Tiga Kampung di Manggarai Timur NTT Terancam Lenyap, Banjir dan Abrasi Sungai  
February 05, 2026 12:19 PM

 

Laporan Reporter

 

POS-KUPANG.COM, Robert Ropo

POS-KUPANG.COM, BORONG - Sungai Wae Laing, Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara (LAUT), Kabupaten Manggarai Timur selalu terjadi banjir dan abrasi pada setiap kali musim hujan. 

Dampak banjir dan abrasi sungai itu, sudah menghilangkan banyak lahan pertanian warga setempat. Namun kini mengancam akan menghilangkan rumah-rumah atau pemukiman penduduk sepanjang bantaran sungai tersebut. 

Sehingga warga setempat mendesak Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) atau pun pemerintah pusat untuk membangun tanggul atau tembok penahan abrasi sungai itu. 

Camat Lamba Leda Utara, Agustinus Supratman ketika dikonfirmasi Pos Kupang, Rabu (4/2) mengatakan, dirinya sudah berulang-ulang turun melakukan pemantauan dan melaporkan kondisi riil kepada Pemerintah Kabupaten Matim. 

Agustinus Supratman menerangkan, sejak arah arus banjir berubah dan membentuk aliran baru,  sejak saat itu pula, tumbuh- tumbuhan, hewan ternak, lahan pertanian,  pemukiman warga dan bahkan fasilitas umum yang dilalui banjir atau aliran sungai menjadi korban.

“Banyak lahan pertanian dan hampir 1 hektar sawah milik warga di bantaran sungai itu hilang. Kini ancaman abrasi sungai Wae Laing juga mengintai pemukiman penduduk sekitar,” ujar Agustinus Supratman. 

Dijelaskan Agustinus Supratman, data yang diperoleh, sekitar tahun 1975, sungai Wae Laing membentang lurus membela lembah Dampek. Namun kini berbentuk busur setengah lingkaran akibat banjir bandang pada setiap musim hujan. 

Tiga anak kampung pun dalam ancaman, yakni Kampung Dampek, Maki, dan Kampung Binaan. Kampung Dampek, Desa Satar Padut, sebanyak 66 KK, 241 jiwa. Kampung Maki, dan Binaan, Desa Satar Kampas, sebanyak 136  KK atau 456 jiwa.

Sedangkan lahan sawah milik warga kini hampir capai 1 hektar hilang digerus banjir. Selain tanah basah, belasan hektar lahan pertanian kering pun kini jadi DAS sungai Wae Laing dan lambat laun bakalan bila sesewaktu arah alir sungai saat banjir berubah-ubah. 

Agustinus Supratman juga mengatakan, selain itu, fasilitas umum yang kemungkinan terdampak adalah jembatan dan jalan strategis nasional Trans Pantura Flores yang melitas di Dampek. 

Terkait hal ini pemerintah desa dan kecamatan Lamba Leda Utara selalu membuat laporan dan diusul dalam usulan Musrenbangdes dan Musrenbangcam saetiap tahun.  Kemudian pihak kabupaten juga melakukan hal yang sama secara berjenjang.  

Masyarakat berharap,  semoga tahun ini atau tahun depan penanganan terhadap sungai Wae Laing terealisasi, demi keselamatan warga dan insfrastruktur lainnya yang kini sedang dalam ancaman. (rob) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.