Perajin Lilin Imlek di Medan Pertahankan Produksi Tradisional di Tengah Penurunan Pesanan
February 04, 2026 07:27 PM

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Tradisi pembuatan lilin raksasa untuk perayaan Tahun Baru Imlek masih bertahan secara manual di Kota Medan.

Di tengah perkembangan produksi modern, salah satu perajin di Jalan Balai Desa, Gang Imam, Medan Polonia tetap mempertahankan metode tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Lilin merah berukuran besar merupakan bagian penting dalam ritual perayaan Imlek bagi masyarakat Tionghoa.

Selain berfungsi sebagai penerangan, lilin juga memiliki makna simbolis, yakni sebagai penerang spiritual, penolak energi buruk, serta lambang harapan akan keberuntungan, rezeki, dan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.

Dalam praktiknya, lilin biasanya dinyalakan selama rangkaian perayaan Imlek hingga Cap Go Meh sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan rasa syukur.

Karmen (65), perajin lilin yang meneruskan usaha milik mertuanya sejak awal 2000-an, mengatakan produksi lilin raksasa hanya dilakukan saat momen hari besar Tionghoa, terutama menjelang Imlek.

“Produksi dimulai dari memasak bahan baku lilin menggunakan rubber grade stearic acid sebagai pengeras.

Proses memasak memakan waktu sekitar dua sampai tiga jam menggunakan bahan bakar kayu. Setelah cair, lilin dimasukkan ke cetakan hingga membeku menjadi batangan, lalu dikeringkan selama empat hari dengan bantuan kipas angin,” ujarnya, Selasa (3/2/2026).

Ia menjelaskan, ukuran lilin yang diproduksi bervariasi, mulai dari tinggi 1,6 meter, 1,8 meter, hingga 2,2 meter.

Untuk bahan baku, sebagian diperoleh dari agen dalam negeri dan sebagian lainnya masih diimpor, termasuk plastik astralon sebagai pembungkus batang lilin yang tahan panas.

Untuk pemasaran, lilin produksinya tidak hanya dijual di Medan, tetapi juga dikirim ke beberapa daerah seperti Pekanbaru, Jambi, Bengkalis, hingga Batam di Provinsi Riau.

Dari sisi harga, lilin ukuran 1,6 meter dibanderol sekitar Rp3,7 juta. Sementara ukuran 1,8 meter dijual mulai Rp5 juta hingga Rp7,5 juta. Adapun lilin ukuran sekitar 2 meter dipasarkan pada kisaran Rp10 juta hingga Rp11,5 juta.

Menariknya, proses produksi masih dikerjakan secara sederhana dengan hanya satu pekerja. Bahkan, pembuatan motif naga pada batang lilin masih dilakukan secara manual.

Namun, Karmen mengaku jumlah pesanan tahun ini sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski begitu, ia tetap berkomitmen mempertahankan usaha keluarga sekaligus menjaga tradisi budaya yang telah berlangsung puluhan tahun.

(cr26/tribun-medan.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.