Siswa SD yang Akhiri Hidup di NTT Tak Pernah Dapat Bantuan, Gubernur Melki Malu: Sistem Bobrok
February 05, 2026 09:10 AM

Kasus seorang siswa SD, berinisial YBR (10) yang mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli buku dan pena di NTT tengah menjadi perhatian publik.

Kondisi ini dinilai mencerminkan kemiskinan struktural yang dialami sebagian warga.

Keluarganya hidup dalam tekanan ekonomi panjang, namun tak mendapat bantuan pemerintah.

Kepala SD Negeri Rutojawa, Maria Ngene, mengatakan, YBR belum pernah menerima bantuan pendidikan.

Termasuk Program Indonesia Pintar atau PIP, sejak kelas 1 sampai kelas 3, karena YBR tidak memiliki Nomor Induk Kependudukan atau NIK.

“Sejak kelas satu sampai kelas tiga dia belum menerima bantuan karena belum memiliki Nomor Induk Kependudukan,” katanya, saat ditemui TribunFlores.com, Rabu (4/2/2026).

Sekolah kemudian menyarankan YBR dimasukkan ke Kartu Keluarga neneknya karena ibunya masih tercatat di KK Kabupaten Nagekeo.

Baru saat kelas 3, YBR masuk KK neneknya dan tahun ini sekolah mengusulkannya sebagai penerima PIP.

“Baru saat kelas tiga dia masuk Kartu Keluarga neneknya, karena ibunya masih terdaftar di Nagekeo,” kata Maria.

Dana bantuan sebesar 450 ribu rupiah sudah tercatat di rekening, namun pencairan gagal karena perbedaan domisili KTP ibunya.

Sementara, Gubernur NTT, Melki Laka Lena, mengaku malu dengan kasus ini.

Ia menyebut ini bukti negara gagal mengurusi warganya.

"Malu saya sebagai gubernur. Masa ada warga yang meninggal karena hal seperti ini," katanya.

Menurut Gubernur, kematian YBR menunjukkan kegagalan sistem sosial, keagamaan, dan pemerintahan.

"Pranata agama gagal, pranata sosial gagal, pemerintahan juga gagal," ujarnya.

Ia menegaskan, kemiskinan tidak seharusnya sampai merenggut nyawa warga negara.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.