Rekam Jejak Hana Belladina, Ketua Umum GINSI Jatim, Pengusaha Rempah Rempah Yang Asli Tuban
February 04, 2026 07:32 PM

 

SURYA.co.id SURABAYA - Dibesarkan dari keluarga pengusaha membuat Hana Belladina seperti buah jatuh tak jauh dari pohonnya. 

Sejak muda, perempuan kelahiran Tuban tahun 1993 ini sudah melihat kegiatan usaha orangtuanya yang bergerak dibidang industri kerajinan perhiasan.

"Tapi saya setelah menikah memilih usaha rempah-rempah ini. Awalnya dengan bahan baku lokal saya buat aneka jenis rempah kemudian saya jual ke industri dan terus berkembang hingga ekspor," kata Bella, sapaan akrab Hana Belladina, ditemui Surya.co.id, Rabu (04/02/2026).

Impor Bahan Baku Rempah

Karena permintaan yang meningkat membuat Bella harus mencari bahan baku dari luar negeri alias impor. Dia pun akhirnya mendapatkan bahan baku itu dengan impor dari India.

Permintaan produk rempah baik untuk industri makanan dan minuman dari dalam negeri maupun ekspor mendorong kebutuhan impor bahan baku terus meningkat. 

Baca juga: Importir Baju Bekas Kini Diincar Pajak, Menkeu Purbaya: Jangan Main-Main Lagi dengan Pemerintah

Hal ini tidak hanya berdampak pada peningkatan usahanya saja, namun Bella juga akhirnya banyak berkecimpung bersama para pengusaha importir lainnya di Jawa Timur (Jatim).

"Kemudian saya gabung dalam GINSI (Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia) sejak tahun 2000 an. Dan periode yang lalu sebagai wakil bendahara bersama pengurus lainnya dibawah Ketua Umum GINSI periode 2020-2025 Bambang Sukadi," ungkap Bella.

Menahkodai organisasi yang identik dengan mayoritas laki-laki dan usia yang senior, menjadi tantangan tersendiri bagi Bella yang masih berusia 32 tahun. 

Ibu dua anak yang salah satunya masih balita ini, mengaku dirinya telah menegaskan komitmennya untuk menjadikan GINSI Jatim sebagai organisasi yang adaptif, solutif, dan mampu menjadi jembatan antara anggota dengan pemerintah.

“GINSI harus hadir memberi kepastian, pemahaman, dan perlindungan bagi anggotanya dalam menjalankan kegiatan impor secara legal dan efisien,” terang Bella.

Apalagi dia melihat kegiatan impor merupakan hal yang penting di Jatim. Mengingat hampir 80 persen impor di Jatim adalah untuk kebutuhan bahan baku industri.

"Kontribusi impor dalam mendukung pertumbuhan ekonomi di Jatim sangat besar. Apalagi di tahun 2026 ini, Bank Indonesia Jatim telah memprediksi pertumbuhan ekonomi Jatim bisa berada di kisaran 5,6 persen. Tentunya dukungan pelaku usaha importir sangat penting," beber alumni S1 Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jawa Timur dan S2 Magister Ilmu Komunikasi Universitas dr Soetomo Surabaya ini.

Tantangan lainnya adalah regulasi impor dari pemerintah yang seringnya berganti-ganti. Dan regulasi tidak hanya dari satu instansi tapi melibatkan banyak instansi.

"Selama ini para importir selalu kerepotan menghadapi  regulasi yang dikeluarkan instansi - instansi pemerintah terkait produk impor maupun administrasi impor. Antar instansi berbeda-beda dan sering berubah. Mulai dari Bea Cukai, layanan kepelabuhan, balai karantina dan lainnya," lanjut Bella.

Komitmen Di GINSI 

Karena itu, melalui GINSI ada jembatan antara para pengusaha importir untuk memahami dan belajar bila ada regulasi baru dari pemerintahan. 

Juga bisa sebagai wadah untuk menerima masukan, keluhan dan kebutuhan dari para importir terkait dengan regulasi dari pemerintah.

Tahun 2026 ini hingga tahun-tahun mendatang, ditengah kondisi ekonomi global yang tidak bisa diprediksi dengan perubahan-perubahannya serta dampak geopolitik global, Bella menyebut, para importir harus tetap struggle dan mampu bertahan dan bertumbuh.

"Potensi industri impor masih sangat luas. Dengan teknologi yang semakin maju, masih bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan industri impor ke berbagai sektor," ujar Bella.

Meski diakuinya saat ini, kontribusi impor terbesar di Jatim adalah bahan baku untuk besi dan baja. Namun masih banyak sektor lain yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan kontribusinya dalam tahun-tahun kedepan.

"Diantaranya bahan baku untuk industri mamin (makanan dan minuman), industri kerajinan dan perhiasan, dan manufaktur lainnya yang masih cukup besar di Jatim," pungkas Bella. 
 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.