TRIBUNJATIM.COM - Seorang murid kelas 2 SDN 10 Jaya Mukti mencuri perhatian warga di Kelurahan Jaya Mukti, Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai, Riau.
Pasalnya, murid bernama Muhammad Aska (8) tersebut memakai seragam lusuh ke sekolah.
Maklum, ia terlahir dari keluarga kurang mampu.
Baca juga: Senyum Kecut Intel TNI Penyamarannya Dipergoki Anies Baswedan, Kodam Bantah Mengintai: Kebetulan
Kendati ekonomi kedua orang tuanya terbatas, anak lelaki ini memiliki semangat yang tinggi untuk menjadi orang yang berpendidikan.
Seragam lusuh yang dipakainya juga tidak membuatnya merasa minder dari teman-temannya di sekolah.
Kondisi Aska ini mendapat perhatian dari Kapolsek Dumai Timur, Kompol Aditya Reza Syahputra, hingga membelikan seragam sekolah untuknya.
Ketika dihubungi Kompas.com, Kompol Aditya mengaku tersentuh mendengar nasib yang dijalani Aska dalam menempuh pendidikan dasar.
Dia mengatakan, beberapa hari lalu, ada warga bercerita tentang kondisi Aska.
Lalu, pada Senin (2/2/2026), Aditya didampingi anggota Bhabinkamtibmas mendatangi kediaman Aska.
"Sampai di sana, kami melihat kondisi rumah orang tua Aska cukup memperihatinkan," ujar Aditya melalui sambungan telepon pada Rabu (4/2/2026).
"Token listrik rumahnya bunyi waktu itu. Ayah Aska bekerja sebagai buruh di Batam, sementara ibunya kerja serabutan," imbuh dia.
Aska anak kelima dari lima orang bersaudara.
Mereka tinggal bersama orang tuanya di rumah kontrakan.
Saat itu, Aska masih memakai seragam sekolah merah putih saat ditemui Kapolsek.
Namun, kondisinya sudah lusuh.
Rupanya, seragam tersebut merupakan pemberian orang lain yang sudah tamat SD.
"Dia pakai seragam turunan dari warga. Itu pun dipakai gantian dengan saudaranya," sebut Aditya.
Tanpa pikir panjang, Aditya langsung mengajak Aska membeli seragam sekolah ke salah satu toko di pasar menggunakan mobil.
Aska dibelikan satu setel baju merah putih, lengkap dengan dasi dan topi.
Seragam tentu belum lengkap tanpa sepasang sepatu.
Aditya pun membawa Aska untuk memilih sepatu yang diinginkan.
"Dia pilih baju sekolah lengan panjang. Terus, sepatu saya bilang ambil mana yang Aska suka. Wajahnya langsung ceria mendapat seragam baru," kata Aditya.
Aditya berpesan kepada Aska, untuk terus semangat belajar hingga menjadi anak yang berguna bagi bangsa dan negara.
"Aska termasuk anak yang berprestasi. Dia sering dapat rangking," sebutnya.
Baca juga: Asal Cacahan Kertas Diduga Uang Rp100.000 Ditemukan di TPS Liar, Pemilik Lahan Tak Pedulikan
Terpisah, Kapolres Dumai, AKBP Angga Febrian Herlambang mengatakan, pemberian seragam sekolah kepada anak tersebut merupakan bagian dari program kerja kepolisian dalam membangun hubungan baik dengan masyarakat.
"Kepolisian tidak hanya bertugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan warga," kata Angga kepada Kompas.com melalui pesan WhatsApp, Rabu.
Pemberian bantuan seragam sekolah tersebut, tambah dia, sebagai bentuk nyata kepedulian, terutama terhadap anak-anak yang berprestasi, namun terkendala dalam hal fasilitas sekolah.
Bantuan tersebut, diharapkan dapat meringankan beban orang tua kurang mampu.
Sekaligus menjadi motivasi bagi anak-anak untuk terus mengembangkan potensi dirinya.
"Program seperti ini akan kami lanjutkan secara berkala, sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masyarakat," ucap Angga.
Kisah kakak beradik di wilayah Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sempat viral di media sosial.
Pasalnya, mereka diketahui saling bergantian seragam dan sepatu demi bisa melanjutkan sekolah.
Video tersebut salah satunya dibagikan oleh akun IG @sahabatlangit.indonesia, Senin (15/9/2025).
Dalam video tersebut, terlihat seorang anak laki-laki memakai seragam pramuka yang bergegas pulang ke rumahnya.
Di depan rumah tersebut, terlihat anak laki-laki lain yang merupakan saudara kandungnya, menunggu untuk saling bergantian menggunakan seragam dan sepatu.
Anak yang memakai seragam itu pun langsung melepas pakaian Pramuka yang dipakai dan memberikannya kepada saudaranya.
Setelah mendapatkan seragam, anak tersebut bergegas memakainya lengkap dengan sabuk dan sepatu.
Lalu, ia pun menggendong tas ranselnya di pundak dan pergi meninggalkan rumah.
Dalam keterangan unggahan disebutkan, kedua anak laki-laki tersebut adalah kakak beradik bernama Haikal dan Haizar.
Haikal saat ini duduk di bangku kelas 12 SMK.
Sementara adiknya, Haizar, masih berada di kelas 9 SMP.
Sang kakak yang mendapatkan jadwal sekolah pagi harus bergegas pulang untuk bergantian seragam dengan adik yang masuk sekolah siang.
Mereka juga memiliki satu lagi adik perempuan yang masih duduk di bangku kelas 3 SD.
Disebutkan bahwa ketiganya adalah anak yatim.
Sementara ibunya diduga orang dalam gangguan jiwa (ODGJ), seperti dilansir dari Tribun Jabar.
Dalam unggahan lainnya, pemilik yayasan itu pun membawa Haikal dan Haizar serta adik kecil mereka untuk berbelanja sepatu dan seragam baru sehingga mereka tidak perlu lagi bergantian.
"Alhamdulillah,sudah tersampaikan amanahnya untuk Haikal dan adik-adiknya.
Kebutuhan urgent sudah terpenuhi,sekarang fokus kita ke kebutuhan sehari hari dan bekal sekolahnya," tulis @sahabatlangit.indonesia.
Saat didatangi Kompas.com, kakak beradik tersebut bernama Muhamad Haikal Al Farizi (18) dan adiknya Haezar Alzikri (15).
Keduanya tinggal di sebuah kontrakan petak di Desa Bojong Indah, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, bersama adik bungsu mereka, Callista (9).
Di kontrakan tersebut juga ada sang ibu, Nina Rahmadini (40), yang mengalami gangguan kejiwaan, serta nenek mereka, Sumiati (60).
Sementara ayah mereka sudah meninggal sejak 2020.
Untuk bertahan hidup, keluarga ini mengandalkan gotong royong.
Kerabat ikut membantu kebutuhan makan dan sekolah, ditambah uluran tangan para relawan yang mengetahui kisah mereka.
"Kami kerja sama sama, abang saya, suami saya, nenek saya juga. Terus dari bantuan juga gitu," kata sang bibi, Dika Yuniasari, Kamis (18/9/2025).
Baca juga: Keluarga Siswa SD di NTT yang Tidak Bisa Beli Buku & Pulpen Rp10 Ribu Tak Pernah Dapat Bantuan
Kisah Haikal dan Haezar yang harus bergantian memakai seragam Pramuka sebenarnya sudah berlangsung sejak keduanya duduk di kelas 1 sekolah masing-masing.
Kini Haikal duduk di kelas 3 SMK, sementara Haezar kelas 3 SMP di sekolah yang sama.
"Seragam Pramukanya cuma satu bergantian. Adiknya dulu, baru abangnya gitu," ungkap Dika.
Dika mengaku sempat khawatir dengan kondisi mental kedua keponakannya saat video mereka viral.
Namun, di sisi lain, perhatian publik justru membawa bantuan yang terus mengalir.
"Alhamdulillah udah dibantu dari seragam sekolah, sepatu, alat tulis sama biaya sekolah sudah dibantu udah dibayar," ujarnya.
Dengan dukungan tersebut, Haikal dan Haezar kini tak lagi harus bergantian seragam untuk berangkat sekolah.
Mereka bisa melanjutkan pendidikan dengan lebih tenang, ditemani semangat gotong royong keluarga serta uluran tangan para dermawan.