LIPSUS: Maria Kaget Anaknya Akhiri Hidup dengan Tragis di Kebun Cengkeh Ngada NTT
February 05, 2026 12:19 PM

 

POS-KUPANG.COM, JEREBUU - Maria Goreti Te’a (47) ibu kandung dari YBR (10) alias Yohanes menceritakan hari-hari terakhir sebelum tragedi tersebut. Awalnya pada pagi hari YBR mengeluh pusing dan tidak mau berangkat ke sekolah. 

Namun karena khawatir ia tertinggal pelajaran, Maria tetap memintanya masuk sekolah dan mengantar dengan ojek. 

Namun naas, pada siang harinya, kabar duka itu datang menyelimuti keluarga tersebut. Sang ibu kaget mendengar kabar duka anaknya YBR mengakihir hidupnya. “Saya kaget ada kabar, dari tetangga, saya pikir ada pergi sekolah,” ungkap Maria, saat dijumpati di rumah duka, Selasa (3/2).

Diketahui, YBR adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sejak berusia 1 tahun 7 bulan, ia tak lagi tinggal bersama ibu kandungnya dan diasuh neneknya di pondok sederhana berdinding bambu. 

Ayahnya telah merantau ke Kalimantan sekitar 11 hingga 12 tahun lalu dan tak pernah kembali. 

Sehari-hari, selain bersekolah, YBR kerap membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar.  Untuk makan, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya, pisang dan ubi menjadi menu paling sering disantap.

ISI SURAT - isi surat yang ditinggalkan oleh YBS saat ditemukan meninggal dunia di pohon cengkeh, Kamis (29/1/2026). (POS-KUPANG.COM/HO-akun instagram @ntt.update)

Dari pantauan lapangan dan keterangan warga, keluarga YBR  hidup dalam tekanan ekonomi berkepanjangan sejak ditinggalkan kepala keluarga. Kondisi ini membuat pengasuhan anak-anak terpisah, pendampingan emosional minim, dan akses pendidikan terbatas.

Ironisnya, keluarga ini juga tercatat luput dari berbagai bantuan pemerintah, baik bantuan rumah layak huni, pendidikan, maupun bantuan sosial lainnya

Dari lima anak, hanya dua yang sempat menikmati pendidikan formal secara berkelanjutan.
Tewas di Pohon Cengkeh

Sebelumnya, YBR (11) seorang siswa kelas IV salah satu SDN Desa Nenawea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada ditemukan meninggal dunia di pohon cengkeh, Kamis (29/1/2026) siang. 

Saat ditemukan, korban tampak mengenakan baju olahraga berwarna merah.

Informasi yang diperoleh, saat mengevakuasi korban, warga menemukan sebuah pesan tertulis yang ditujukan kepada sang ibunda.  Pesan itu ditulis pada sebuah kertas berwarna putih dalam bahasa Bajawa. 

Surat untuk Mama
Kertas Ti'i Mama Reti"
Mama galo Ze'e
Mama Molo, Galo Ja'o Mata, Mama  Ma'e Rita ee Mama
Mamo Galo Ja'o Mata, Ma'e Woe Rita Ne Gae Nga'o ee
MOLO MAMA
Menurut sumber warga asli Bajawa, isi surat itu adalah:
Kertas untuk mama Reti
Mama terlalu kikir (pelit)
Mama baik sudah, kalau saya mati mama jangan menangis ee mama. 
Mama, saya kalau mati jangan menangis dan cari saya ee. 
Baik sudah mama atau selamat tinggal mama

Kepolisian menyatakan dugaan awal mengarah pada tindakan bunuh diri, namun proses penyelidikan masih berlangsung. Aparat telah memeriksa sejumlah saksi dan mengamankan barang bukti berupa pesan tertulis yang diduga dibuat korban sebelum kejadian.

Polisi menegaskan pendalaman dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan kondisi keluarga dan lingkungan sosial korban.

Kapolda NTT, Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., menegaskan kasus dugaan bunuh diri seorang siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ngada menjadi perhatian serius, tidak hanya di tingkat daerah, tetapi juga nasional.

“Ini sangat-sangat menjadi atensi, bahkan bukan hanya menjadi kasus lokal NTT, namun sudah sampai ke istana, Saya sampai ditelepon terkait kasus ini,” ujar Kapolda saat menghadiri acara syukuran pembentukan Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (Ditreskrim PPA dan PPO) di Mapolda NTT, Kupang, Rabu (4/2/2026).

Ia menegaskan, Polda NTT telah mengambil langkah cepat dan serius, khususnya dengan melibatkan jajaran Ditreskrim PPA dan PPO untuk menangani kasus tersebut secara komprehensif.

“Kita juga meminta langkah dari unit PPA dan PPO Polda NTT untuk mendalami dan menangani kasus ini,” katanya.

Kapolda NTT juga menyebutkan bahwa dirinya telah memerintahkan Kapolres Ngada untuk segera turun langsung ke rumah duka sebagai bentuk kehadiran negara di tengah duka keluarga korban.

“Kejadian gantung diri di Ngada, saya sudah memerintahkan Kapolres Ngada untuk menuju rumah duka guna memberikan bantuan, baik material maupun pendampingan mental kepada keluarga korban,” jelasnya.

Selain itu, Polda NTT juga telah mengirimkan tenaga profesional untuk memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga korban.

“Psikolog dan konselor sudah kita kirim kepada keluarga korban. Kita harap ini bisa membantu meringankan kesulitan dan beban psikologis mereka,” lanjut Kapolda.

Terkait motif kejadian, Irjen Pol Rudi Darmoko menjelaskan bahwa berdasarkan penyelidikan awal dan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), terdapat indikasi faktor ekonomi yang menjadi pemicu, meski hal tersebut masih terus didalami penyidik.

“Motif utama sementara dari hasil penyelidikan awal dan olah TKP masih kita dalami lagi. Namun informasi pertama dari petugas lapangan yang saya terima, motifnya karena korban meminta dibelikan alat tulis kepada ibunya, namun karena kondisi ekonomi yang tidak baik, anak sekecil itu memilih mengakhiri hidupnya,” ungkapnya. 

YBR Anak yang Ramah

Kepergian YBR meninggal duka bagi keluarga besar UPTD SD Negeri Rutojawa, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada. YBR mengkahir hidupnya di kebun dekat pondok bambu yang menjadi tempat tinggalnya bersama sang nenek, WN, 80 tahun, di Desa Nenuwea. 

Kepala UPTD SD Negeri Rutojawa, Maria Ngene, mengatakan YBR dikenal sebagai siswa yang berperilaku baik dan tidak pernah menimbulkan masalah selama mengikuti kegiatan belajar mengajar.

“Dia anak baik, ramah dengan teman-temannya, dan tidak pernah membuat keributan,” kata Maria saat ditemui, Rabu (4/1/2026).

Menanggapi informasi yang beredar terkait kebutuhan perlengkapan belajar korban, Maria menyatakan pihak sekolah tidak mengetahui secara rinci kondisi tersebut. Pemantauan kebutuhan pribadi siswa umumnya dilakukan oleh wali kelas masing-masing.

“Saya belum menerima informasi soal kekurangan perlengkapan belajar. Biasanya wali kelas yang lebih mengetahui. Apalagi ini awal semester, mungkin kebutuhannya belum sempat dipenuhi,” ujarnya.

Selama mengikuti proses belajar mengajar, kata Maria, YBR tidak pernah menyampaikan keluhan dan tidak menunjukkan kendala yang menonjol. “Tidak ada laporan atau keluhan. Kami memang tidak bisa memantau kondisi pribadi semua siswa secara detail,” katanya.

Maria mengakui bahwa pemantauan kondisi sosial siswa di sekolah memiliki keterbatasan, terutama karena jumlah peserta didik dan minimnya laporan langsung dari siswa maupun keluarga.

Meski hidup dalam keterbatasan, YBR tercatat tetap membayar uang sekolah, meskipun tidak selalu tepat waktu. Pembayaran dilakukan oleh ibu atau neneknya melalui bendahara komite sekolah.

“Pembayaran uang sekolah tetap berjalan, walaupun kadang terlambat. Entah ibunya atau neneknya yang membayar, kami tetap menerima,” ujar Maria.

Gubuk tempat YBR hidup bersama sang nenek di kebun, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Selasa (3/2/2026). Siswa kelas V itu memilih mengakhiri hidup dengan cara gantung diri.
Gubuk tempat YBR hidup bersama sang nenek di kebun, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Selasa (3/2/2026). Siswa kelas V itu memilih mengakhiri hidup dengan cara gantung diri. (POS.KUPANG.COM/CHARLES ABAR)

Ia juga menjelaskan bahwa sejak kelas I hingga kelas III, YBR belum pernah menerima bantuan pendidikan, termasuk Program Indonesia Pintar (PIP), karena terkendala administrasi kependudukan.

“Sejak kelas satu sampai kelas tiga dia belum menerima bantuan karena belum memiliki Nomor Induk Kependudukan,” katanya.

Pihak sekolah kemudian menyarankan agar YBR dimasukkan ke dalam Kartu Keluarga neneknya. Hal itu dilakukan karena ibu korban masih tercatat dalam Kartu Keluarga di Kabupaten Nagekeo.

“Baru saat kelas tiga dia masuk kartu keluarga neneknya, karena ibunya masih terdaftar di Nagekeo,” kata Maria.

Pada tahun ini, sekolah telah mengusulkan YBR sebagai penerima PIP. Dana bantuan sebesar Rp 450 ribu bahkan telah tercatat masuk ke rekening. Namun, pencairan belum dapat dilakukan karena perbedaan domisili identitas orang tua.

“Saat hendak dicairkan, pihak bank tidak bisa memproses karena KTP ibunya berasal dari luar daerah. Ibunya ber-KTP Nagekeo,” ujar Maria.

Atas peristiwa tersebut, pihak sekolah menyampaikan duka mendalam kepada keluarga korban dan menyatakan akan meningkatkan perhatian terhadap kondisi sosial para siswa. “Kejadian ini menjadi pembelajaran bagi kami untuk lebih memperhatikan kondisi sosial peserta didik ke depan,” kata Maria. (cha/uge)

Gubernur Melki Merasa Malu 

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menyampaikan pernyataan keras terhadap Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada menyusul meninggalnya seorang siswa sekolah dasar yang diduga bunuh diri akibat persoalan buku dan bolpoin.

Pernyataan itu disampaikan Gubernur Melki saat menyampaikan sambutan pada acara launching dan peresmian Fakultas Kedokteran Universitas Citra Bangsa (UCB) Kupang, Rabu (4/1).

"Tadi malam saya cek terakhir, belum ada perwakilan Pemda Ngada yang turun ke rumah duka. Ini gila namanya. Dalam situasi seperti ini, kita gagal sebagai pemerintah," tegas Gubernur Melki.

Gubernur Melki menyatakan rasa malu sebagai kepala daerah atas peristiwa tersebut. Menurutnya, negara dan pemerintah daerah telah lalai dalam melindungi warganya, terlebih anak-anak.

WAWANCARA - Gubernur NTT Melki Laka Lena saat diwawancarai mengenai Pergub tentang tunjangan transportasi dan perumahan DPRD NTT. Senin, (8/9/2025) di Kantor DPRD NTT.
WAWANCARA - Gubernur NTT Melki Laka Lena saat diwawancarai mengenai Pergub tentang tunjangan transportasi dan perumahan DPRD NTT. Senin, (8/9/2025) di Kantor DPRD NTT. (POS-KUPANG.COM/IRFAN HOI)

"Malu saya sebagai gubernur. Masa ada warga negara yang mati karena hal seperti ini. Kalau ini terjadi, berarti kita gagal mengurus warga kita sendiri," katanya dengan nada keras.

Gubernur Melki menegaskan bahwa korban meninggal bukan karena persoalan sepele, melainkan karena kemiskinan yang tidak tertangani oleh sistem pemerintahan dan sosial. 

"Di saat kita duduk dengan nyaman, ada seorang warga Indonesia asal NTT, khususnya di Kabupaten Ngada, yang mati karena dia miskin," ujar Gubernur Melki.

Untuk memastikan informasi tersebut, Gubernur mengaku telah menghubungi langsung pimpinan daerah setempat. Namun hingga beberapa waktu, tidak mendapat respons.

"Saya kirim pesan WhatsApp ke pimpinan daerahnya, tapi lama sekali responnya. Karena itu saya perintahkan orang saya untuk turun langsung mengecek ke lapangan," ungkap Gubernur Melki.

Gubernur Melki menilai peristiwa ini sebagai kegagalan menyeluruh, tidak hanya pemerintah, tetapi juga pranata sosial dan keagamaan. "Pranata agama gagal, pranata sosial gagal, pemerintahan juga gagal, sampai orang bisa mati karena miskin seperti ini," tegasnya.

Gubernur Melki menekankan agar kejadian serupa tidak boleh terulang kembali di wilayah NTT dan meminta seluruh kepala daerah lebih peka serta hadir secara nyata di tengah masyarakat.

"Kejadian seperti di Ngada ini harus menjadi yang pertama dan terakhir," pungkas Gubernur Melki. (rey)

Cerminan Ekonomi Titik Nadir 

Ketua Fraksi Amanat Sejahtera (PAN-PKS) DPRD NTT Kristoforus Loko menyebut kondisi itu sangat memprihatinkan. Sebab, tragedi itu mencerminkan kondisi sosial yang sangat ekstrem. 

"Itu cerminan bahwa kondisi kita hari ini berada dalam kondisi sangat sulit secara ekonomi bahkan pada titik nadir, ekstrem. Harus menjadi bahan refleksi," ujar politisi PAN ini, Rabu (4/2/). 

Kristo Loko mengatakan, kejadian ini menjadi evaluasi sekaligus koreksi bagi Pemerintah dan para pengambil kebijakan. Tidak saja kebijakan mengarah pada level makro dan mengesampingkan bagian mikro. 

"Kita tidak masuk pada level detail, level mikro bahwa ada pribadi masyarakat yang berada dalam kondisi ekonomi sangat sulit. Orang sampai memilih bunuh diri, saya terpukul karena ini anak kecil. Itu tekanan psikologis yang dialami keluarga itu sudah pada titik ekstrem," ujar Kristo Loko. 

AMANAT SEJAHTERA  -  Ketua Fraksi Amanat Sejahtera DPRD NTT Kristoforus Loko ketika menanggapi tentang kejadian bunuh diri seorang anak di Kabupaten Ngada. Rabu, (4/2/2026).
AMANAT SEJAHTERA - Ketua Fraksi Amanat Sejahtera DPRD NTT Kristoforus Loko ketika menanggapi tentang kejadian bunuh diri seorang anak di Kabupaten Ngada. Rabu, (4/2/2026). (POS-KUPANG.COM/IRFAN HOI)

Kristo Loko menyebut itu menjadi catatan sehingga ada langkah konkrit dan tidak ada masyarakat yang terabaikan. Pendekatan dilakukan dari tingkat RT hingga yang paling atas. Dengan begitu, semua orang akan mendapat perhatian. 

Secara factual tambahnya, sebetulnya keluarga seperti yang dialami korban di Ngada itu perlu memeroleh atensi bersama. Keluarga itu pantas tersentuh bantuan dari negara. 

Sebagai wakil rakyat, kata dia, itu menjadi tamparan. Pemerintah harus lebih peduli pada masyarakat semacam itu. Pendataan pada orang-orang demikian pun perlu diperkuat. 

"Kasus ini menjadi sebuah pukulan sangat berat. Jangan terulang lagi pada masa yang akan datang. Ini pada anak sekecil ini, sudah ngeri sekali. Tekanan psikologis sudah sangat berat," kata Kristo Loko. 

Selain itu, korban yang masih belia dan pasti memiliki masa depan yang ingin diraih. Tekanan ekonomi membuat anak itu putus asa karena kehilangan harapan. Mestinya, negara hadir dalam kondisi seperti ini.

"Negara harus hadir seperti yang dialami anak itu, lewat berbagai program, kebijakan," kata Kristo Loko, Wakil Ketua Komisi III DPRD NTT itu. 

Kristo Loko khawatir masyarakat terpinggirkan dan memilih jalan pintas hingga berujung maut seperti peristiwa itu. Beragam program pada sektor pendidikan, bisa diarahkan untuk keluarga atau siswa yang tidak mampu. 

Begitu juga dengan bantuan sosial lain yang dilaksanakan masyarakat. Jangan sampai, bantuan negara itu justru diberikan bagi orang yang mampu secara ekonomi. 

Kristo Loko berujar, kematian yang dialami anak berusia 10 tahun itu menjadi catatan kritis bagi semua pihak. Agar semua masyarakat tidak luput dari kepedulian yang harusnya membantu. Skema atau kebijakan harus dirubah. 

"Tetapi di antara kita ini ada orang yang sangat tidak berdaya, jangan sampai sibuk di level makro penanganan ekonomi kita, tapi kita tidak masuk ke level detail seperti ini," kata Kristo Loko. (fan) 

 

NEWS ANALISIS
Alarm Keras
Psikolog dari Ibunda.id
Danti Wulan Manunggal 

Peristiwa meninggalnya siswa SD di NTT itu menjadi alarm keras bagi kita semua. Kasus ini sangat menyedihkan ketika sebuah benda sederhana seperti pena, yang bagi banyak orang dianggap sepele, menjadi beban eksistensial yang tak tertahankan bagi seorang anak. 

Secara psikologis, tindakan bunuh diri pada anak usia Sekolah Dasar (7-12 tahun) tidak pernah terjadi karena satu faktor tunggal, seperti halnya pena dan buku, melainkan merupakan kulminasi dari tekanan yang sudah menumpuk.

Seorang anak dapat mengambil keputusan bunuh diri disebabkan perkembangan kognitif dan emosional yang masih dalam tahap transisi. Anak-anak cenderung melihat masalah secara absolut. 

Jika mereka tidak punya pena, mereka merasa tidak bisa sekolah; jika tidak bisa sekolah, mereka merasa tidak punya masa depan atau akan dimarahi. Mereka belum memiliki kemampuan problem-solving yang matang untuk melihat jalan keluar lain. 

Selain itu, anak yang hidup dalam kemiskinan ekstrem seringkali merasa diri mereka adalah "beban" bagi orang tua. Hal ini yang dapat memunculkan rasa bersalah yang begitu mendalam pada anak. 

Ketika permintaan sederhana seperti pena tidak terpenuhi karena ibu tidak mampu, anak bisa merasa sangat bersalah karena telah menambah beban pikiran ibunya.

Faktor sosial pun juga berpengaruh, anak dapat merasa terisolasi di lingkungan sekolah sebab ia tidak memiliki pena yang menjadi alat utama untuk belajar. Tanpa itu, anak merasa berbeda, malu di depan teman sebaya, atau takut dihukum guru. Bagi anak, penerimaan sosial adalah segalanya. 

Lebih lanjut, anak juga belum memiliki kontrol diri yang sempurna. Perasaan malu, takut, dan sedih dapat memuncak bersamaan yang akhirnya bisa mengambil keputusan fatal seperti halnya bunuh diri.

Kondisi ekonomi bukan sekadar masalah 'uang', tetapi juga stres toksik yang dapat dialami secara terus-menerus. Tekanan ekonomi secara terus-menerus dapat memicu hormon kortisol (hormon stres) yang tinggi pada anak. Jika terjadi secara terus-menerus, bagian otak yang mengatur emosi dan pengambilan keputusan bisa terganggu. 

Hal ini dapat menyebabkan anak menjadi lebih mudah cemas, depresi, dan merasa putus asa. Seorang anak juga dapat mengalami krisis identitas dan harga diri. 

Anak-anak akan membangun harga diri melalui perbandingan dengan teman-temannya. Ketidakmampuan memiliki perlengkapan sekolah dasar membuat mereka merasa "cacat" secara sosial. 

Dalam kasus di NTT, pena adalah simbol akses terhadap pendidikan. Kehilangan pena berarti kehilangan identitasnya sebagai 'siswa'.

Anak-anak adalah spons emosi. Jika orang tua terus-menerus menunjukkan kecemasan, kesedihan, atau kemarahan karena tekanan ekonomi, anak akan menyerap emosi tersebut. Mereka akan merasa bahwa dunia adalah tempat yang tidak aman dan penuh penderitaan. 

Seorang anak tidak memiliki mekanisme pertahanan diri seperti halnya orang dewasa. Oleh karena itu, kondisi ekonomi yang sulit dapat membuat anak sangat rapuh. Hal ini menjadi pengingat bahwa dukungan kesehatan mental harus menyentuh hingga ke pelosok dan lapisan ekonomi terbawah.

Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu. Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.

Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada. Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia berikut ini: https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/layanan-konseling-psikolog-psikiater. (kompas.com)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.