Mengenang Sosok Meriyati Hoegeng dan Warisan Kesederhanaan di Balik Nama Besar Jenderal Hoegeng
February 03, 2026 05:38 PM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Dunia kepolisian dan masyarakat Indonesia hari ini diselimuti duka mendalam. 

Meriyati Roeslani, atau yang lebih dikenal sebagai Meriyati Hoegeng, sosok perempuan tangguh di balik legenda polisi paling jujur di Indonesia, Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, telah mengembuskan napas terakhirnya pada Selasa (3/2/2026) siang.

Kepergian Meriyati bukan sekadar kehilangan anggota keluarga bagi anak-cucunya, melainkan hilangnya satu lagi mercusuar keteladanan tentang bagaimana sebuah integritas dijaga dari dalam rumah.

Perjalanan Seabad yang Bersahaja

Lahir di Yogyakarta pada 23 Juni 1925, putri dari pasangan dr. Mas Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe ini membawa nilai-nilai luhur sepanjang hayatnya. 

Sejak dipersunting Jenderal Hoegeng pada tahun 1946, Meriyati bukan sekadar pendamping protokol, melainkan benteng moral bagi sang suami saat menghadapi badai kekuasaan.

Informasi wafatnya Meriyati dikonfirmasi langsung oleh Komjen Pol Chryshnanda Dwilaksana, mantan Kalemdiklat Polri. 

Kepergiannya meninggalkan kesan mendalam tentang bagaimana seorang istri pejabat mampu tetap membumi di tengah gemerlap jabatan.

Baca juga: Mengenang Jenderal Hoegeng, Polisi yang Menolak Suap hingga Melawan Istana Era Presiden Gus Dur

Benteng Moral di Lingkar Kekuasaan

Pada peringatan ulang tahunnya yang ke-100 di Depok tahun lalu, Ketua DPR RI Puan Maharani sempat memberikan testimoni yang menyentuh tentang peran krusial Meriyati. 

Puan menekankan bahwa Meriyati adalah sosok yang memastikan Jenderal Hoegeng tetap tegak lurus pada prinsipnya.

“Ibu Hoegeng bukan hanya istri seorang pejabat, tapi juga penjaga nilai-nilai luhur di dalam keluarga. Beliau mendampingi Jenderal Hoegeng dengan ketulusan dan menjadi teladan bagi kita semua,” ujar Puan.

Lebih lanjut, Puan yang saat itu hadir bersama Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, menyebut Meriyati sebagai kunci di balik sikap antikorupsi Jenderal Hoegeng.

“Keteguhan hati Ibu Meriyati untuk tetap hidup bersahaja di tengah kekuasaan adalah sesuatu yang patut dicontoh,” tutur Puan.

Menurut Puan, dukungan tanpa pamrih inilah yang membuat Hoegeng dikenal sebagai polisi yang tidak berkompromi dengan suap. 

“Kita butuh lebih banyak figur seperti beliau,” tegasnya.

Baca juga: Eyang Meriyati Hoegeng Meninggal Dunia di Usia 100 Tahun, Duka Mendalam Keluarga Besar Polri 

Penghormatan Tertinggi dari Korps Bhayangkara

Tak hanya dari kalangan politisi, penghormatan besar juga datang dari institusi Polri. 

Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo turut hadir dalam momen-momen refleksi kehidupan Meriyati, menganggapnya sebagai figur inspiratif yang memperkuat institusi dari sisi kemanusiaan.

Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divhumas Polri, menegaskan bahwa nilai-nilai yang ditinggalkan Meriyati adalah pengingat bagi seluruh keluarga besar Polri.

“Nyonya Meriyati Hoegeng adalah figur inspiratif di balik sosok besar Jenderal Hoegeng. Kesetiaan, kesederhanaan, dan keteguhan beliau menjadi panutan, tidak hanya bagi keluarga besar Polri, tetapi juga masyarakat luas,” jelas Trunoyudo.

Baginya, perayaan hidup Meriyati bukan sekadar soal usia yang panjang, melainkan soal makna pengabdian.

“Perayaan ini bukan sekadar penghormatan atas usia yang panjang, tetapi juga apresiasi atas peran luar biasa seorang istri dalam menguatkan semangat pengabdian,” tambahnya.

Warisan yang Tak Akan Padam

Meriyati Hoegeng kini telah bersatu kembali dengan sang suami di alam abadi. 

Namun, melalui buku Meriyati Hoegeng 100 Tahun Langkah Setia Pengabdian, kisah hidupnya akan tetap menjadi literatur moral bagi generasi mendatang.

Ia membuktikan bahwa di balik pria yang hebat dan jujur, ada seorang perempuan yang tidak pernah menuntut kemewahan dari jalan yang salah. 

Selamat jalan, Eyang Meriyati. Warisan kesederhanaanmu akan selalu menjadi kompas bagi integritas bangsa.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.