SURYA.CO.ID, BANYUWANGI - Aktivitas penyeberangan di lintas Ketapang-Gilimanuk, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim), sempat dihentikan total selama satu jam.
Penutupan akses vital penghubung Pulau Jawa dan Bali ini dilakukan akibat cuaca buruk yang melanda kawasan tersebut pada Rabu (4/2/2026).
Otoritas pelabuhan memutuskan menutup lalu lintas kapal mulai pukul 14.45 WIB. Langkah ini diambil demi keselamatan pelayaran, hingga kondisi cuaca dinyatakan kembali normal pada pukul 15.45 WIB.
Saat penutupan sementara diberlakukan, kawasan Pelabuhan Ketapang diterpa hujan lebat yang disertai angin kencang. Kondisi ini membuat jarak pandang di perairan Selat Bali menjadi sangat terbatas dan membahayakan manuver kapal.
Korsatpel Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Ketapang, Bayu Kusumo Nugroho, mengonfirmasi penghentian operasional tersebut.
"Pelayanan Pelabuhan Ketapang ditutup sementara dikarenakan cuaca buruk, angin kencang, dan jarak pandang terbatas mulai pukul 14.45 WIB," terang Bayu Kusumo Nugroho kepada SURYA.co.id.
Berdasarkan laporan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Pelabuhan Ketapang saat penutupan berlangsung, tercatat sejumlah data cuaca signifikan:
Penutupan mendadak ini menyebabkan kendaraan yang hendak menyeberang ke Bali tertahan. Kendaraan terpantau menunggu giliran masuk ke kapal dan mengantre di area parkir dalam pelabuhan.
Meski demikian, tidak terjadi penumpukan parah hingga keluar area pelabuhan.
"Situasi dan kondisi antrian kendaraan di luar pelabuhan Penyeberangan Ketapang terpantau lancar. Untuk antrian di area parkir buffer zone nihil," ungkap Bayu.
Setelah satu jam menunggu, cuaca berangsur normal. Pelayanan lintas Ketapang-Gilimanuk akhirnya dibuka kembali tepat pada pukul 15.45 WIB.
Pada hari tersebut, tercatat operasional penyeberangan didukung oleh armada yang memadai:
Pihak BPTD meminta seluruh pengguna jasa untuk tetap mematuhi aturan yang diterbitkan. Keputusan penutupan sementara pelabuhan, meski menghambat perjalanan, ditetapkan semata-mata demi keselamatan penyeberangan.
Selat Bali dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran dengan karakteristik hidrografi yang unik dan kerap menantang. Secara geografis, selat ini memisahkan Pulau Jawa dan Bali dengan lebar yang menyempit, menciptakan efek lorong angin (wind tunnel effect).
Selain potensi angin kencang, Selat Bali memiliki arus laut yang kuat, karena merupakan pertemuan antara Laut Jawa di utara dan Samudra Hindia di selatan. Arus di selat ini sering kali tidak terduga dan bisa sangat deras, terutama saat pergantian musim atau cuaca ekstrem, sehingga membutuhkan kewaspadaan tinggi dari nakhoda kapal feri.
Bagi masyarakat yang hendak melakukan penyeberangan, berikut beberapa tips keselamatan: