TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Berdasarkan data dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) hipertensi atau tekanan darah tinggi masuk dalam urutan pertama penyakit terbanyak di Riau.
Hipertensi menempati urutan pertama dengan total 16.522 sepanjang tahun 2025.
Dalam istilah awam, hipertensi sering disebut 'darah tinggi', kondisi di mana tekanan darah berada di atas batas normal dan berisiko memicu stroke, serangan jantung, serta gagal ginjal jika tidak terkontrol.
Di posisi kedua terdapat Diabetes Mellitus dengan 15.158 kasus.
Penyakit ini dikenal luas sebagai penyakit gula, yaitu kondisi kadar gula darah yang tinggi akibat gangguan produksi atau kerja insulin.
Diabetes dapat menyebabkan berbagai komplikasi, mulai dari gangguan penglihatan, kerusakan saraf, hingga penyakit jantung dan ginjal.
Penyakit ketiga adalah Other Dorsopathies sebanyak 10.103 kasus.
Istilah ini merujuk pada berbagai gangguan tulang belakang dan punggung, seperti nyeri pinggang, sakit punggung kronis, atau masalah pada ruas tulang belakang yang sering dialami akibat postur tubuh buruk atau aktivitas fisik berat.
Baca juga: BPJS Kesehatan Catat Pembiayaan Penyakit Kronis Rp 50,2 Triliun Sepanjang 2025
Selanjutnya, Ischaemic Heart Disease atau penyakit jantung iskemik tercatat sebanyak 9.170 kasus.
Dalam bahasa awam, ini dikenal sebagai penyakit jantung koroner, yaitu kondisi ketika aliran darah ke jantung terhambat akibat penyempitan pembuluh darah, yang dapat memicu nyeri dada hingga serangan jantung.
Jenis penyakit kelima adalah Disease of Oesophagus, Stomach and Duodenum dengan 7.362 kasus.
Penyakit ini mencakup gangguan kerongkongan, lambung, dan usus dua belas jari, seperti maag kronis, radang lambung, hingga luka lambung yang sering ditandai dengan nyeri ulu hati dan gangguan pencernaan.
Di urutan keenam terdapat Chronic Lower Respiratory Disease sebanyak 6.768 kasus.
Penyakit ini dikenal sebagai penyakit pernapasan kronis, termasuk bronkitis kronis dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), yang menyebabkan sesak napas berkepanjangan dan sering dikaitkan dengan kebiasaan merokok.
Penyakit ketujuh adalah Arthrosis dengan total 6.016 kasus.
Arthrosis merupakan pengapuran sendi, kondisi di mana tulang rawan sendi menipis sehingga menimbulkan nyeri, kaku, dan keterbatasan gerak, terutama pada lutut, pinggul, dan tangan.
Berikutnya, Polyneuropathies and Other Disorder of the Peripheral Nervous System tercatat 5.037 kasus.
Dalam istilah awam, penyakit ini dikenal sebagai gangguan saraf tepi, yang sering ditandai dengan kesemutan, mati rasa, nyeri, atau kelemahan otot, dan kerap dialami penderita diabetes.
Di posisi kesembilan terdapat Cerebrovascular Disease sebanyak 5.013 kasus.
Penyakit ini lebih dikenal masyarakat sebagai stroke, yaitu gangguan aliran darah ke otak yang dapat menyebabkan kelumpuhan, gangguan bicara, hingga penurunan fungsi tubuh secara permanen.
Sementara itu, Metabolic Disorders berada di urutan kesepuluh dengan 4.984 kasus.
Gangguan metabolik mencakup kelainan proses metabolisme tubuh, seperti gangguan lemak darah, asam urat, dan kelainan metabolik lain yang sering berkaitan dengan pola makan tidak sehat dan kurang aktivitas fisik.
Data tersebut menunjukkan bahwa penyakit tidak menular, seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung dan lainnya, masih mendominasi pelayanan kesehatan di daerah, dan menjadi penyakit 'mahal' yang menyedot anggaran capai triliunan rupiah yang diklaim oleh masyarakat.
Pembiayaan klaim BPJS Kesehatan di lima daerah wilayah kerja BPJS Kesehatan Cabang Pekanbaru tercatat mencapai Rp2,91 triliun.
Lima daerah tersebut meliputi Kota Pekanbaru, Kabupaten Kampar, Pelalawan, Siak, dan Rokan Hulu.
Dari data tersebut terlihat besarnya beban pembiayaan layanan kesehatan yang ditanggung program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di wilayah Riau bagian tengah.
Berdasarkan data BPJS Kesehatan Cabang Pekanbaru, Kota Pekanbaru menjadi daerah dengan nilai klaim tertinggi.
Total pembiayaan klaim di Pekanbaru mencapai Rp2,32 triliun, atau menyumbang porsi terbesar dibandingkan daerah lain di bawah naungan cabang tersebut.
Tingginya angka klaim ini sejalan dengan jumlah penduduk dan aktivitas layanan kesehatan rujukan yang terpusat di Pekanbaru yang menjadi ibu kota provinsi Riau.
Di posisi berikutnya, Kabupaten Rokan Hulu mencatat pembiayaan klaim sebesar Rp197,62 miliar. Disusul Kabupaten Kampar dengan nilai klaim Rp171,91 miliar, kemudian Kabupaten Pelalawan sebesar Rp130,72 miliar, dan Kabupaten Siak Rp93,27 miliar.
Secara keseluruhan, total klaim dari kelima daerah tersebut mencapai Rp2.919.874.499.047.
Selain nilai pembiayaan, BPJS Kesehatan Cabang Pekanbaru juga mencatat sepuluh jenis penyakit terbanyak yang ditangani melalui program JKN di 5 wilayah tersebut.
(Tribunpekanbaru.com/Alexander)