TRIBUNNEWSMAKER.COM - Pilu kehidupan seorang bocah SD yang nekat mengakhiri hidupnya diduga gara-gara tak mampu beli buku.
Bocah berinisial YBR(10) tersebut mengakhiri hidupnya sendiri di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sang ibu kandung, Maria Goreti syok saat mendapati sang anak telah tiada dengan cara yang memilukan.
Dikatakan Maria, sebelum YBR mengakhiri hidup, ia sempat mengeluh pusing dan tidak mau berangkat ke sekolah.
Namun karena khawatir ia tertinggal pelajaran, sang ibu tetap memintanya masuk sekolah.
Hingga siang harinya, kabar duka itu datang.
YBR merupakan anak bungsu dari lima bersaudara.
Sejak berusia 1 tahun 7 bulan, ia diasuh oleh neneknya di pondok berdinding bambu, ukuran 2x3 meter.
Ayahnya telah merantau ke Kalimantan sejak 11–12 tahun lalu dan tak pernah kembali.
Baca juga: Miris Bocah SD di NTT Nekat Akhiri Hidup, Rocky Gerung Singgung Prabowo: Harga Buku Berapa Sih?
Sedangkan sang ibu, bekerja sebagai petani dan buruh serabutan.
Meski usianya masih belia, namun YBR kerap membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar.
Saking susahnya, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya untuk makan sehari-hari.
Pisang dan ubi menjadi menu paling sering mereka makan.
Baca juga: Cerita Ibu Kandung Bocah SD yang Akhiri Hidup di Ngada, Mengaku Anak Sempat Mengeluh Sakit Kepala
Selama ini keluarga YBR tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah.
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ngada, Gerardus Reo buka suara terkait hal tersebut.
Ia menemukan persoalan administrasi kependudukan yang membuat keluarga korban luput dari sistem bantuan pemerintah.
Ibu korban diketahui masih ber-KTP Kabupaten Nagekeo, meski telah 11 tahun tinggal di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada.
"Ibu korban masih ber-KTP Nagekeo. Saat itu juga kami langsung mendata dan memproses pindah penduduk.
Besok, seluruh dokumen kependudukan sudah selesai,” jelasnya, dikutip dari Kompas.com, Rabu (4/2/2026).
(Tribunnewsmaker.com/ Listusista)