Harga Pertalite di Mahulu Tembus Rp29 Ribu, Solusi Pemkab Terbitkan Surat Edaran dan HET Baru
February 02, 2026 11:07 PM

TRIBUNKALTIM.CO, UJOH BILANG – Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu (Pemkab Mahulu) bergerak cepat menyikapi persoalan stok dan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang kerap mencekik warga.

Menyusul Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD Mahakam Ulu, pemerintah berkomitmen memangkas harga eceran yang melambung tinggi di lapangan.

Kondisi geografis Mahakam Ulu yang sangat bergantung pada jalur sungai menjadi tantangan pelik.

Saat musim kemarau, harga Pertalite di tingkat pengecer dilaporkan sempat meroket hingga menembus angka Rp20.000 hingga Rp29.000 per liter.

Baca juga: Sunyinya Dermaga Sungai Kunjang Samarinda, Harga Pangan di Mahulu Kian Meroket 

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Setkab Mahulu, Agustinus Teguh Santoso, menegaskan bahwa pemerintah akan segera menerbitkan Surat Edaran (SE) untuk menertibkan jalur distribusi.

Selain itu, penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang adaptif terhadap kondisi musim akan segera diberlakukan.

Surat edaran tersebut nantinya mengatur keabsahan pangkalan sebagai jalur distribusi resmi dari SPBU atau APMS.

DERMAGA SAMARINDA SEPI - Suasana pelabuhan Sungai Kunjang Samarinda, Kalimantan Timur pada Senin (2/2/2026) siang. Sebanyak 28 kapal masih tambat mati sambil menunggu kepastian SK dari BPH Migas soal Bahan Bakar Minyak subsidi. Dermaga Sungai Kunjang, tak ada aktivitas bongkar muat, warga atau penumpang menunggu dalam cemas, sementara itu para pemilik kapal menanti secarik kertas rekomendasi yang bisa menghidupkan kembali mesin-mesin mereka. 
DERMAGA SEPI AKTIVITAS - Suasana pelabuhan Sungai Kunjang Samarinda, Kalimantan Timur pada Senin (2/2/2026) siang. Sebanyak 28 kapal masih tambat mati sambil menunggu kepastian SK dari BPH Migas soal Bahan Bakar Minyak subsidi. Dermaga Sungai Kunjang, tak ada aktivitas bongkar muat, warga atau penumpang menunggu dalam cemas, sementara itu para pemilik kapal menanti secarik kertas rekomendasi yang bisa menghidupkan kembali mesin-mesin mereka.  (TRIBUNKALTIM.CO/GREGORIUS AGUNG SALMON)

"Termasuk ketentuan kuota harian bagi kendaraan pribadi dan kebutuhan rumah tangga," jelas Agustinus pada Senin (2/2/2026).

Untuk memastikan transparansi, penggunaan sistem barcode akan diperketat di wilayah ibu kota kabupaten seperti Ujoh Bilang.

Sementara itu, bagi wilayah perbatasan yang terkendala jaringan internet, pendataan akan dijembatani melalui surat rekomendasi dari Petinggi (Kepala Desa) atau Camat setempat.

PELABUHAN MATI SURI - Suasana pelabuhan Sungai Kunjang Samarinda pada Selasa, (27/1/2026). Tak ada aktivitas bongkar muat barang, tak ada warga mudik ataupun yang tiba di pelabuhan, Puluhan Kapal sudah Tambat Mati di Dermaga Pelabuhan sejak Sabtu, (24/1/2026). (TRIBUNKALTIM.CO/GREGORIUS AGUNG SALMON)
PELABUHAN MATI SURI - Suasana pelabuhan Sungai Kunjang Samarinda pada Selasa, (27/1/2026). Tak ada aktivitas bongkar muat barang, tak ada warga mudik ataupun yang tiba di pelabuhan, Puluhan Kapal sudah Tambat Mati di Dermaga Pelabuhan sejak Sabtu, (24/1/2026). (TRIBUNKALTIM.CO/GREGORIUS AGUNG SALMON) 

Tidak Memainkan Pasokan BBM

Agustinus juga memperingatkan para pengusaha APMS dan SPBU untuk tidak bermain-main dengan stok. 

Pasalnya, sering ditemukan keluhan bahwa SPBU cepat tutup, namun stok di tingkat pengecer justru selalu melimpah dengan harga mahal.

"Kami mohon perhatian kepada pengusaha APMS dan SPBU, jangan main-main. Kasihan masyarakat, karena merekalah yang paling berhak mendapatkan BBM satu harga ini," tegasnya.

Baca juga: Kapal ke Mahulu Segera Berlayar, Pemerintah Percepat SK BBM Subsidi untuk Angkutan Sungai Mahakam

Tertib Perizinan dan Evaluasi Berkala Dari sisi keamanan, Pemkab menginstruksikan seluruh pangkalan dan pengecer untuk mengurus izin usaha resmi melalui DPMP-TSP.

Langkah ini krusial mengingat BBM adalah komoditas rawan kebakaran yang memerlukan standar keamanan tinggi.

Ke depannya, Bagian Ekonomi dan SDA Mahulu akan melakukan evaluasi rutin setiap tiga bulan serta menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke lapangan.

Upaya ini dilakukan demi memastikan petani dan nelayan di Mahakam Ulu mendapatkan hak mereka atas BBM bersubsidi tanpa terbebani harga eceran yang tak wajar.

(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.