TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN - Selain kondisi berdebu, beberapa kali siswa merasakan saat hujan deras, air masuk ke dalam gedung eks gudang yang beralih menjadi ruang kelas di SMK Negeri 4 Tarakan, Kalimantan Utara.
Dua siswa SMK Negeri 4 Tarakan Andi Aulia Marsya Madinah dan Keisya Metriapna Hani yang duduk di kelas XI Animasi 2 mengakui, apa yang dikeluhkan orang tua siswa dan menjadi viral di media sosial. dirasakannya langsung.
Andi Aulia, salah satu siswa kelas XI mengungkapkan, kondisi ruang kelas yang berdebu sudah berlangsung sejak awal masuk sekolah di SMKN 4 Tarakan.
“Kalau ruang kelas berdebu itu memang benar. Debunya cukup mengganggu konsentrasi. Kadang ada yang bersin-bersin,” ujar Andi Aulia saat ditemui di sekolah.
Baca juga: Kepala SMK Negeri 4 Tarakan Akui Eks Gudang Jadi Ruang Kelas: Saya Tidak Menutupi, Silakan Dicek
Ia mengatakan, debu berasal dari lantai yang belum dikeramik dan kondisi ruang kelas yang terbuka. Untuk mengurangi debu, siswa terpaksa membersihkan kelas terlebih dahulu sebelum pelajaran dimulai.
“Biasanya kami bersihkan dulu. Disapu tapi dikasih air dulu biar debu tidak terbang ke mana-mana. Hampir setiap hari begitu,” katanya.
Kondisi tersebut, menurutnya, sudah berlangsung sejak mereka duduk di kelas X dan masih dirasakan hingga kini saat berada di kelas XI. “Sejak awal sekolah sudah seperti ini. Dari kelas 10 sampai sekarang,” tambahnya.
Saat musim hujan, persoalan lain muncul. Lorong menuju ruang kelas kerap tergenang air akibat kebocoran.
“Kalau hujan, di lorong sering banjir. Airnya panjang satu lorong. Jadi kami bersihkan dulu banjirnya baru bisa belajar,” kata Keisya.
Baca juga: Eks Gudang di SMK Negeri 4 Tarakan Jadi Ruang Kelas, Siswa Akui Sulit Konsentrasi Belajar dan Panas
Ia menyebut, terkadang siswa harus berjalan di atas papan agar bisa masuk ke ruang kelas tanpa menginjak genangan air.
“Kalau airnya tidak masuk kelas, kami lewati papan-papan supaya bisa masuk. Tapi kalau kelas yang paling terdampak, airnya bisa sampai masuk, terutama di kelas adik-adik kelas 10,” ungkapnya.
Kondisi atap eks gidang terbagi dua mengikuti dua bagian yang didesain. Sehingga di bagian tengah ada spasi atau ruang yang mempertemukan kedua bagian atap. Pada bagian terbuka itu, ditutup oleh seng baja ringan yang didesain sebagai talangan air sehingga air tak masuk ke dalam ruangan.
Namun pengakuan keduanya air tetap masuk lewat talangan tersebut ketika guyuran hujannya terlalu kencang. Padahal sudah pernah diperbaiki dan duganti serta diperbesar talangan airnya.
Kondisi ini cukup mengganggu belajar menjadi tidak maksimal saat hujan maupun saat cuaca panas.
“Kalau hujan, belajarnya tidak maksimal. Sepatu basah, kadang harus dilepas karena banjir di lorong,” ujarnya.
Ia menambahkan, air hujan terkadang masuk ke area dalam kelas meski tidak seluruh ruangan tergenang.
“Masuk sedikit di bagian dekat pintu. Jadi tetap mengganggu,” katanya.
Saat cuaca panas, kondisi ruang kelas juga terasa pengap meski sudah dilengkapi kipas angin.
“Kalau panas, memang panas sekali. Ada yang sampai merasa sesak napas karena panas dan debu,” tuturnya.
Meski demikian, para siswa mengaku berusaha beradaptasi agar tetap bisa mengikuti pelajaran.
“Kalau saya pribadi cari cara sendiri supaya tidak terganggu. Yang penting tetap bisa belajar,” ucapnya.
Keduanya berharap adanya ruang belajar yang lebih layak agar proses belajar mengajar bisa berjalan optimal.
“Harapan kami sederhana, ingin ruang belajar yang lebih layak. Minimal terlindung dari hujan dan panas, dan tidak berdebu,” pungkasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah