru dalam kesederhanaan itulah, Putra Allah masuk ke dalam sejarah manusia.

Dalam renungan Katolik tentang Yesus dipersembahkan di Bait Allah, kita diingatkan bahwa Tuhan tidak menunggu kita menjadi “cukup layak” untuk datang kepada-Nya. Ia hadir justru di tengah hidup yang sederhana, terbatas, bahkan rapuh.

Refleksi:

Apa yang kubawa ketika datang kepada Tuhan? Topeng? Atau hidupku apa adanya?

Simeon: Iman yang Menunggu dengan Setia

Di Bait Allah ada seorang bernama Simeon. Kitab Suci menyebut dia sebagai orang benar dan saleh, yang menantikan penghiburan bagi Israel. Ia tidak terkenal. Ia bukan imam besar. Ia hanya seorang tua yang setia menunggu janji Tuhan.

Dan Roh Kudus menuntunnya hari itu ke Bait Allah.

Ini penting: Simeon tidak sekadar menunggu waktu berlalu. Ia menunggu dalam Roh. Ia hidup terbuka, peka, dan setia.

Ketika ia menggendong bayi Yesus, ia memuji Allah:

“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera… sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu.”
Dalam renungan Katolik tentang terang, Simeon adalah gambaran orang beriman yang tidak hidup dari sensasi, tetapi dari pengharapan.

Refleksi:

Apakah imanku masih bisa menunggu tanpa mengeluh?

Apakah aku masih percaya bahwa Tuhan bekerja meski belum kulihat hasilnya?

Yesus, Terang bagi Bangsa-Bangsa

Simeon menyebut Yesus sebagai:

“Terang yang menyinari bangsa-bangsa dan kemuliaan bagi umat-Mu Israel.”
Ini bukan hanya nubuat, tetapi pernyataan identitas.

Yesus bukan hanya terang untuk satu kelompok, satu bangsa, atau satu generasi. Ia adalah terang bagi semua.

Terang bukan hanya untuk dilihat, tetapi untuk menerangi. Terang menyingkapkan. Menghangatkan. Menunjukkan jalan.

Dalam renungan Injil hari ini, kita diingatkan bahwa iman Katolik bukan sekadar tradisi, tetapi perjumpaan dengan Terang yang masuk ke dalam kegelapan manusia.

Dan terang ini tidak memaksa. Ia hadir, lalu menunggu kita membuka hati.

Nubuat tentang Pedang dan Pertentangan

Menarik bahwa setelah kata-kata penuh damai, Simeon mengucapkan sesuatu yang berat:

“Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel… dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.”
Simeon jujur. Ia tidak menjanjikan iman yang mudah. Ia menegaskan sejak awal: mengikuti Kristus akan menyentuh luka, mengguncang pilihan, dan menuntut keberanian.

Yesus adalah terang. Tetapi terang juga menyingkapkan. Ia akan memperlihatkan apa yang selama ini tersembunyi.

Dalam renungan Katolik harian ini, kita belajar bahwa iman bukan hanya tentang penghiburan, tetapi juga tentang pembentukan. Tentang dibersihkan. Tentang diarahkan kembali.

 Hana: Kesetiaan yang Tidak Pernah Terlambat

Selain Simeon, ada juga Hana, seorang nabi perempuan yang sudah sangat tua. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah. Siang dan malam ia beribadah dengan puasa dan doa.

Ketika ia melihat Yesus, ia memuji Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan pembebasan Yerusalem.

Hana menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada usia yang “terlambat” untuk dipakai Tuhan. Tidak ada hidup yang “sia-sia” jika dipersembahkan.

Dalam renungan Katolik remaja, ini menjadi pesan yang kuat: iman bukan soal usia, posisi, atau panggung. Iman adalah soal kesetiaan yang sederhana tetapi utuh.

Yesus Bertumbuh: Allah yang Masuk ke Proses

Injil hari ini ditutup dengan kalimat yang indah:

“Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.”

Yesus tidak langsung tampil sebagai Guru besar. Ia bertumbuh. Ia belajar. Ia hidup dalam keluarga. Ia menjalani proses manusia.

Ini sangat penting bagi iman kita.

Allah tidak menyingkirkan proses. Ia masuk ke dalamnya.

Dalam dunia yang menuntut segalanya cepat, Injil ini meneguhkan: pertumbuhan rohani adalah perjalanan. Tuhan tidak terburu-buru. Ia setia membentuk.

Refleksi:

Apakah aku mengizinkan diriku bertumbuh, atau aku menuntut diriku selalu “sudah jadi”?

Makna bagi Hidup Kita Hari Ini

Melalui Maria dan Yosef, kita belajar tentang mempersembahkan.

Melalui Simeon, kita belajar tentang menunggu.

Melalui Hana, kita belajar tentang kesetiaan.

Melalui Yesus, kita melihat Allah yang menjadi Terang.

Dalam The Katolik renungan harian, Injil ini mengajak kita menata ulang relasi dengan Tuhan.

Bukan hanya datang ketika butuh.

Tetapi datang untuk menyerahkan hidup.

Untuk membiarkan Tuhan menamai siapa kita.

Untuk membiarkan terang-Nya menerangi arah hidup kita.

Refleksi Pribadi

Hari ini, luangkan waktu sejenak:

Apa yang ingin kupersembahkan kepada Tuhan saat ini?
Di bagian mana aku sedang dipanggil untuk menunggu dengan setia?
Kegelapan apa dalam hidupku yang ingin kusentuh oleh terang Kristus?
Bagaimana aku bisa menjadi terang kecil bagi sekitarku?

Doa Penutup

Tuhan Yesus, hari ini Engkau dipersembahkan di Bait Allah, dan Engkau mempersembahkan diri-Mu bagi dunia.

Terangilah hatiku yang sering ragu. Teguhkan langkahku yang sering lelah. Ajari aku menunggu seperti Simeon, setia seperti Hana, dan menyerahkan hidup seperti Maria.

Jadilah Terang dalam hidupku, dan jadikanlah hidupku pantulan terang-Mu. Amin.

Penutup: Datang dan Melihat Terang

Yesus tidak datang sebagai kilat di langit. Ia datang sebagai bayi di Bait Allah. Tetapi justru dari kesederhanaan itu, dunia menerima Terang.

Semoga renungan Katolik harian Lukas 2:22–40 ini menolong para remaja, keluarga, dan komunitas untuk kembali datang kepada Tuhan bukan dengan kesempurnaan, tetapi dengan hati yang terbuka dan membiarkan Kristus menjadi terang bagi perjalanan hidup kita. (Sumber  the katolik.com/kgg).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.