WARTAKOTALIVE.COM - Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengungkapkan perkembangan terkini negosiasi nuklir Iran dengan Amerika Serikat (AS) yang memperpanas hubungan kedua negara.
Diketahui Presiden AS Donald Trump membenarkan AS dan Iran tengah berunding perihal dengan perkembangan nuklir Iran.
Apabila perundingan tersebut gagal, Trump sesumbar akan menyerang Iran.
”(Iran) sedang berbicara dengan kami dan kita akan lihat apakah kita dapat melakukan sesuatu. Jika tidak, kita akan lihat apa yang terjadi. Armada besar kita menuju ke sana,” kata Trump kepada Fox News.
Meski pembicaraan berlangsung, Trump menambahkan, AS tetap mempertimbangkan ancaman serangan ke Iran.
Washington sudah mengerahkan kelompok amada laut penyerang yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan Timur Tengah. Saat ini kapal induk tersebut sudah berada di lepas pantai Iran.
Terkait dengan hal tersebut, Araghchi kepada CNN menjelaskan bahwa pihak Iran masih optimis dengan pengembangan nuklir damai yang akan direstui oleh AS.
Araghchi yakin Iran dan Amerika Serikat mampu mencapai kesepakatan mengenai isu nuklir.
Sebab kata Araghchi, AS harus menghormati hak-hak Iran untuk pengayaan uranium secara damai.
Araghchi menjelaskan bahwa pertukaran pesan melalui sekutu dan perantara regional terus berlanjut dan sejauh ini bersifat konstruktif.
Tujuan utamanya adalah untuk membangun tingkat kepercayaan timbal balik minimum yang diperlukan untuk melanjutkan negosiasi yang bermakna.
Araghchi menekankan bahwa sanksi AS terhadap Iran harus dicabut sebab Iran sama sekali tidak berniat mengembangkan nuklir untuk militer.
Pada saat yang sama, ia mengatakan Iran siap mengambil langkah-langkah membangun kepercayaan untuk menunjukkan sifat damai dari kegiatan nuklirnya, dengan syarat sanksi dicabut sebagai imbalannya.
Sementara itu Pemimpin Iran Ayatollah Khamenei tidak takut dengan ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Baca juga: Penampakan Kuburan Massal Tentara AS yang Disiapkan Iran
Khamenei memperingatkan Donald Trump bahwa Iran tidak akan pernah memulai peperangan namun tidak akan mundur apabila perang tersebut terpaksa terjadi.
Khamenei mengatakan Iran sudah terbiasa dengan ancaman Amerika Serikat (AS) selama lebih dari 40 tahun ini.
Di masa lalu, AS berulang kali mengancam Iran soal perang. Hal itu terulang kembali di era Donald Trump yang menyinggung soal kapal perang dan sebagainya.
Menurut Khamenei, bangsa Iran tidak perlu takut dengan hal-hal ini. Rakyat Iran tidak terpengaruh oleh ancaman-ancaman ini.
Menurutnya Iran tidak akan pernah memulai perang namun juga tidak akan mundur apabila dipukul terlebih dahulu.
“Kami bukanlah inisiator dan kami tidak ingin menyerang negara mana pun, tetapi bangsa Iran akan memberikan pukulan telak kepada siapa pun yang menyerang dan mengganggunya,” ucap Khamanei.