Nilai Negara Gagal Hadir, DPR Akui Tertampar soal Siswa SD Akhiri Hidup karena Tak Bisa Beli Buku
February 05, 2026 10:42 AM

Kasus siswa SD di NTT yang mengakhiri hidup karena tak bisa membeli peralatan sekolah direspons sejumlah anggota DPR.

Tiga anggota DPR mengaku prihatin dengan insiden tersebut.

Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief, mengatakan kasus tersebut merupakan alarm serius bagi sistem pendidikan nasional.

Menurutnya, hal serupa tak boleh dibiarkan dan terjadi lagi di kemudian hari.

“Kami sangat prihatin. Kasus ini menjadi alarm keras bahwa masih ada anak-anak kita yang tidak mendapatkan kebutuhan belajar paling mendasar. Ini tidak boleh dibiarkan,” ujar Habib, dikutip dari unggahan Instagram DPR, @dpr_ri, Rabu (4/2/2026).

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, My Esti Wijayati juga memberikan respons.

Ia menyatakan pemerintah harus hadir secara nyata dan bukan hanya lewat janji-janji konstitusional. 

Esti menegaskan, bahwa pendidikan seharusnya membebaskan, bukan memberi beban hingga berujung pada keputusan tragis.

“Jangan sampai ada lagi anak-anak yang merasa putus asa hanya karena tidak mampu membeli alat tulis,” katanya.

Anggota DPR RI Daerah Pemilihan NTT I, Andreas Hugo Pareira, memandang tragedi ini sebagai tamparan moral bagi bangsa.

Ia menekankan bahwa semua pihak, pemerintah daerah, legislatif dan masyarakat memiliki utang moral untuk menjadi tumpuan bagi generasi muda.

Sehingga, anak-anak tidak tumbuh dalam kondisi putus asa dan kehilangan harapan hidup.

Andreas mendesak pihak kepolisian untuk segera mengusut tuntas motif di balik kematian tragis ini guna memberikan kejelasan kepada publik.

Pemerintah setempat juga diminta memberikan perhatian khusus ke lingkungan agar kejadian serupa tak meluas.

"Peristiwa ini memilukan bagi siapa pun yang punya hati. Ini tamparan saat seorang anak merasa putus asa hingga kehilangan sandaran dari keluarga dan masyarakat," ungkapnya, Selasa (3/2/2026).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.