Pakar Perilaku Hewan IPB University, drh Supratikno bantah bila fenomena hewan yang memutari objek, bangkai, atau hewan lainnya berkaitan dengan kejadian mistis. Ia menegaskan fenomena ini bisa dijelaskan secara ilmiah.
Tingkah laku hewan memang kerap memunculkan berbagai tafsir di tengah masyarakat, termasuk berkaitan dengan hal-hal berbau mistis. Namun, rupanya, berbagai tingkah laku hewan merupakan respons naluriah mereka terhadap lingkungannya.
Pada dasarnya, setiap hewan punya indra dengan tingkat sensitivitas yang berbeda-beda. Ada hewan yang mampu merasakan energi hewan lainnya dan juga sebaliknya.
Hukum efesiensi ekosistem menjelaskan bila tidak ada energi yang terbuang sia-sia. Hal inilah yang ikut mendasari adanya fenomena hewan memutari objek atau hewan lainnya yang tengah lemah.
"Artinya, jika ada sumber daya yang akan mati, makhluk lain secara naluriah akan memanfaatkannya," kata drh Supratikno, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima detikEdu, Selasa (3/2/2026).
Penjelasan Ilmiah Hewan Memutari Objek-Hewan Lain yang Lemah
Supratikno menekankan, fenomena hewan yang bergerak memutari objek, bangkai, atau hewan lain yang melemah berakar pada naluri bertahan hidup. Perilaku ini juga merupakan efek tidak langsung dari komunikasi perilaku dan kimiawi antarsatwa.
Fenomena ini bisa terjadi pada berbagai jenis hewan, terutama hewan sosial dan berkelompok. Berbagai hewan yang dimaksud, seperti ikan, burung, hingga mamalia.
"Hewan sosial menggunakan perilaku kelompok untuk meningkatkan kekuatan, mengurangi stres, dan mengacaukan konsentrasi predator," urai drh Supratikno.
Fenomena pada Ikan
Pada kasus ikan, fenomena ini terjadi pada ikan yang terlihat lemah atau hampir mati. Ketika hal itu terjadi, ikan akan dikelilingi oleh ikan-ikan kecil lantaran ikan lemah mengeluarkan hormon stres atau substansi kimia lain.
"Zat ini terdeteksi oleh ikan di sekitarnya dan menarik mereka untuk mendekat," ujarnya.
Ikan-ikan kecil yang mendekat ini bukan bermaksud menolong, melainkan ingin memastikan bila ikan tersebut sudah mati atau belum. Ikan mati merupakan sumber makanan bagi ikan-ikan kecil di sekelilingnya.
Supratikno kembali mengingatkan bila di alam berlaku hukum yang sangat efisien, tidak ada sumber daya yang sia-sia.
Selain menjadi sumber makanan, ikan yang sedang lemah dan didekati itu menurutnya individu yang pernah dominan. Oleh karena itu, ikan lain akan mendekat untuk mengancam dan mengambil alih dominasi.
Dalam kondisi tertentu, ikan yang tadinya lemah juga bisa kembali pulih. Kondisi lemah ikan ini biasanya karena kekurangan oksigen, bukan penyakit.Ketika ikan lain memutari ikan lemah tersebut, akan menciptakan aliran air yang membantu suplai oksigen ke insang. Dengan itu, ikan yang sebelumnya lemah bisa sehat kembali, meskipun gerakan memutar bisa dianggap sebagai ancaman dari ikan lain.
"Secara naluriah, dengan adanya ancaman tadi, ikan yang tadinya lemah akan berusaha menghindari bahaya dan bergerak sehingga secara otomatis operkulum terbuka, insangnya kembali berfungsi untuk mengambil oksigen," tambahnya.
Fenomena pada Kalkun
Fenomena serupa juga terjadi pada kalkun. Kalkun akan memutari bangkai predator sebagai bentuk insting kewaspadaan mereka.
Mereka akan memastikan bila predator benar-benar sudah mati atau hanya berpura-pura mati. Bagi kalkun muda, langkah ini adalah bagian dari proses belajar mengenali ciri-ciri predator.
Fenomena pada Semut
Semut juga punya perilaku memutari objek, baik itu makanan, bangkai, atau ancaman. Perilaku ini disebut Supratikno sebagai langkah identifikasi kolektif.
Ketika memutari objek, semut akan meninggalkan feromon sebagai penanda zona demarkasi untuk melokalisasi bahaya. Zona demarkasi ini akan mengunci objek yang dilingkari untuk tidak keluar atau sebaliknya.
"Supaya tidak ada individu (semut) dari kelompok lain yang masuk. Pada saat melakukan aktivitas berputar, semut juga akan mengeluarkan feromon untuk mengambil kawanannya," jelas Supratikno.
Fenomena pada Domba
Domba melakukan perilaku memutari objek karena dipengaruhi oleh struktur sosial. Biasanya, domba mengikuti perilaku pemimpin kelompok. Gerakan ini berfungsi untuk mengetahui potensi bahaya hingga penanda wilayah.
"Sebagai hewan ruminansia sosial, domba mengikuti perilaku pemimpin kelompok. Gerakan memutar dilakukan untuk menilai potensi bahaya, merespons bau asing, sekaligus sebagai penanda wilayah," jelas drh Supratikno.







