Jika Anda atau orang di sekitar mengalami tekanan emosional berat, segera cari bantuan profesional atau layanan kesehatan terdekat.
Jangan menyerah dan memutuskan nekat. Anda tidak sendiri.
Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada.
Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini:
https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/
TRIBUNJATIM.COM - Kasus siswa SD meninggal dunia diduga karena tak bisa beli buku dan alat tulis viral di media sosial.
Korban adalah seorang siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT),
Ia ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026).
Kepolisian menyatakan dugaan awal, namun proses penyelidikan masih berlangsung.
Baca juga: Mahasiswa Diusir dari Kelas karena Tak Beli Buku Dosen Rp 215 Ribu, Padahal Ngaku Belum Punya Uang
Aparat telah memeriksa sejumlah saksi dan mengamankan barang bukti berupa pesan tertulis yang diduga dibuat korban sebelum kejadian.
Polisi menegaskan pendalaman dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan kondisi keluarga dan lingkungan sosial korban.
Tragedi ini menyisakan pertanyaan mendasar: sejauh mana negara benar-benar hadir ketika kebutuhan belajar paling sederhana saja belum terjamin.
Peristiwa ini tidak hanya menyisakan duka mendalam, tetapi juga membuka kembali pertanyaan lama tentang akses pendidikan dasar di wilayah tertinggal, ketika kebutuhan paling sederhana seperti buku dan alat tulis masih menjadi beban bagi anak.
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Habib Syarief, mendesak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengusut tuntas latar belakang tragedi tersebut.
“Kami sangat prihatin. Ini menjadi alarm keras bahwa masih ada anak-anak yang tidak mendapatkan kebutuhan belajar paling mendasar. Negara harus hadir memastikan pendidikan dasar benar-benar terpenuhi tanpa kecuali,” ujar Habib kepada wartawan, Selasa (3/2/2026).
Habib menilai peristiwa di Ngada sebagai potret buram dunia pendidikan nasional, yang menunjukkan masih adanya celah besar dalam pemenuhan hak belajar bagi anak dari keluarga kurang mampu.
Menurut Habib, alokasi anggaran pendidikan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) seharusnya mampu menjamin kebutuhan dasar siswa, termasuk buku dan alat tulis.
“Anggaran pendidikan kita besar. Seharusnya kebutuhan dasar pendidikan dasar bisa dipastikan terpenuhi,” katanya.
Ia menekankan pentingnya investigasi menyeluruh untuk memastikan tidak terjadi kelalaian sistemik dalam penyaluran bantuan pendidikan, khususnya di daerah tertinggal.
Baca juga: Penyebab Mahasiswa Diusir dari Kelas, Tak Beli Buku dari Dosen Seharga Rp215 Ribu Imbas Tak Ada Uang
Habib juga mendorong pemerintah melakukan pendataan ulang kondisi ekonomi siswa di wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi, termasuk NTT.
Ia menilai penguatan program perlengkapan sekolah gratis serta peran aktif guru dalam memantau kondisi psikologis peserta didik menjadi krusial agar tekanan sosial dan ekonomi tidak sepenuhnya dipikul anak.
“Sekolah harus lebih peka dan responsif terhadap kondisi muridnya. Jangan sampai kita kehilangan generasi hanya karena kemiskinan dan kelalaian sistem,” ujarnya.
Kejadian mahasiswa diusir dosen hanya karena tidak memiliki buku paket, beredar viral di media sosial.
Dinarasikan dosen tersebut rupanya mewajibkan para mahasiswa membeli buku karyanya yang dijual seharga Rp215 ribu.
Tak pelak aksi sang dosen menuai komentar dari netizen.
Adapun video tersebut viral usai diunggah salah satunya oleh akun Instagram @folkkonoha, dikutip Rabu (23/4/2025).
Tampak dalam video tersebut sejumlah mahasiswa mengikuti aktivitas perkuliahan.
Namun di tengah jam kuliah, pengelihatan dosen tertuju kepada seorang mahasiswa.
Baca juga: Herdi Syok Beli Buku Anaknya di Sekolah Rp200 Ribu, Cek Online Cuma 25 Ribu, Kepsek SD: Tidak Wajib
Dosen tersebut langsung menghampiri dan menanyakan alasan seorang mahasiswa hadir tanpa membawa buku.
"Kenapa enggak bawa buku?" ucap seorang dosen, seperti dilansir dari TribunnewsBogor.com.
Mendengar pertanyaan dosen, mahasiswa tersebut berusaha memberi penjelasan.
Dia mengatakan bahwa belum ada uang untuk membeli buku tersebut.
"Belum beli, pak. Saya enggak punya uang pak," jawab sang mahasiswa.
Dosen yang mendengar jawaban langsung menyuruh mahasiswa tersebut pulang.
"Kalau begitu pulang saja kamu," timpal dosen.
"Ya iya pulang aja, ngapain masuk. Kamu kalau enggak bawa buku besok, saya suruh pulang ya," tegas dosen lagi.
Hanya saja dinarasikan bahwa kejadian ini ada di wilayah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Sementara itu, usai video dosen menyuruh mahasiswa pulang karena tak membawa buku viral, netizen meninggalkan beragam reaksi.
Banyak dari netizen yang menyayangkan aksi dosen.
Bahkan ada yang menganjurkan dosen untuk beralih pekerjaan menjadi sales toko.
"Yang kaya gini harus nya jangan jadi dosen tapi jadi sales toko," tulis nursatrianty.
"Kalo mau dagang jgn dikampus. Jaman digital masih aja jualan buku," tulis wildan.
"Loh pngn duit gausah malak orng lewat maksa beli tuh buku nya paling harga bukunya cuman 30 ato sekitar 50 rebuan tpi di jual harg 200rebu," tulis afy.