Sagu di Mata Anggota DPRD SBT Gafar Rumonin: Dewa Penyelamat Masyarakat
February 02, 2026 12:52 PM

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Haliyudin Ulima 

BULA, TRIBUNAMBON.COM – Di balik rasanya yang sederhana, sagu menyimpan cerita panjang tentang bertahan hidup, berbagi, dan solidaritas masyarakat di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). 

Kenangan itu masih melekat kuat di ingatan Anggota DPRD SBT, Gafar Rumonin, yang menyebut sagu sebagai “dewa penyelamat” dalam perjalanan hidupnya sejak masa sekolah.

Saat diwawancarai TribunAmbon.com, Senin (2/2/2026), Gafar mengenang masa ketika keterbatasan ekonomi membuat sagu dan kelapa menjadi penopang utama kehidupan para pelajar, terlebih bagi mereka yang menempuh pendidikan di Desa Geser.

“Waktu masih sekolah di Geser, uang susah sekali. Dari pulau mau ke Geser, di dalam tas cuma ada dua hal, kelapa dan sagu. Itu yang bikin kami bisa bertahan,” ujarnya.

Ia bercerita, meski pohon sagu banyak tumbuh di tanah besar, masyarakat kepulauan justru berperan besar dalam proses produksinya. 

Sagu mentah dibeli dari daratan, lalu diolah oleh orang pulau menjadi sagu basah dan sagu kering untuk kebutuhan sehari-hari hingga dijual ke pasar.

“Sagu mentahnya itu di beli dari daerah di tanah besar, tapi kami yang produksi. Di Pasar Geser itu sagu dari Kelfura, dari Namalomin, semuanya orang pulau yang jual,” jelasnnya.

Baca juga: Posting Foto AI Eksotisme Banda Neira di Medsos, Menbud Fadli Zon Tuai Protes 

Baca juga: ‎BTN Manusela Benahi SOP Pendakian Gn Binaiya, Hanya Dibuka tuk Ekspedisi 

Kata dia, pada masa itu, Geser menjadi pusat pendidikan. Pelajar dari berbagai daerah di SBT, berkumpul dan menggantungkan kebutuhan pangan pada hasil bumi masyarakat pulau.

“Itu sumber makanan semua dari kami orang pulau, kelapa dan Sagu. Banyak yang sekarang jadi pejabat, dulu sekolah di Geser dan makan dari hasil itu,” kenangnya.

Ia menyebut, kolaborasi sagu dan kelapa menjadi menu sederhana yang penuh makna. 

Bahkan hingga masa kuliah, sagu tetap menjadi makanan utama yang tak tergantikan.

“Sagu itu sudah idola, primadona. Di rumah boleh ada makanan lain, tapi jangan sampai tidak ada sagu. Kalau ada sagu, celup dengan teh manis saja sudah cukup,” katanya.

Selain nilai historis dan budaya, Gafar juga menyoroti manfaat sagu dari sisi kesehatan.

Menurutnya, sagu baik untuk pencernaan dan menjadi alternatif pangan yang mampu menopang hidup masyarakat dalam kondisi sulit.

Namun, kenangan manis itu kini berbanding terbalik dengan kondisi di lapangan. 

Gafar menyayangkan banyak pohon sagu yang dibiarkan mati tanpa pengelolaan, padahal nilai ekonominya sangat besar.

“Satu pohon sagu bisa bernilai sampai Rp6 juta. Kalau puluhan hektare mati setiap tahun, itu kerugian miliaran rupiah,” tegasnya.

Sebagai wakil rakyat, Gafar mendorong Pemerintah Kabupaten SBT agar serius mengembangkan program hilirisasi sagu.

“Ini bukan lahan kosong. Semua sudah ada pemiliknya. Harus didata dulu supaya pemerintah bisa memediasi dengan baik saat program berjalan,” jelasnya.

Ia berharap, hilirisasi sagu tidak hanya menyelamatkan tanaman sagu yang selama ini terabaikan, tetapi juga mengembalikan martabat sagu sebagai sumber kehidupan dan penggerak ekonomi masyarakat.

“Hari ini sagu belum punya nilai yang terlalu mahal. Tapi kalau program ini jalan, sagu akan bernilai. Pendapatan naik, daya beli masyarakat juga ikut meningkat,” tutupnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.