Laporan Wartawan Tribun Gayo Fikar W Eda | Malang
TribunGayo.com, MALANG - Menikmati suasana pasar wisata Oro-Oro Dowo di Kota Malang sungguh mengasyikkan.
Sejak pagi hari, terutama. Minggu, pasar ini sudah ramai oleh pengunjung.
Banyak yang datang berkelompok, tak sedikit pula yang menikmati suasana sendirian semuanya larut dalam denyut pasar rakyat yang hidup.
Di pagi hari, deretan kedai makanan rumahan menjadi magnet utama.
Pecel dengan siraman sambal kacang khas Jawa Timur, soto hangat, bakso goreng, aneka roti, hingga jajanan tradisional lainnya tersaji menggoda.
Semua terasa akrab, membumi, dan jujur menu rumahan yang dirindukan banyak orang.
Tak ketinggalan, terdapat kedai kopi yang menyediakan aneka kopi Nusantara.
Dari berbagai daerah Indonesia, termasuk tentu saja kopi Gayo yang sudah masyhur itu.
Kopi bisa dinikmati langsung di tempat, atau dibeli dalam bentuk biji maupun bubuk untuk dibawa pulang.
Pasar ini tertata rapi dan bersih. Meski mengusung konsep pasar wisata, ruhnya tetap pasar rakyat.
Seperti pasar pada umumnya, tersedia penjual sayur-mayur, buah-buahan, ikan, daging, hingga aneka kerajinan anyaman.
Luasnya memang tidak terlalu besar, namun justru membuat pengunjung nyaman berkeliling tanpa lelah.
Oro-Oro Dowo menjadi salah satu andalan wisata Kota Malang pasar rakyat dengan sentuhan wisata, yang berhasil menarik banyak wisatawan.
Selain Oro-Oro Dowo, Malang juga memiliki Pasar Besar yang tak kalah bersih dan rapi.
Pasar ini jauh lebih luas dan menyediakan berbagai kebutuhan, mulai dari pakaian, sepatu, rokok, hingga beragam produk fashion.
Meski menyerupai pusat perbelanjaan, Pasar Besar tetaplah pasar rakyat, bukan mal. Berkeliling di sini terasa nyaman.
Menjelajah Kota Malang memberi kesan tersendiri. Udara yang sejuk, kebersihan kota yang terjaga, patut diacungi jempol.
Hujan memang mengguyur cukup deras, namun hampir tak ditemukan jalan yang tergenang air sebuah pemandangan yang kontras jika dibandingkan dengan beberapa ruas jalan di kota lain.
Satu hal lain yang menonjol dari Malang adalah banyaknya masjid.
Hampir di setiap kawasan, masjid mudah ditemui dan terawat kebersihannya.
Lima waktu sehari, kumandang azan subuh, zuhur, asar, magrib, hingga isya terdengar bersahut-sahutan.
Syahdu.
Tenang.
Malang terasa hidup, sekaligus menenangkan. (*)
Baca juga: Wisata Pemandian Wih Ni Kulus Bener Meriah Luluh Lantak Diterjang Banjir Bandang
Baca juga: 47 Destinasi Wisata Rusak, Sektor Pariwisata Aceh Tengah Porak-poranda Diterjang Bencana