Kondisi Sehari-hari Bocah d NTT Sebelum Bernasib Pilu karena Tak Mampu Beli Pena, Sering Makan Ubi
February 04, 2026 06:14 PM

 


TRIBUNJATIM.COM- Inilah keseharian bocah di NTT yang nekat membahayakan hidup karena tak mampu beli alat tulis.
 
Korban sehari-hari ternyata lebih sering mengonsumsi ubi.
 
Dilansir dari Tribunnews, YBR (10), seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur, membahayakan diri.

Dia memutuskan membahayakan hidup setelah putus asa terhadap apa yang dialaminya.

Sebelum ditemukan tewas di pohon cengkeh pada Kamis (29/1/2026), YBH meminta uang untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp 10.000.

Namun, MGT (47), ibunya, mengaku tidak mempunyai uang.

Baca juga: Kasus Pembantaian 1 Keluarga di Pacitan Batal Demi Hukum, Pelaku Tewas Diduga Mengakhiri Hidup

Keseharian Siswa SD di Ngada sebelum meninggal .

YBR, anak bungsu dari lima bersaudara, menjalani masa kecil yang penuh keterbatasan.

Sejak berusia 1 tahun 7 bulan, ia tak lagi tinggal bersama ibu kandungnya dan diasuh oleh sang nenek di sebuah pondok sederhana berdinding bambu.

Ayahnya telah merantau ke Kalimantan sejak lebih dari satu dekade lalu dan tak pernah kembali.

Kehilangan figur kepala keluarga membuat kehidupan YBR dan saudara-saudaranya berada dalam tekanan ekonomi berkepanjangan.

Sehari-hari, selain bersekolah, YBR membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar.

Untuk makan, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya. 

Pisang dan ubi menjadi menu paling sering tersaji di meja makan keluarga kecil itu.

Pantauan lapangan dan keterangan warga menunjukkan keluarga YBR hidup dalam kondisi serba terbatas.

Pengasuhan anak-anak terpisah, pendampingan emosional minim, dan akses pendidikan pun terbatas.

Ironisnya, keluarga ini luput dari berbagai bantuan pemerintah, baik rumah layak huni, pendidikan, maupun bantuan sosial.

Dari lima anak, hanya dua yang sempat menikmati pendidikan formal secara berkelanjutan.

Kronologi

 
YBR ditemukan meninggal dunia di pohon cengkeh, Kamis (29/1/2026) siang. 
 
Saat ditemukan, korban tampak mengenakan baju olahraga berwarna merah.

Informasi yang diperoleh, saat mengevakuasi korban, warga menemukan sebuah pesan tertulis yang ditujukan kepada sang ibunda.  

Pesan itu ditulis pada sebuah kertas berwarna putih.

Surat untuk Mama

Dalam selembar surat yang ditulis menggunakan bahasa daerah (bahasa Bajawa). 

Kertas Ti'i Mama Reti"
Mama galo Ze'e
Mama Molo, Galo Ja'o Mata, Mama  Ma'e Rita ee Mama

Mamo Galo Ja'o Mata, Ma'e Woe Rita Ne Gae Nga'o ee


MOLO MAMA

Menurut sumber warga asli Bajawa, isi surat itu adalah:

kertas untuk mama Reti

Mama terlalu kikir (pelit)

Mama baik sudah, kalau saya mati mama jangan menangis ee mama. 

Mama, saya kalau mati jangan menangis dan cari saya ee. 

Baik sudah mama atau selamat tinggal mama

Kepolisian menyatakan dugaan awal mengarah pada tindakan membahayakan diri, namun proses penyelidikan masih berlangsung.

Aparat telah memeriksa sejumlah saksi dan mengamankan barang bukti berupa pesan tertulis yang diduga dibuat korban sebelum kejadian.

Polisi menegaskan pendalaman dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan kondisi keluarga dan lingkungan sosial korban.


Pengakuan Ibu Korban

Maria Goreti Te’a (47) ibu kandung dari YBR (10) menceritakan pagi terakhir sebelum tragedi itu, Yohanes (10) mengeluh pusing.

YBR juga tidak mau berangkat ke sekolah. 

Namun karena khawatir ia tertinggal pelajaran, sang ibu tetap memintanya masuk sekolah dan mengantar dengan ojek.

Siang harinya, kabar duka itu datang, menghantam keluarga tanpa peringatan. 

Sang ibu kaget mendengar kabar yang tak seharusnya datang.

“Saya kaget ada kabar, dari tetangga, saya pikir ada pergi sekolah,” ungkap Maria, saat dijumpati di rumah duka, Selasa (3/2/2026).

DISCLAIMER:

Pembaca yang merasa memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan, terlebih pernah terbersit keinginan melakukan percobaan membahayakan diri, jangan ragu bercerita, konsultasi atau memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa.

Berbagai saluran telah tersedia bagi pembaca untuk menghindari tindakan tersebut.

Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan membahayakan hidup. Anda tidak sendiri.

Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada.

Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling.

Pembaca bisa menghubungi Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes (021-500-454) atau LSM Jangan Bunuh Diri (021 9696 9293) atau melalui email janganbunuhdiri@yahoo.com.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.