Anak Suderajat Minta Maaf, Ungkap Kondisi Kejiwaan Sang Ayah Terguncang
February 03, 2026 05:19 PM

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Jakarta - Andi, anak tukang es gabus bernama Suderajat (49) mengungkap kondisi kejiwaan ayahnya yang dituding membohongi Gubernur Dedi Mulyadi. 

Sebelumnya Suderajat viral lantaran dituduh memakai bahan baku spons pada es gabus yang dia jual di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat. Ia menjadi korban fitnah dan penganiayaan oleh oknum tentara (Serda Heri) dan polisi Bhabinkamtibmas Aiptu Ikhwan Mulyadi.

Kasusnya viral hingga banyak yang berdonasi untuk pria yang akrab disapa Jajat tersebut. Bahkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi sempat wawancara untuk konten YouTube-nya. 

Sayangnya, dalam konten itu ucapan Jajat banyak yang tidak sinkron. Kepada Dedi, Jajat mengatakan dirinya tinggal di rumah kontrakan, padahal sebenarnya punya rumah pribadi.

"Kami mewakili bapak, kami mohon maaf sebesar-besarnya. Terima kasih kepada seluruh donatur yang sudah menyisihkan rezeki untuk bapak saya. Semoga Allah membalas kebaikan, saya hanya bisa berdoa," katanya dikutip dari TribunMedan, Selasa (3/2/2026). 

Ia meluruskan ucapan Suderajat kepada Dedi Mulyadi soal rumah yang dinilai kebohongan. Suderajat kala itu menjelaskan bahwa dirinya dan keluarga tinggal mengontrak bukan memiliki rumah pribadi. 

Andi menjelaskan bahwa Suderajat dan keluarga saat ini menempati rumah kontrakan sejak Desember 2025 karena rumah pribadi mereka sedang direnovasi melalui program bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Pemerintah Kabupaten Bogor.

"Beliau memang punya rumah tapi sedang proses perbaikan atau renovasi melalui program RTLH. Proses renovasi sudah berjalan sejak Desember 2025," ungkap Andi.

Selain itu, ayahnya terindikasi mengalami gangguan kejiwaan pascatrauma. Kondisi kejiwaan tersebut juga berdampak pada kemampuan komunikasi Suderajat.

"(Kondisi gangguan tadi) menyebabkan komunikasi secara verbal terhadap yang bersangkutan menjadi terbatas dan ada kesulitan," jelas Andi.

"Sebagai anak, kami mewakili bapak kami sangat mohon maaf apabila kalian semua sangat kecewa," lanjut dia.

Indikasi Disabilitas

Pihak Kecamatan Bojonggede, wilayah tempat tinggal Suderajat pun juga mengatakan hal yang sama. 

Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, menjelaskan mengenai fakta hasil asesmen lintas instansi yang menyebut adanya indikasi disabilitas mental terhadap diri Suderajat dan istrinya. 

Perilaku Suderajat yang kerap memberikan jawaban berubah-ubah saat ditanya, termasuk saat berbincang dengan Dedi Mulyadi, bukan semata-mata karena bohong. 

Menurut pihak kecamatan, ada dugaan gangguan mental pascatrauma yang memengaruhi kemampuan komunikasi verbal Suderajat dan istri. 

"Terkait banyak rumor tentang Pak Suderajat, mungkin jawabannya ketika ditanya (Dedi Mulyadi dalam video YouTube) selalu berubah-ubah dan terkesan seperti berbohong. Hasil dari asesmen kami, itu terdapat indikasi disabilitas, baik pada Pak Suderajat maupun istrinya," katanya seperti dikutip dari Kompas.com Jumat (30/1/2026). 

Kondisi tersebut membuat Suderajat kesulitan menyampaikan informasi secara runtut dan konsisten. 

Bahkan, menurut keterangan RT dan RW setempat, tampak tanda-tanda keterbelakangan secara psikologis dan mental sejak lama. Kemudian kondisi itu diperparah dari tekanan setelah peristiwa yang menimpanya. 

"Apalagi kondisi istrinya bahkan terlihat lebih parah," ungkapnya.

Tenny melanjutkan keterangan dari Ketua RT dan RW setempat juga menguatkan adanya keterbelakangan secara psikologis dan mental pada Suderajat. 

Kondisi tersebut diduga sudah ada sebelumnya, lalu diperparah oleh tekanan trauma setelah kejadian viral.

"Kami baru bicara indikasi, ya. Tapi yang terlihat jelas itu istrinya," katanya. 

Bahkan Suderajat pun ketika diajak komunikasi oleh ketua RT dan RW di lingkungan sekitarnya terindikasi ada keterbelakangan secara psikologis dan mental.

"Jadi Pak Suderajat itu memiliki disabilitas dan memerlukan perhatian khusus memang. Serta tekanan setelah kejadian (trauma) dan banyaknya orang datang ke rumah saat itu (gak terbiasa ketemu orang banyak)," bebernya.

Pemerintah kecamatan berharap penjelasan tersebut dapat menghentikan spekulasi publik dan mengembalikan persoalan Suderajat pada konteks yang sebenarnya, yakni upaya penanganan warga kurang mampu melalui program perbaikan rumah yang sedang berlangsung.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.