TRIBUN-BALI. COM, DENPASAR – Menjelang malam Pangerupukan yang identik dengan kemeriahan pawai ogoh-ogoh, aparat keamanan mulai memperketat pengawasan.
Bukan tanpa alasan, tradisi tahunan ini kerap dinodai oleh aksi konsumsi minuman keras (miras) yang sering kali menjadi sumbu pemicu bentrokan antar kelompok pemuda.
Mengantisipasi hal tersebut, personil Koramil 1611-07/Denpasar Barat melakukan langkah jemput bola.
Mereka "bergerilya" menyambangi markas-markas Sekaa Teruna Teruni (organisasi pemuda) di wilayah Denpasar Barat untuk memberikan edukasi dan peringatan dini.
Baca juga: MASIH Minim STT Mendaftar, Maka Pendaftaran Bantuan Pembuatan Ogoh-ogoh Diperpanjang di Klungkung
Danramil 1611-07/Denbar, Mayor Cke I Made Oka Widianta, menegaskan bahwa fokus utama pengamanan tahun ini adalah meminimalisir potensi gangguan Kamtibmas yang dipicu oleh pengaruh alkohol.
"Kami rutin menyambangi adik-adik STT untuk mengingatkan agar menjauhi miras," kata Mayor Oka dijumpai Tribun Bali di sela kegiatan pada Kamis 5 Februari 2026.
"Kami ingin semangat kreativitas ogoh-ogoh tidak dirusak oleh gesekan antar kelompok hanya karena pengaruh alkohol," imbuhnya.
Selain miras, penggunaan petasan yang berlebihan juga menjadi hal yang diantisipasi karena dinilai dapat memicu kepanikan dan kericuhan di tengah kerumunan massa.
Menghadapi ribuan massa yang akan tumpah ruah ke jalan, Mayor Oka menginstruksikan jajarannya untuk tetap mengedepankan sisi humanis.
Pengamanan tidak dilakukan dengan cara kaku, melainkan melalui pendekatan persuasif.
Langkah pengamanan ini nantinya akan melibatkan sinergi lintas unsur, di antaranya Pecalang, Linmas dan Aparat Desa/Kelurahan dan Kepolisian.
"Setiap gerakan di lapangan harus humanis. Kita prioritaskan keselamatan masyarakat, terutama anak-anak dan penonton yang ingin menikmati budaya kita," tuturnya.
Tak hanya soal keamanan fisik, Koramil Denbar juga memberikan perhatian khusus pada pengaturan arus lalu lintas.
Titik-titik rawan kemacetan akan dipetakan, dan jalur evakuasi dipastikan tetap terbuka lebar sebagai antisipasi keadaan darurat.
Mantan Kapenrem 163/Wira Satya ini meminta anggotanya untuk meningkatkan intensitas patroli dan komunikasi berjenjang agar setiap perkembangan situasi di lapangan dapat direspons dengan cepat.
"Harapan kita semua sama, pawai ogoh-ogoh berjalan aman dan kondusif. Mari kita jaga kesucian nilai budaya dan kearifan lokal Bali tanpa harus diwarnai insiden yang merugikan kita semua," tutup Mayor Oka. (*)