Laporan Jurnalis TribunAmbon.com, Silmi Sirati Suailo
MALTENG, TRIBUNAMBON.COM - Gunung Binaiya (3.027 mdpl) puncak tertinggi di Provinsi Maluku dan salah satu dari 7 puncak Seven Summits Indonesia.
Terletak di Pulau Seram, Maluku Tengah, gunung non-berapi ini terkenal dengan jalur pendakian panjang melalui hutan hujan tropis dan endemik, yang dapat ditempuh melalui desa Piliana (selatan) atau Kanikeh (utara).
Namun dibalik eksotisme Binaiya ia menyimpan bahaya yang tersembunyi lantaran telah memakan korban saat peristiwa meninggalnya pendaki asal Bogor, Firdaus Ahmad Fauzi pada April 2025 lalu.
Alhasil Balai Taman Nasional (BTN) Manusela masih terus melakukan pembenahan Standar Operasional Prosedur (SOP) hingga pembenahan Sarapan Prasarana (Sarpras).
Oleh sebab itu, pendakian Gunung Binaiya masih belum dibuka hingga saat ini.
Kepala Balai Taman Nasional BTN, Deny Rahadi, mengaku, begitu Sarpras sudah terpenuhi maka jalur pendakian akan coba dibuka.
"Begitu semua terpenuhi maka kita akan coba buka," ujar Deny Rahadi, Senin (2/2/2026).
Baca juga: Kuota Haji Maluku Turun, Pemprov Prihatin Anggaran Hanya Rp. 1 Miliar
Baca juga: Jelang Ramadan, Polda Maluku Minta Warga Lapor Gangguan Kamtibmas ke 110
Ia menegaskan minimal Sarpras dasar terpenuhi, sementara untuk pembenahan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) dilakukan secara bertahap.
Untuk lamanya pembenahan, Deny Rahadi menyampaikan bahwa waktunya relatif, namun yang paling berat ialah peningkatan kapasitas SDM.
"Kalau sarpras kita dapat dukungan kita belanjakan lalu dieksekusi bikin Selter, dan lain-lain," imbuh Deny.
Ia menegaskan, selama menahkodai BTN Manusela dirinya tidak mau main-main dengan nyawa orang.
"Betul-betul menjamin keselamatan (para pendaki)," tegasnya.
Selain itu, Kepala BTN Manusela menyebut, para pendaki wajib memiliki Polis asuransi.
"Jadi pengunjung wajib mengurus asuransinya sendiri," tukas Deny.