- Kasus siswa SD berinisial YBR yang meninggal diduga mengakhiri hidup gara-gara tak mampu membeli alat tulis menjadi sorotan publik.
Sejumlah tokoh menilai kasus tersebut sebagai bentuk kegagalan negara.
Kasus tersebut juga dianggap telah mencederai dunia pendidikan nasional.
Terkait hal itu pihak sekolah tempat korban menuntut ilmu mengaku tidak tahu jika korban kekurangan alat tulis.
Pernyataan itu disampaikan oleh Kepala UPTD SD Negeri Rutojawa, Maria Ngene pada Rabu (4/2).
Maria mengatakan pihak sekolah tidak mengetahui secara rinci terkait kondisi YBR.
Menurutnya pemantauan kebutuhan pribadi siswa pada umumnya dilakukan oleh wali kelas masing-masing.
Selama proses belajar mengajar, YBR disebut tidak pernah menyampaikan keluhan soal kekurangan alat tulis.
YBR juga disebut tidak menunjukkan kendala yang menonjol ketika mengikuti kegiatan belajar mengajar.
"Biasanya wali kelas yang lebih mengetahui. Apalagi ini awal semester, mungkin kebutuhannya belum sempat dipenuhi,” ujarnya.
Maria mengakui bahwa pemantauan kondisi sosial siswa di sekolah memiliki keterbatasan.
Pemantauan itu terbatas karena jumlah peserta didik dan minimnya laporan langsung baik dari siswa maupun keluarga.