Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami deflasi bulanan sebesar 0,16 persen pada Januari 2026.
Sementara inflasi tahun ke tahun tercatat 3,30 persen, sedangkan inflasi tahun kalender mengalami deflasi 0,16 persen.
Statistisi Ahli Utama BPS DIY, Sentot Bangun Widoyono, mengatakan deflasi ini didorong oleh penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang turun 1,54 persen.
Kemudian pada kelompok transportasi yang menurun sebesar 0,31 persen.
“Beberapa kelompok pengeluaran juga menurun, seperti misalnya pada kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya, perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga,” katanya, Senin (2/2/2026).
Sentot mengungkapkan komoditas yang memengaruhi deflasi Januari 2026 adalah cabai merah dengan andil deflasi 0,11 persen, daging ayam ras memberikan andil deflasi 0,08 persen, cabai rawit dengan andil deflasinya 0,07 persen, bawang merah dengan andil deflasi 0,05 persen, dan bensin memberikan andil deflasi 0,04 persen.
Namun deflasi Januari 2026 tidak terlalu besar karena masih terjadi ada kenaikan harga komoditas yang cukup berpengaruh.
“Kenaikan harga emas perhiasan yang menyumbang inflasi 0,28 persen, kemudian harga sepeda motor menyumbang 0,02 persen, kacang tanah, bawang putih, dan bayam mengalami kenaikan, sehingga menyumbang inflasi Januari 2026 sebesar 0,01 persen,” terangnya.
Meskipun deflasi lebih lambat, dibandingkan tahun lalu.
Namun masih lebih rendah jika dibandingkan kondisi 2024. Hal ini akan memengaruhi data secara tahunan.
Baca juga: BPS DIY Lakukan Survei Dampak MBG, SPPG hingga Rumah Tangga Jadi Sasaran
Sementara Inflasi secara Januari secara tahunan mencapai 3,30 persen.
Hal ini karena tingkat harga-harga pada Januari 2025 silam lebih rendah. Akibatnya, Januari 2025 terjadi inflasi yang cukup besar.
“Tahun lalu itu terjadi karena ada kebijakan pemerintah yang bersifat nasional, terutama penurunan tarif listrik. Walaupun sebenarnya pada tahun lalu dan sampai sekarang juga masih terjadi gejolak pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, terutama akibat kenaikan harga emas dan perhiasan. Tetapi tahun lalu tidak terlalu terpengaruh, karena ada kebijakan tarif listrik,” jelasnya.
Secara tahunan, kelompok perumahan, air listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil inflasi sebesar 1,35 persen.
Komoditas penyumbang utama pada kelompok ini adalah tarif listrik.
Kelompok lainnya yang turut menyumbang inflasi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil 1,18 persen.
Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini yaitu emas perhiasan. (*)