Ada Gelar Magister di Balik Seragam Satpam Anam, Delapan Buku Ditulis Saat Jaga Kantor
February 05, 2026 09:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID- Setiap hari, Khoirul Anam (28) berdiri di depan pintu masuk BRI Kantor Cabang Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Dengan seragam satpam berwarna kuning, ia menyapa nasabah, mengarahkan antrean, dan memastikan keamanan berjalan sebagaimana mestinya.

Tak banyak yang tahu, di balik tugas rutin itu, Anam menyimpan perjalanan akademik yang panjang.

Ia adalah seorang magister, pemilik dua gelar sarjana, penulis delapan buku, serta penghasil belasan karya ilmiah yang terbit di jurnal nasional dan internasional.

Baca juga: Dijanjikan ke Arab Saudi, 5 Calon Pekerja Asal Kalsel Ini Diancam Bila Kabur Didenda Rp 5 Juta

Anam menuntaskan pendidikan S2 Manajemen di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma.

Sebelumnya, ia menyelesaikan S1 Manajemen di Universitas Pamulang melalui kelas karyawan sejak 2019.

Di waktu lain, ia juga meraih gelar S1 Pendidikan Agama Islam dari STIT Bustanul Ulum Lampung Tengah.

Menjalani studi sambil bekerja sebagai satpam bukan perkara ringan. Tantangan terbesarnya adalah waktu—yang kerap harus dibayar dengan kurang tidur.

“Untuk kesulitannya paling pengelolaan waktu. Terkadang kita korbankan waktu tidur untuk menyelesaikan penelitian,” ujar Anam, Selasa (3/2).

Di sela jam berjaga, Anam justru produktif menulis. Hingga kini, delapan buku ber-ISBN telah ia terbitkan dan tercatat di Perpustakaan Nasional.

Tiga buku lainnya masih dalam proses penulisan melalui program kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan lewat Dana Indonesiana.

Produktivitas itu mengantarkannya mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai satpam dengan karya ilmiah terbanyak. Penghargaan tersebut ia terima pada Jumat (30/1/2026).

Namun, jalan yang ditempuh Anam tak selalu mulus. Ia mengakui, keterbatasan biaya menjadi tantangan besar, terutama untuk publikasi di jurnal bereputasi.

“Kalau saya sih jujur dari segi pendanaan untuk publikasinya. Karena untuk publikasi jurnal maupun buku itu memerlukan biaya,” ucapnya.

Karena itu, ia harus menyesuaikan target publikasi dengan kemampuan finansialnya sebagai satpam.

Meski demikian, harapan untuk menembus jurnal bereputasi tetap ia simpan.

“Sangat pengin sih, Pak. Penginnya itu karya tulis saya itu terakreditasi mungkin Sinta 2, Sinta 3 begitu, atau Scopus 3, Scopus 4 gitu ya. Tetapi karena biaya tadi ya, dari saya belum bisa,” katanya.

Perjalanan hidup Anam sarat liku. Ia merantau dari Kabupaten Tanggamus, Lampung, ke Jakarta pada 2018 hanya bermodal Rp 1 juta.

Di tahun yang sama, ia sempat mengalami sakit berat hingga koma. Kondisi itu sempat membuat keluarganya pesimis terhadap masa depannya.

“Dari sakit itu sebenarnya sih ada motivasi. Saya harus hidup di umur kedua ini harus menjadi yang lebih baik,” ujar Anam.

Kini, di balik pintu bank yang dijaganya setiap hari, Anam terus menulis dan belajar.

Ia bercita-cita menjadi pengajar, guru atau dosen di masa depan.

Baca juga: Air Berwarna Cokelat Rendam Cempaka Banjarbaru, Siswa Madrasah Terpaksa Dipulangkan

Profesi satpam masih dijalaninya sambil menunggu kesempatan mewujudkan cita-citanya menjadi pengajar.

“Cita-cita saya kan menjadi pengajar, guru atau dosen begitu. Tapi mungkin karena belum rezeki dan agak susah juga untuk masuk ke dunia tersebut.

Untuk saat ini saya bertahan sebagai satpam sambil berusaha mencapai titik tersebut,” kata Anam. (kompas/Omarali)

 


 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.