Laporan Wartawan Tribun Papua.com, Yulianus Magai
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Kota Jayapura tempo dulu kembali hidup dalam ingatan jurnalis senior Papua, Wolas Krenak. Melalui cerita-cerita personal yang ia bagikan dalam kegiatan Colo Sagu di jantung Kota Jayapura, Sabtu malam (31/1/2026), Wolas merawat memori tentang kota yang pernah sunyi, sederhana, namun penuh keakraban sosial.
Wolas mengenang pertama kali menginjakkan kaki di Jayapura pada 1973. Saat itu, ia datang dari Sorong, Papua Barat, untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Cenderawasih (Uncen), ketika sarana transportasi dan infrastruktur kota masih sangat minim.
“Tahun 1973 saya datang ke Jayapura untuk kuliah di Uncen. Waktu itu kota ini masih sangat sunyi, kendaraan sedikit, dan kalau malam hampir tidak ada aktivitas,” ujar Wolas Krenak.
Ia menceritakan, saat tinggal di Abepura, kesulitan mendapatkan angkutan umum menjadi pengalaman sehari-hari, terutama setelah beraktivitas hingga larut malam. Bersama rekan-rekannya, Wolas kerap menunggu kendaraan di sekitar Kantor Pos yang bersebelahan dengan Kantor DPR Papua.
Baca juga: Masyarakat Biak Tolak Batalyon TNI Kamuflase dan Minta MRP Tidak Ikut Merugikan Rakyat
“Kami biasa menunggu truk barang di depan Kantor Pos, berharap ada yang lewat ke arah Abepura. Tidak ada angkot seperti sekarang,” kenangnya.
Pengalaman serupa juga ia alami saat aktif mengasuh salah satu siaran radio di Jayapura. Setelah siaran malam selesai, perjuangan mencari kendaraan untuk pulang menjadi bagian dari rutinitas yang membentuk memori tentang pertumbuhan Kota Jayapura.
“Habis siaran radio, pulang itu jadi perjuangan tersendiri. Tapi dari situ saya melihat bagaimana kota ini perlahan bertumbuh,” kata Wolas.
Thontje Wolas Krenak dikenal sebagai wartawan senior asal Papua, sejarawan, sekaligus salah satu pendiri grup musik legendaris Mambesak pada 1978. Sejak 1970-an, ia aktif di dunia jurnalistik, pernah bertugas di lingkungan Istana Kepresidenan, dan hingga kini konsisten merawat sejarah serta ingatan tentang Kota Jayapura.
Baca juga: BMKG Prediksi Sepuluh Distrik di Mimika Hujan dan Sisanya Berawan
Dalam kegiatan Colo Sagu tersebut, Wolas juga menekankan makna sagu sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia Timur, khususnya Papua dan Maluku. Menurutnya, sagu bukan sekadar pangan, melainkan identitas dan sumber kekuatan masyarakat Papua.
“Sagu itu bukan hanya makanan. Sagu adalah identitas orang Papua. Dari sagu, orang Papua tumbuh kuat,” ujarnya.
Ia juga membagikan pengalamannya saat mendampingi Presiden dalam sejumlah kunjungan ke luar negeri. Dalam setiap perjalanan, Wolas selalu membawa sagu sebagai bekal utama.
Baca juga: Pamit Memancing, Pria di Nabire Ditemukan Meninggal Dunia di Kebun Ubi
“Ke mana pun saya ikut perjalanan ke luar negeri, sagu selalu saya bawa. Itu pengikat saya dengan tanah Papua,” ungkapnya.
Lebih jauh, Wolas mengaitkan peran sagu dengan kejayaan sepak bola Papua, termasuk Persipura Jayapura pada masa lalu. Ia menilai, pola konsumsi pangan lokal turut membentuk fisik dan mental para pemain sejak usia dini.
“Dulu pemain-pemain Persipura tumbuh dengan makanan lokal. Itu yang membentuk kekuatan mereka,” katanya.
Di akhir kegiatan, Wolas mengajak seluruh hadirin melakukan colo sagu bersama sebagai bentuk penghormatan dan doa untuk mengenang legenda sepak bola Papua sekaligus pelatih legendaris Persipura Jayapura, Metusala Dwaramury.
Baca juga: Putaran Ketiga Championship Memanas: Berikut Daftar Laga Kandang-Tandang 20 Klub Barat dan Timur
Diketahui, dunia sepak bola Papua tengah berduka. Metusala Dwaramury, yang akrab disapa Bapa Metu, meninggal dunia pada Selasa (27/1/2026). Kabar duka tersebut dikonfirmasi oleh manajemen Persipura Jayapura.
“Colo sagu ini bukan sekadar makan bersama, tapi doa dan penghormatan untuk mereka yang telah berjasa bagi Papua,"pungkas Wolas.
Untuk diketahui bahwa saat ini Kota Jayapura mengalami perubahan cukup besar bila dibanding cerita Wolas. Lokasi yang disebut sebagai tempat menunggu truk di Kantor POS, merupakan salah satu titik macet kendaraan pada pagi dan sore hari, apalagi di saat kapal putih masuk di Pelabuhan Laut Jayapura yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer tersebut.
Kini mobil, motor pribadi semakin banyak, termasuk angkutan umum dari berbagai arah sudah tersedia, bahkan layanan transportasi online Maxim yang saat ini menjadi bagian dari modernisasi transportasi di Kota Jayapura.(*)