OJK, BEI dan MSCI Berembug Bahas Penguatan IHSG, Begini Hasil Strateginya
February 03, 2026 11:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Pada Selasa (3/2/2026), IHSG ditutup melemah signifikan sebesar 4,8 persen ke level 7.922,73. Penurunan ini selaras dengan pelemahan bursa regional (seperti Korea Selatan yang turun >5 persen, Hong Kong, India, dan Singapura) serta pelemahan harga emas global.

Herry Wachiedin AY dari MNC Sekuritas cabang Banjarmasin, memaparkan, di balik penurunan indeks, terdapat sinyal positif berupa net buy (beli bersih) investor asing sebesar Rp 54,9 miliar, mengakhiri tren net sell selama empat hari sebelumnya.

Herry juga memaparkan Hasil Pertemuan Strategis OJK & BEI dengan MSCI bahwa OJK dan SRO (BEI, KSEI) telah mengajukan proposal solusi untuk menjawab kekhawatiran MSCI terkait transparansi dan likuiditas.

"Transparansi Kepemilikan (UBO). Komitmen untuk memperluas keterbukaan informasi kepemilikan saham. OJK berencana mewajibkan pengungkapan pemegang saham untuk porsi di atas satu persen dari sebelumnya fokus pada di atas lima persen," katanya, Senin (2/2/2026). 

Kemudian Granularitas Data Investor. KSEI akan merinci klasifikasi tipe investor dari yang sebelumnya sangat terbatas menjadi 27 sub-tipe investor. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kredibilitas pengungkapan beneficial ownership.

"Peningkatan Free Float. Terdapat rencana untuk menaikkan rasio saham beredar di publik (free float) dari minimum saat ini 7,5 persen menjadi 15 persen secara bertahap," jelas Herry.

Adapun Analisis Perilaku Investor dan Portofolio. Rebalancing Portofolio, penurunan harga saham saat ini dinilai sebagai bagian dari rebalancing oleh investor. Saham-saham yang mengalami koreksi tajam rata-rata adalah saham yang harganya sudah naik terlalu tinggi.

Fokus pada Fundamental. Teramati adanya peningkatan investasi pada saham-saham yang memiliki ciri: fundamental kuat, likuiditas baik, valuasi masuk akal, dan arus kas (cash flow) yang sehat.

"Arahan bagi Investor, himbauan tetap tenang. OJK secara tegas mengimbau investor domestik untuk tidak panik dan tidak melakukan aksi jual karena ketakutan sesaat," ujar Herry.

Investor disarankan tetap mengambil keputusan investasi secara rasional dengan melihat prospek jangka panjang dan kondisi ekonomi fundamental Indonesia yang masih sangat baik.

"Secara keseluruhan, otoritas pasar modal Indonesia bergerak cepat dalam hitungan hari untuk merespons isu MSCI dan memastikan perdagangan tetap berjalan secara teratur, wajar, dan efisien," katanya. (banjarmasinpost.co.id/salmah saurin)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.