Dibuka Perdana Sampah dari Alun-alun Sidoarjo Tembus 4,7 ton Sehari  
February 03, 2026 09:04 PM

SURYA.co.id SIDOARJO – Sampah yang dihasilkan dari alun-alun Sidoarjo mencapai sekira 4,7 ton dalam sehari. Khususnya saat hari pertama dibukanya kembali car free day (CFD) di kawasan alun-alun Sidoarjo pada hari Minggu kemarin.

Banyaknya tumpukan sampah itu seperti jadi efek kurang bagus akibat tingginya antusiasme luar biasa warga Sidoarjo menyambut CFD di Alun-alun Sidoarjo yang kembali dibuka setelah vakum panjang sejak 2019.

Warga tidak hanya datang untuk berolahraga, tetapi juga penasaran ingin berswafoto di monumen Jayandaru dan area taman yang kini lebih estetik dan tertata. Ratusan PKL juga berjejer di sana.

Banyak Orang Berkumpul, Banyak Tumpukan sampah

Banyaknya orang yang berkumpul itu ternyata berdampak pada banyaknya tumpukan sampah.

Botol minuman plastik, bungkus makanan ringan, hingga sisa bungkus kuliner PKL terlihat berserakan di trotoar dan area rumput, meski tempat sampah telah disediakan.

Baca juga: Terima Kunjungan Delegasi dari Malaysia, Kampung Edukasi Sampah Sidoarjo Jadi Rujukan Smart City

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo harus bekerja ekstra keras.

Sejumlah petugas dikerahkan, bahkan truk-truk juga dikerahkan untuk mengangkut sampah dari sana menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Griyo Mulyo, Jabon.

Kepala TPA Griyo Mulyo, Hajid Arif Hidayat, mengungkapkan data yang cukup mengejutkan. Volume sampah pada hari perdana tersebut melonjak drastis dibandingkan hari-hari biasa.

“Total sampah dari CFD perdana saat pembukaan Alun-Alun Sidoarjo mencapai 4,7 ton. Didominasi oleh plastik sekali pakai,” ungkap Hajid, Selasa (3/2/2026).

Baca juga: Gagal Dibuka saat Tahun Baru, Alun-alun Sidoarjo BakalJadi Kado Harjasda

Angka ini sangat jomplang jika dibandingkan dengan beban sampah harian. Menurut Hajid, volume tersebut mencapai tiga kali lipat dari biasanya. Jika pada Minggu biasa sampah hanya berkisar sepertiganya, kali ini lonjakan massa benar-benar meninggalkan jejak polusi yang signifikan.

Ya, pada hari pertama dibukanya kembali CFD kemarin, kepadatan yang terasa di seputaran alun-alun.

Bahkan, jalan-jalan di sekitarnya juga mengalami sejumlah kemacetan. Dampak dari kegiatan itu.

Sayangnya, tingginya animo ini belum dibarengi dengan kesadaran menjaga kebersihan. Banyak pengunjung yang meninggalkan sampah begitu saja di kursi taman atau di bawah pohon.

“CFD seharusnya menjadi momentum edukasi lingkungan, bukan sekadar relokasi pasar atau tempat kerumunan. CFD adalah gerakan global yang lahir dari kesadaran lingkungan. Kami imbau pengunjung membawa tumbler sendiri dan UMKM wajib mengelola sampah dagangannya,” ujarnya.

Jika pola perilaku masyarakat tidak berubah, wajah baru Alun-Alun Sidoarjo yang cantik terancam cepat kumuh. CFD diharapkan menjadi ruang publik yang sehat secara fisik, sekaligus sehat secara ekosistem.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.