Respon Mensos Gus Ipul soal Nasib Pilu Siswa SD di NTT yang Tak Mampu Beli Pena: Kembali ke Data
February 04, 2026 06:14 PM

 

TRBUNJATIM.COM- Kasus meninggalnya siswa SD di NTT karena tak mampu membeli pena dan buku kini mendapatkan perhatian dari berbagai pihak.
 
Satu di antaranya adalah Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.
 
Dilansir dari Tribunnews, kasus meninggalnya siswa SD berinisial YBS di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), tak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga, namun juga dunia pendidikan di Tanah Air.

Peristiwa ini turut menyita perhatian Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau sering dipanggil Gus Ipul.


YBS merupakan bocah 10 tahun yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.

Baca juga: Kondisi Sehari-hari Bocah d NTT Sebelum Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Pena, Sering Makan Ubi

Pada Kamis (29/1/2026), YBS diduga membahayakan hidup dengan cara membahayakan diri di pohon cengkeh yang tak jauh dari rumah neneknya.

Ditemukan pula kertas berisi pesan yang ditujukan untuk ibunya berisi ungkapan putus asa .

Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, YBS enggan sekolah lagi karena tak dibelikan buku serta pulpen.

Gus Ipul menyatakan keprihatinan mendalam dan menyampaikan duka cita untuk keluarga korban. Ke depan, pemerintah daerah diminta memperkuat pendampingan agar kasus serupa tak terjadi.

"Kita harus memperkuat data kita, ya kita harapkan tidak ada yang tidak terdata. Ini hal yang sangat penting saya kira."

"Kembali kepada data, bagaimana data ini kita sajikan sebaik mungkin sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan perlindungan, memerlukan rehabilitasi, dan memerlukan pemberdayaan."

"Ya, jadi itu sampai di situ dulu dan ini sungguh-sungguh menjadi keprihatinan kita bersama," ungkapnya, dikutip dari YouTube KompasTV, Rabu (4/2/2026).

Sebelumnya, Kapolda NTT, Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko, menyatakan tewasnya YBS menjadi atensi nasional karena menyangkut pendidikan siswa.

“Ini sangat-sangat menjadi atensi, bahkan bukan hanya menjadi kasus lokal NTT, namun sudah sampai ke istana, Saya sampai ditelepon terkait kasus ini,” ucapnya, dikutip dari PosKupang.com.

Pihaknya telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan meminta keterangan dari keluarga korban.

“Saya sudah memerintahkan Kapolres Ngada untuk menuju rumah duka guna memberikan bantuan, baik material maupun pendampingan mental kepada keluarga korban,” lanjutnya.

Pendampingan psikologis juga diberikan untuk keluarga korban.

"Kita harap ini bisa membantu meringankan kesulitan dan beban psikologis mereka,” tukasnya.

Menurutnya, ada faktor ekonomi yang menjadi pemicu YBS membahayakan hidup.

“Motif utama sementara dari hasil penyelidikan awal dan olah TKP masih kita dalami lagi. Namun informasi pertama dari petugas lapangan yang saya terima, motifnya karena korban meminta dibelikan alat tulis kepada ibunya, namun karena kondisi ekonomi yang tidak baik, anak sekecil itu memilih mengakhiri hidupnya,” katanya.

Korban merupakan anak bungsu dari lima bersaudara.

Ia tinggal bersama nenek, sedangkan ibunya berada di desa sebelah.

Pada Rabu (28/1/2026), YBS sempat tidur di rumah ibunya.

Keesokan harinya, YBS tak berangkat ke sekolah dan ditemukan meninggal di kebun milik nenek.

Ibu YBS, Maria Goreti Te’a (47), mengatakan kondisi tubuh anaknya kurang sehat sehingga dipesankan ojek untuk berangkat sekolah.

“Saya kaget ada kabar, dari tetangga, saya pikir anak saya ada pergi sekolah,” bebernya.

DISCLAIMER:

Pembaca yang merasa memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan, terlebih pernah terbersit keinginan melakukan percobaan bunuh diri, jangan ragu bercerita, konsultasi atau memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa.

Berbagai saluran telah tersedia bagi pembaca untuk menghindari tindakan tersebut.

Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.

Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada.

Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling.

Pembaca bisa menghubungi Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes (021-500-454) atau LSM Jangan Bunuh Diri (021 9696 9293) atau melalui email janganbunuhdiri@yahoo.com.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.