Tak Ada Jalan Darat, Warga Desa Nila, Ende Pulangkan Jenazah Lewati Laut Ombak Tinggi
February 03, 2026 08:35 AM

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo

TRIBUNFLORES.COM, ENDE – Penderitaan warga Desa Nila, Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, seolah tak pernah menemukan ujung. 

Ketiadaan infrastruktur dasar seperti jalan darat, penerangan listrik, hingga akses jaringan internet masih menjadi mimpi yang belum terwujud hingga kini.

Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan kehidupan sehari-hari, tetapi juga menghantui warga hingga ke akhir hayat. 

Seperti yang dialami seorang warga Desa Nila yang meninggal dunia di Kota Ende pada Minggu (1/2/2026).

Baca juga: Warga Desa Nila Masih Terisolasi dan Butuh Jalan, Pemda Ende Bangun Taman Kota Rp 12 Miliar

Jalur Laut yang Menantang

Jenazah itu terpaksa dipulangkan ke kampung halaman melalui jalur laut menggunakan kapal motor nelayan berukuran kecil. 

Jalur ini menjadi satu-satunya pilihan karena hingga saat ini Desa Nila sama sekali tidak memiliki akses transportasi darat.

“Almarhum selama ini tinggal di Kota Ende karena baru selesai kuliah. Saat sakit dia bertahan di kota, dan setelah meninggal baru dibawa pulang ke kampung. Orang tuanya tinggal di Desa Nila,” ungkap Kepala Desa Nila, Aleksius Sado, Selasa (3/2/2026).

Perjalanan laut yang harus ditempuh bukan tanpa risiko. 

Saat jenazah diberangkatkan dari Pelabuhan Bita Beach, cuaca dilaporkan sedang tidak bersahabat. 

Gelombang laut yang awalnya tampak tenang berubah menjadi besar di tengah perjalanan.

“Biasanya perjalanan bisa memakan waktu dua jam atau lebih kalau cuaca tidak bersahabat. Waktu berangkat pagi ombak masih tenang, tapi di tengah perjalanan gelombang mulai besar,” ujar Aleksius.

Peristiwa ini bukanlah kejadian Pertama

Aleksius menyebut, sudah puluhan bahkan ratusan warga Desa Nila yang meninggal dunia di Kota Ende dan harus dipulangkan ke kampung halaman melalui jalur laut dengan kondisi yang sama.

Pada musim hujan, perjalanan tersebut kerap menjadi pertaruhan nyawa. 

Warga harus menghadapi gelombang tinggi tanpa perlindungan memadai, menggunakan kapal motor nelayan yang sebenarnya diperuntukkan untuk melaut mencari ikan.

“Kadang dari Bita Beach kita lihat laut tenang, tapi di perjalanan tiba-tiba gelombangnya ekstrem. Ditambah lagi kondisi di kampung yang topografinya sangat sulit, tidak ada dermaga. Kita betul-betul coba bersahabat dengan alam,” katanya.

Setibanya di Desa Nila, perjuangan belum berakhir. 

Kapal motor tidak bisa bersandar di tepi pantai karena dinding tebing yang curam dan ombak besar yang menghantam. 

Warga harus menggunakan perahu kecil untuk naik dan turun, lalu memanggul jenazah melewati bukit terjal.

Tidak adanya dermaga atau pelabuhan membuat setiap langkah terasa berbahaya. 

Naik dan turun tebing menjadi ancaman maut, terlebih saat membawa jenazah atau warga yang sakit.

Saat ini, hanya ada dua kapal motor yang melayani transportasi warga Desa Nila. 

Jumlah itu pun sangat terbatas dan sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca.

“Di Nila ini memang tidak ada jalan darat sama sekali. Dulu pernah dibuka akses dari arah timur lewat Jopu dan sudah sampai Nila, tapi tidak ada peningkatan lanjutan. Sekarang batu-batu besar dan material lain sudah menutup badan jalan,” jelas Aleksius.

Jika melalui jalur barat, warga harus menempuh perjalanan darat dari Wolotopo–Ngalupolo–Reka–Wolokota–Kekasewa. 

Namun, kondisi ruas jalan tersebut dilaporkan rusak parah. 

Sementara dari Kekasewa menuju Desa Nila, tidak tersedia akses jalan darat sama sekali.

Alternatif lain adalah berjalan kaki dari Ngaluroga menuju Desa Nila sejauh sekitar tujuh kilometer dengan medan yang berat dan berbahaya.

Kondisi ini menjadi penderitaan tersendiri bagi warga yang sakit parah maupun ibu hamil yang hendak melahirkan.

“Itu yang paling sengsara. Kami tetap berusaha, tapi ibu-ibu hamil sangat berisiko. Medannya harus lompat-lompat, tidak bisa turun normal. Risiko keguguran sangat tinggi, apalagi bagi kehamilan muda,” tutup Aleksius.

Hingga kini, warga Desa Nila masih menunggu kehadiran negara melalui pembangunan infrastruktur dasar yang layak, agar perjalanan hidup, bahkan perjalanan terakhir, tidak lagi harus dipertaruhkan di tengah ganasnya alam. (Bet)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.