Ulyas Thaha Beberkan Peran KKIG untuk Masyarakat Gorontalo di Sulawesi Utara
February 04, 2026 11:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Ketua Kerukunan Keluarga Indonesia Gorontalo (KKIG) Provinsi Sulut Dr. Drs. KH. Ulyas Taha M.Pd tampil menjadi narasumber Tribun Podcast, Rabu sore 4 Februari 2026.

Bincang-bincang berlangsung di Studio Tribun Manado, Jalan AA Maramis, Kelurahan Kairagi 2, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Sulut.

Edisi kali ini membahas Peran KKIG untuk Warga Rantau Gorontalo di Sulawesi Utara.

Selain sebagai Ketua KKIG Sulut, Ulyas Taha juga merupakan Kepala Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Utara.

Ia juga sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Utara.

Tribun Podcast edisi hari ini dipandu Pemimpin Redaksi Tribun Manado Jumadi Mappanganro.

Berikut petikan wawancara dengan Ulyas Taha yang tampil mengenakan kemeja dan kopiah karanji, kopiah khas Gorontalo:

Tribun Manado: Apa visi besar Anda memimpin KKIG Sulut?

Ulyas Taha: Secara umum, visi dari KKIG yaitu bagaimana kita melakukan penguatan solidaritas warga rantau untuk mendukung terwujudnya pembangunan di daerah di mana kita berasal.

Kita juga melakukan penguatan partisipasi warga rantau di mana dia berada.

Mengapa kita membangun solidaritas rantau? Karena biasanya orang yang datang dari daerah itu mereka memiliki semangat kerja dan etos kerja yang luar biasa.

Orang di rantau memiliki etos kerja yang kuat, sehingga mereka disuguhkan dengan pekerjaan yang sendiri-sendiri.

Sehingga mereka itu kita himpun dalam sebuah kerukunan agar solidaritas itu tetap ada, dan silahturahmi itu tetap terjaga.

Makanya motto kami yaitu yang jauh didekatkan dan yang dekat dieratkan.

Tribun Manado: Apa motivasi Anda bersedia mengemban amanah sebagai Ketua KKIG Sulut?

Ulyas Taha: Semua orang memiliki gaya masing-masing. Kemudian memiliki pandangan masing-masing.

Bagi saya memimpin organisasi dan memimpin lembaga adalah sebuah ibadah.

Sebagai Kakanwil Agama, tentunya ini adalah amanah yang diberikan oleh negara. Bagaimana memimpin agar ASN di Kementerian Agama itu bekerja dengan baik untuk mencapai dan mewujudkan visi dari Kementerian Agama.

Kita juga sebagai makhluk sosial, harus peduli kepada orang-orang yang bukan ASN yaitu masyarakat-masyarakat tertentu, pada segmen-segmen tertentu.

Misalnya kalau dalam segmen keagamaan, ada orang-orang yang hidup dalam kelompok-kelompok pembinaan keagamaan, maka disitu saya bisa bergerak dalam sosial keagamaan melalui organisasi Nahdlatul Ulama.

Sebagai perantau warga Gorontalo, tentu kita juga memiliki warga perantau yang sama-sama berasal dari daerah yang sama, butuh sapaan kita, butuh sentuhan kita, maka itu bisa kita lakukan melalui organisasi KKIG.

Jadi, motivasi utamanya adalah bagaimana kita bermanfaat bagi orang lain semasa kita hidup dan semasa kita masih mampu untuk memberi kepada orang lain.

Organisasi ini kita jadikan wadah untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Tribun Manado: Bagaimana Anda menyelaraskan nilai-nilai religius dengan nilai-nilai kultur masyarakat Gorontalo dalam memimpin KKIG?

Ulyas Taha: Masyarakat Gorontalo adalah masyarakat religius. Dulu orang mengatakan bahwa Gorontalo itu 100 persen Islam.

Ada agama-agama tertentu yang dianut oleh masyarakat Gorontalo, sehingga kita itu kemudian memiliki semboyan Adat bersendikan Syara', Syara' bersendikan Kitabullah.

Kenapa bersendikan Kitabullah karena memang didasarkan pada ajaran Islam.

Yang memang notabenenya masyarakat Gorontalo adalah masyarakat religius, masyarakat yang beragama Islam.

Adat yang tidak bertentangan dengan syariat Islam, itu harus kita tumbuh-kembangkan.

Di Gorontalo itu banyak kebiasaan. Banyak adat yang tumbuh dan itu tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Misalnya, mandi lemon bagi anak yang baru dilahirkan. Lalu bagi orang yang hamil 7 bulan itu juga ada adatnya. Kemudian orang menikah juga ada tradisinya. 

Pada dasarnya, ada adat-adat seperti itu untuk memperkuat sebuah tatanan adab, yang pada dasarnya kita melandaskan itu pada ajaran-ajaran agama.

Oleh sebab itu, bagi masyarakat Gorontalo, memperkuat adat itu sama dengan memperteguh keyakinan terhadap agama yang dianutnya.

Tribun Manado: Apa saja program unggulan KKIG Sulut untuk masyarakat Gorontalo di Sulut?

Ulyas Taha: Jumlah masyarakat Gorontalo yang merantau di Sulut itu kurang lebih 300 ribu.

Segmennya paling banyak itu di perdagangan. Di pasar menjadi pedagang, ada sebagian menjadi abdi negara, ada sebagian menjadi politisi. 

Maka kami sepakat dalam musyawarah daerah, memprioritaskan beberapa program menjadi program unggulan bagi KKIG periode 2025-2029.

Pertama, kami ingin mengembangkan penguatan ekonomi warga rantau.

Kita ingin membangun kemandirian ekonomi dari KKIG.

Sehingga bisa lebih produktif dalam bidang ekonomi untuk mendukung warga rantau yang notabene bergerak di bidang perdagangan dan ekonomi.

Kami ingin organisasi KKIG yang notabene menjadi tumpuan warga, bisa memberi nilai tambah bagi mereka, yang kemudian kita kelola sebagai sebuah wadah yang bermanfaat.

Tribun Manado: Bagaimana peran KKIG menjaga kerukunan antar umat beragama di Sulut?

Ulyas Taha: Dulu kita pernah memiliki semboyan Bohusami (Bolaang Mongondow, Hulondalo, Sangihe, Minahasa).

Istilah Bohusami tidak bisa dilepaskan sampai hari ini.

Hubungan itu tidak pernah hilang, secara kultural, secara emosional terbangun terus.

Kami warga Gorontalo di Sulut merasa menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Sulawesi Utara.

Kami di beberapa kesempatan selalu berusaha dan melakukan dialog.

Dan dalam dialog-dialog itu tercipta nostalgia.

Itulah yang menjadi penguatan kerukunan yang ada di Sulawesi Utara. 

Karena kita didukung dengan kekuatan emosional yang sulit dipisahkan.

Tribun Manado: Bagaimana memastikan warga Gorontalo di Sulut tetap bisa menjaga identitas aslinya tapi tetap bisa menyatu dengan budaya lokal Sulawesi Utara?

Ulyas Taha: Orang Gorontalo boleh hidup dimana saja, tapi dia tidak boleh meninggalkan adat budayanya.

Disini pun adat-adat Gorontalo masih tetap dihidupkan. 

Kita juga tidak mengabaikan nilai-nilai budaya dimana kita berada.

Kita tetap menghargai budaya Minahasa, kita menghargai budaya bugis yang ada disini, jawa, dan seterusnya.

Tugas dari KKIG ini, selain pengembangan ekonomi, kita merawat adat dan budaya, kita membangun hubungan kerjasama, dan seterusnya.

Tribun Manado: Adakah program khusus KKIG dalam merawat atau melestarikan budaya Gorontalo di daerah rantau?

Ulyas Taha: Yang paling utama itu yakni menumbuhkan budaya-budaya Gorontalo di warga rantau yang ada di sini.

Misalnya ada yang mau nikahkan anak, kita punya pemangku adat disini.

Pemangku adat itu orang yang mampu untuk menerapkan adat Gorontalo dan bahkan pada hal-hal tertentu, kami menghadirkan pemangku adat dari daerah asal.

Yang kedua, kita juga selalu mengimbau kepada warga rantau tetap mengajarkan membiasakan anak-anak untuk bisa berbicara bahasa daerah Gorontalo.

Bahasa itu menunjukan bangsa. Bagaimana kita bisa merawat adat istiadat, kebiasaan yang baik dari daerah kita, tapi kita tidak mengetahui bahasa.

Alat komunikasi yang paling beradab itu adalah Bahasa daerah.

Kalau sudah tidak punya Bahasa, maka kita kehilangan identitas.

Tribun Manado: Bagaimana komunikasi KKIG Sulut dengan KKIG di daerah lain?

Ulyas Taha: Komunikasi kita lebih gampang. Bisa melalui telepon.

Misi kita sama yaitu melakukan penguatan solidaritas warga rantau untuk mewujudkan pembangunan.

Kita sering sharing terkait hal-hal yang bisa dikembangkan.

Karena memang ada kesamaan program dari KKIG di Seluruh Indonesia.

Sulawesi Utara jadi rujukan KKIG seluruh Indonesia karena disini paling besar jumlahnya.

Tribun Manado: KKIG membeli lahan khusus untuk pekuburan, itu seperti apa?

Ulyas Taha: Kami 4 tahun lalu sudah punya. Kita memiliki lahan pekuburan yang ada di Buha. Luasnya 1 hektar sekian.

Kami proses pada empat tahun yang lalu, tetapi sampai hari ini belum bisa difungsikan karena masih ada berbagai kendala teknis, termasuk perijinan peruntukan lahan pekuburan.

Kami juga menyiapkan tanah selain menjadi pusat pekuburan, tapi juga bisa jadi pusat pengembangan budaya Gorontalo.

Tribun Manado: Bagaimana anda membagi waktu dan menjaga kesehatan?

Ulyas Taha: Intinya kita harus mampu mengatur waktu, jangan waktu yang mengatur kita.

Kita harus tahu kapan waktu bekerja, kapan waktu kita berpikir, kapan waktu kita untuk bermain. 

Jangan disaat kita bermain, kita berpikir. Jangan disaat kita berpikir, kok main-main.

Jadi intinya kita mengatur waktu.

Waktu yang bisa kita atur, kemudian kita bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat, maka itu akan muncul menurut keyakinan saya yaitu keberkahan.

Keberkahan itulah yang akan membuat kita sehat.

Ketika kita melakukan sesuatu tidak perlu yang terlalu memaksakan diri.

Tribun Manado: Apa harapan besar sebagai ketua KKIG Sulut?

Ulyas Taha: Karena kita adalah warga rantau yang paling terbesar, maka waktu yang sama kita juga memiliki problem yang paling banyak.

Warga kita masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan, ada yang di bantaran sungai, ada yang di tempat tertenutu, ada yang mungkin sudah yatim piatu yang tidak bisa kita pantau, ada yang usahanya tidak baik-baik saja.

Maka harapan kami sebagai orang yang diberi kepercayaan untuk memimpin organisasi yang menjadi wadah bagi warga rantau Gorontalo adalah bagaiman agar mereka bisa kita jamah, kita bisa sapa, kita bisa sentuh.

Sentuhan kita mungkin belum maksimal, tapi paling tidak ada usaha-usaha, ada keinginan-keinginan, ada harapan kecilpun itu bisa kita lakukan.

Jangan sampai kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Oleh sebab itu kita ingin kedepan kita tidak mau lagi mendengar ada warga rantau Gorontalo yang misalnya hidup di tempat-tempat yang tidak layak. 

Tribun Manado: Apa pesan khusus Anda untuk warga rantau Gorontalo yang ada di Sulut?

Ulyas Taha: Pertama untuk teman-teman pengurus, mari kita jadikan KKIG sebagai tempat pengabdian, menjadi tumpuan warga rantau menaruh harapan mereka.

Untuk warga rantau Gorontalo, kita memiliki wadah ini, mari sampaikan hal-hal yang perlu disampaikan melalui kami pengurus.

Kemudian, marilah kita menjadi warga rantau yang baik untuk hidup dimanapun kita berada dan tetap berpartisipasi dalam pembangunan di Sulawesi Utara dan di wilayah kita berada.

Tetaplah kita menjadi penduduk yang baik dan taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku, sehingga kita tidak melanggar aturan-aturan yang ditetapkan pemerintah, dan menjadi warga Sulawesi Utara yang baik.

(TribunManado.co.id/Ico)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.