MUI Angkat Bicara Soal Board of Peace usai Bertemu dengan Presiden Prabowo
February 04, 2026 09:28 AM

 

TRIBUNJATIM.COM - Kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang bergabung dalam Board of Peace (BoP) ditanggapi oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

MUI angkat bicara dan mengeluarkan tausiyah (saran dan nasihat) terkait kebijakan Pemerintah Indonesia tersebut.

Sebelum mengeluarkan tausyiah, pengurus MUI dan ormas Islam lainnya melakukan pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Tausyiah itu dikeluarkan setelah beberapa jam dari pertemuan.

Baca juga: Jokowi Diisukan Jadi Wantimpres di Reshuffle Kabinet Prabowo Mendatang

"Mukadimah UUD NRI 1945 mengamanatkan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Oleh karena itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan," tulis Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar dalam tausyiah MUI yang diterima Tribunnews.com, Selasa (3/2/2026).

"Maka, setelah mengamati rencana kebijakan Pemerintah Republik Indonesia yang bergabung ke dalam Board of Peace (BoP), Dewan Pimpinan MUI menyampaikan tausiyah," tambahnya. 

Berikut rincian tausyiah MUI terkait bergabung Indonesia ke dalam Board of Peace: 

Pemerintah Indonesia meminta Board of Peace untuk mendesak Israel segera mengakui Palestina sebagai negara merdeka dan berdaulat.

Pemerintah Indonesia harus menjamin dengan penuh integritas bahwa keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace harus menjamin tidak ada lagi penjajahan Israel terhadap Palestina dan kejahatan perang yang menimpa Palestina.

Prinsip Solusi Dua Negara (Two State Solution) harus menjadi sikap dan tujuan prinsip Indonesia bergabung dalam Board of Peace untuk mewujudkan perdamaian yang hakiki dan konsisten.

Pemerintah Indonesia harus memperjuangkan dengan tegas perihal perwakilan atau keterlibatan Palestina di dalam Board of Peace.

Kontribusi bantuan Indonesia dalam upaya perdamaian Palestina berupa pengiriman pasukan perdamaian ke Palestina jangan sampai menuju pada kondisi di mana pasukan TNI akan dijadikan alat pemukul Hamas dan perjuangan pro Palestina lainnya yang justru menguntungkan Israel dengan berlindung di balik legitimasi Board of Peace (BoP).

Pemerintah Indonesia harus terus konsisten dengan politik luar negeri Bebas Aktif dengan tetap berpegang teguh kepada komitmen kemerdekaan Palestina sebagai negara yang berdaulat.

Tak butuh waktu lama untuk gabung BoP

Presiden Indonesia, Prabowo Subianto disebut tak butuh waktu lama untuk memutuskan bergabung dengan Board of Peace (BoP) Charter.

Board of Peace (BoP) Charter atau Dewan Perdamaian itu merupakan bentukan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Menteri Luar Negeri (Menlu), Sugiono menjelaskan, memang Prabowo begitu singkat memutuskan untuk bergabung.

Namun, ada sejumlah pertimbangan yang sudah dipikirkan.

Baca juga: Momen Prabowo Pamerkan Pertumbuhan Ekonomi RI dan Kinerja Danantara ke Pemimpin Dunia

Adapun, BoP ini merupakan sebuah badan internasional baru yang dibentuk untuk mengawal konflik global dan tugas utamanya mengawasi pelaksanaan gencatan senjata, stabilisasi keamanan, serta proses rekonstruksi Gaza pascaperang Israel-Hamas.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) juga telah mengeluarkan resolusi yang mendukung fungsi BoP di wilayah konflik tersebut.

Selain Indonesia, puluhan negara lainnya juga ikut bergabung, mulai dari Pakistan, Mesir, Jordania, Uni Emirate Arab, Turki, Saudi Arabia, Qatar, Bahrain, Morocco, Argentina, Armenia, Azerbaijan, Belgia, Bulgaria, Kazakhtan, Kosovo, Mongolia hingga Paraguay.

Meski Prabowo tidak butuh waktu lama untuk berpikir, Sugiono menegaskan bahwa keputusan Presiden itu tetap mempertimbangkan banyak hal.

"Terus terang saja perlu disampaikan bahwa prosesnya ini juga agak cepat. Dalam beberapa hari yang lalu, penandatanganan piagam ini dilakukan dan Bapak Presiden memutuskan Indonesia untuk bergabung dengan berbagai pertimbangan," ungkapnya, dikutip dari YouTube Sekretariat Negara, Sabtu (24/1/2026).

Berbagai pertimbangan itu, kata Sugiono, di antaranya adalah karena Indonesia merupakan negara yang peduli pada perdamaian.
 
"Kita sejak awal merupakan negara yang peduli pada perdamaian, pada stabilitas internasional dan khususnya pada situasi yang terjadi di Palestina," ucapnya.

"Karena Board Peace ini merupakan bagian dari upaya untuk mencapai perdamaian tersebut, maka kita harus ada di dalamnya," ujar Sugiono.

Selain itu, Sugiono juga meyakini bahwa BoP ini merupakan sebuah langkah yang konkret untuk bisa mencapai perdamaian di Palestina.

"Tentu saja kehadiran semua negara-negara di dalam Board Peace tersebut untuk bisa terus mengawal, kemudian memastikan bahwa upaya yang dilakukan oleh Board Peace ini tetap berorientasi pada kemerdekaan Palestina dan tetap tercapainya solusi dua negara," paparnya.

Prabowo Merasa Optimis dengan Pembentukan Board of Peace

Prabowo resmi menandatangani BoP pada Jumat (23/1/2026), di Davos, Swiss dan merasa optimis atas pembentukan badan internasional BoP ini untuk mencapai perdamaian Gaza.

Dengan ini, Prabowo menegaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam BoP itu merupakan bagian dari komitmen kemanusiaan dan perdamaian dunia.

Keterlibatan Indonesia, kata Prabowo, menjadi sebuah momentum bersejarah sekaligus peluang nyata untuk mendorong upaya perdamaian, khususnya untuk rakyat Palestina.

“Saya kira ini kesempatan bersejarah, ini kesempatan bersejarah. Ini benar-benar peluang untuk mencapai perdamaian di Gaza,” ucap Prabowo dalam keterangannya kepada awak media di Davos, Swiss, Jumat, dilansir presidenrigo.id.

Prabowo turut menyampaikan perkembangan positif di wilayah konflik Gaza saat ini.

“Yang jelas penderitaan rakyat Gaza sudah berkurang, sangat berkurang. Bantuan-bantuan kemanusiaan begitu deras, begitu besar masuk, sudah masuk. Saya sangat berharap dan Indonesia siap ikut serta,” tegasnya.

Sementara itu, Trump dalam sambutannya mengatakan BoP sebagai salah satu inisiatif perdamaian paling penting dan berpotensi bersejarah. 

Trump menekankan bahwa BoP dihimpun dari para pemimpin dunia yang memiliki pengaruh besar untuk mendorong perdamaian global.

“Semua orang di ruangan ini adalah bintang. Ada alasan mengapa kalian di sini dan kalian semua adalah bintang, kalian adalah orang-orang terbesar, orang-orang terpenting di dunia, orang-orang paling berpengaruh di dunia."

"Dan ketika kalian menggunakan kejeniusan yang sangat luar biasa dan penuh inspirasi itu, ketika kalian menggunakannya untuk perdamaian,” kata Trump.

Trump pun menyampaikan, dirinya merasa senang bisa bersama-sama dengan para pemimpin dunia dalam BoP ini.

“Saya hanya ingin mengatakan bahwa sungguh luar biasa bisa bersama Anda dan saya pikir ini adalah sesuatu yang sangat penting yang kita lakukan, ini yang terpenting. Saya sangat menantikan untuk berada di sini,” ucapnya.

Trump juga meyakini bahwa lembaga yang dibuatnya ini akan sangat luar biasa ke depannya.

Bahkan Trump sampai menyindir PBB, dengan mengatakan bahwa PBB seharusnya bisa berbuat lebih baik, sehingga dunia tidak membutuhkan Dewan Perdamaian.

“Kami baru saja membentuk Dewan Perdamaian, yang menurut saya akan luar biasa. Saya berharap Perserikatan Bangsa-Bangsa dapat berbuat lebih banyak, saya berharap kita tidak membutuhkan Dewan Perdamaian,” ujar Trump.

Trump kemudian menyinggung perihal berbagai upayanya yang sudah menyelesaikan sejumlah perang.

Sementara, kata Trump, PBB tidak terlibat sama sekali dalam menghentikan perang. 

“Anda tahu, dengan semua perang yang saya selesaikan, Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak pernah membantu saya dalam satu perang pun," ucap Trump.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.