Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Michaella Uzurasi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Peneliti sekaligus Dosen Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan Universitas Nusa Cendana, Ir. Marthen L. Mullik, Pg.Dip. Agr. St. PhD IPM, mengungkapkan sejumlah permasalahan yang dihadapi dalam mengembangkan domba Rote.
Hal ini disampaikannya dalam Undana Talk, Rabu, 04/02/2026 bersama Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Rote Ndao, Hermanus Haning, S.Pt, yang dipandu oleh host jurnalis Pos Kupang, Ella Uzurasi.
Apa saja permasalahan tersebut, berikut cuplikan wawancara eksklusif bersama Pos Kupang.
Kenapa anda tertarik dengan domba Rote?
M : Sebenarnya karena saya orang Rote jadi dari kecil itu sudah biasa gembala domba jadi untuk mengenal domba Rote itu sudah sejak kecil karena sejak lahir punya domba tapi kemudian dari sisi akademik itu menjadi menarik bahwa domba Rote ini hanya ada di Rote tidak ada di mana-mana tapi kok sepertinya orang tidak tahu.
Padahal daging domba itu disukai sehingga saya secara pribadi penasaran, apa sih masalahnya domba ini seperti diam-diam di sana tidak dikenal sementara kita tahu daging domba itu merupakan satu produk yang sangat disukai orang.
Itulah yang membuat saya beberapa tahun terakhir ini mulai berpikir secara akademik apa yang salah dengan domba.
Dari situ mulailah melakukan riset-riset kecil-kecilan. Tahun lalu itu pemerintah daerah juga mulai berkomitmen untuk membuatnya menjadi komoditas unggul melalui riset, makanya tantangannya adalah bagaimana riset-riset selanjutnya untuk memastikan bahwa cita-cita untuk membuatnya jadi produk unggulan itu bisa terjadi karena banyak sekali permasalahan.
Domba Rote, kita baru menyebutnya secara tegas bahwa itu adalah satu-satunya jenis domba yang rumpunnya ada di Rote, yaitu tahun lalu perjuangan Dinas Peternakan Rote Ndao untuk mengusulkan secara regulasi, ditetapkan secara nasional oleh Kementerian Pertanian menjadi rumpun domba Rote. Itu berarti sudah direcognisi sebagai plasma nuftah Indonesia yang ada di Rote.
Pak Kadis, untuk sekarang, bagaimana populasi dan penyebaran domba Rote di Rote Ndao?
H : Seperti yang sudah disampaikan oleh bapak Mullik tadi bahwa memang domba Rote ini sudah ada pada tataran masyarakat Rote, petani dan peternak sudah sejak lama dan memang sejatahnya juga sedikit catatan bahwa disinyalir asal mulanya dari negara India melalui perdagangan masuk ke Nusa Tenggara melalui Maluku sehingga saat ini sebarannya di 11 kecamatan di Rote Ndao ini ada di hampir semua kecamatan, populasi saat ini sudah di angka 29 ribu lebih yang tercatat.
Jika berada di hampir semua kecamatan berarti domba Rote ini punya posisi dalam identitas lokalnya, ekonomi dan budaya?
Ya, karena memang domba ini sudah ada pada tataran masyarakat Rote Ndao sejak abad 16 sebelum Masehi sehingga karena dasar itulah, seperti yang disampaikan oleh bapak Mullik tadi, untuk kedepan, karena domba ini sudah menyatu dengan masyarakat Rote maka tentu kita juga membutuhkan pengakuan atas penetapan rumpun tadi.
Nah mengenai nilai ekonomis kalau kita lihat saat ini, sejak lama domba ini dalam tataran kegiatan adat istiadat dan sebagainya memang sudah dengan kita masyarakat Rote Ndao.
Karena itu kita merasa ini nilai ekonomis sangat tinggi.
Pak Marthen, apa yang unik dari domba Rote jika dibandingkan dengan jenis domba yang lain?
M : Domba Rote ini kan termasuk jenis domba yang dalam kategori postur tubuh kecil kemudian tampilan fisiknya itu karena di daerah panas sehingga bulunya pendek, tidak tebal seperti domba di daerah dingin kemudian dari sisi budidaya, mudah sekali dipelihara dan beradaptasi dengan lingkungan panas sehingga sejak didatangkan ke Rote pertengahan abad ke 16, sampai sekarang populasinya terus naik dan bisa bertahan dalam lingkungan seperti itu dan cara pemeliharaannya sederhana sehingga secara karakteristik kemampuan adaptasi itu sangat cocok dengan daerah yang panas, maka cocok di daerah iklim panas seperti Rote.
Kemudian karakteristik lain adalah adaptasi terhadap penyakit juga tinggi sehingga tidak mudah mati, kemampuan memanfaatkan pakan atau nutrisi, rumput-rumput berkualitas rendah dia masih bisa hidup dibandingkan dengan jenis domba lain yang mungkin akan payah jika dikasih makan seperti itu apa adanya.
Secara keunggulan lokal, itu dia memiliki keunggulan genetiknya, fisiknya, adaptasinya sehingga berbeda dari domba-domba dari daerah lain karena seperti tadi pak Kadis katakan bahwa disinyalir berasal dari India, kemudian menyebar ke sini tapi melalui berjalannya waktu dan lingkungan kemudian mengalami adaptasi.
Artinya, genetiknya juga dari sisi penelitian-penelitian yang sudah dilakukan, agak berbeda dengan domba di tempat lain tetapi kerabatnya mendekati yang di Seram, Maluku, kemudian yang di Seram juga mendekati yang di India sehingga ditariklah.
Jadi karakteristiknya sangat spesifik, itulah sebabnya maka tahun lalu ditetapkan oleh kementerian sebagai domba Rote secara plasma nuftah nasional.
Risetnya sudah dilakukan sebelumnya tetapi belum terencana secara baik sehingga mulai penetapan tahun lalu, kemudian Undana dengan pemda juga dengan IPB mulai mengerucutkan risetnya untuk menjadikannya sebagai komoditas yang spesifik tetapi unggul untuk Rote Ndao.
Bagaimana pihak pemda Rote Ndao menanggapi ini?
H : Benar apa yang disampaikan oleh bapak Mullik tadi, dengan adanya penetapan rumpun domba Rote ini tentu merupakan satu pengakuan secara nasional bahwa genetik domba Rote itu diakui sebagai salah satu genetik nasional yang ada di Rote.
Tugas kita saat ini adalah bagaimana upaya-upaya kita pemerintah daerah, khususnya dinas teknis, Dinas Peternakan untuk kelanjutan dari genetik ini.
Paling tidak produksi dan produktivitasnya kita tingkatkan dengan upaya-upaya yang kita lakukan melalui program kegiatan yang tentunya kita mempertahankan aset daerah atau lokal Rote Ndao yang sudah mendapatkan pengakuan secara nasional yang dimana tentunya ini kekhasan kita juga di Rote.
Karena itu, kiat-kiat pemerintah daerah saat ini adalah bahwa tentu dari cara pemeliharaan kita, pengembangan pakan dan lain sebagainya ini dilaksanakan demi keberlanjutan daripada produksi dan produktivitas kedepannya dari keberadaan genetik kita yang khas dan berharga menjadi produk unggulan di Rote Ndao saat ini.
Jadi memang karena pertimbangan itulah, ketika ada pengukuhan rumpun domba Rote pada tanggal 5 Agustus 2025 kemarin, secara teknis kami dari Dinas Peternakan mengusulkan satu program dimana sekarang ini kita rencanakan percontohan perbibitan yang kita kemas sedemikian dengan kandang yang tersendiri kemudian cara pemeliharaannya kita sesuaikan dengan yang seharusnya, dengan penyediaan pakan yang baik, terus kita mengukur produksi dan produktivitasnya, pertambahan bobot badannya, semua itu kita laksanakan karena memang dasarnya adalah ketika ada riset-riset dari universitas, kami juga berterimakasih kepada bapak Mullik pada tahun kemarin kita juga lakukan kerjasama dengan IPB Bogor, Prof. Asep waktu itu bersama tim, sehingga memang domba Rote ini ketika diteliti, kualitas dagingnya itu masuk kualitas daging premium.
Karena semua hasil riset itu menjadi masukan yang berharga bagi pemerintah daerah, secara teknis terjemahannya kami lewat Dinas Peternakan untuk bagaimana mempertahankan dan bagaimana meningkatkan produk lokal kita yang sangat berharga dan tentunya bernilai ekonomi tinggi bagi masyarakat petani peternak kita.
Sebagai wujud nyata apakah kedepan akan ada regulasi yang mengatur, atau sudah ada?
Sesungguhnya itu sudah ada, sekarang itu bagaimana Dinas Peternakan membuat percontohan-percontohan seraya memberikan edukasi-edukasi positif kepada masyarakat peternak kita akan pentingnya produk lokal kita yang sudah ada pengakuan secara nasional sehingga produk-produk ini kita pertahankan baik dari regulasinya maupun dari cara pemeliharaannya kita mempertahankan genetik nasional yang ada di Rote Ndao saat ini.
Pak Marthen, selama satu tahun berjalan, apa tantangan yang dihadapi tim peneliti di lapangan?
Sebenarnya permasalahan yang kita temui berkaitan dengan riset domba, karena kita umpamakan seperti ini, domba Rote selama ini tidak diperhatikan, kita anggap ini kebun yang baru mau dibuka jadi kita baru mulai lihat apa masalahnya sehingga ini belum banyak mengarah kepada hasil-hasil riset yang aplikatif tetapi lebih banyak pemahaman akan persoalan.
Tim riset Undana itu tim besar yang menyangkut semua, mulai dari hulu sampai ke hilir, sampai pemasaran sehingga kita memetakan persoalan-persoalan mulai dari aspek budidaya ternaknya, pemeliharaannya seperti apa, makanannya, bagaimana kesehatannya, pertumbuhannya, bagaimana nilai ekonomi dan nilai budaya bagi masyarakat.
Jadi dari potret yang kita dapat akhirnya kita bisa lihat mulai dari sisi budidaya, itu persoalan utamanya adalah makanannya susah karena digembalakan begitu saja di hutan atau di sawah-sawah yang sudah dipanen, kemudian tempat penggembalaan juga ada begitu banyak gulma jadi ternak ini dari sisi makannya sengsara.
Kalau sudah begitu bagaimana kita bisa mendapatkan pertumbuhan yang baik? Jadi pertama, makanannya yang jadi tantangan sehingga kedepannya salah satu yang kita fokuskan adalah bagaimana bersama masyarakat, atau seperti yang pak Kadis katakan tadi, kita buat percontohan-percontohan dari sisi penyediaan makanaan yang baik itu seperti apa.
Lalu kesehatannya tidak diurus akhirnya banyak yang mati.
Dari data kita itu tingkat kematian dari yang lahir itu sekitar 37 persen. Berarti kalau ada 10 ekor lahir, 4 ekor mati.
Ada yang karena tidak diurus, ternaknya kurus lalu terjadi infeksi, walaupun tidak mati.
Belum lagi ternak domba ini dipelihara kemudian perkawinan antar saudara itu berlangsung terus menerus akhirnya mutu genetiknya juga turun terus.
Dari sisi pertumbuhan itu pertambahan berat badan rendah sekali. Prosentase daging dan karkas itu cuma sekitar 40 persen artinya kalau beratnya 10 kilogram, yang bisa dimakan 4 sampai 5 kilogram, sisanya dibuang.
Jadi banyak sekali. Dagingnya sendiri masih tergolong alot karena pemeliharaannya tapi kan mudah diatur.
Komposisi dagingnya itu kandungan kolesterol dan lemak masih agak tinggi dan itu biasanya orang-orang tua agak sensitif sehingga salah stau riset kedepan itu adalah bagaimana menurunkan kadar lemak dan kolesterol di dalam daging, dari sisi teknologi mudah sekali dilakukan. (uzu)