TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Dini hari itu, Rabu (28/1/2026), Jalan Tuanku Tambusai Kota Pekanbaru masih diselimuti cahaya lampu kota.
Sementara di persimpangan Jalan Paus, lima petugas marka jalan tampak sibuk menorehkan cat putih di aspal.
Di antara mereka ada Masrial seorang ayah dua anak, tulang punggung keluarga, yang malam itu kembali bekerja demi menghidupi istri dan anak-anaknya.
Malam itu, almarhum Masrial sempat mengeluh kecapean, karena biasanya Masrial siangnya bekerja di gudang cat Marka jalan, dan malamnya ikut melakukan pengecatan jalan.
Dinihari sekira menjelang pukul 03.00 WIB, pekerjaan untuk pembuatan Marka sudah tuntas dikerjakan Masrial bersama teman-temannya, tinggal pembuatan panah di persimpangan lampu merah itu saja.
Tak ada yang menyangka, pekerjaan rutin itu menjadi tugas terakhirnya.
Sebuah mobil melaju kencang dari arah tak terduga. Dentuman keras memecah keheningan.
Masrial tersambar, tubuhnya terseret sejauh kurang lebih 33 meter di atas aspal Jalan Tuanku Tambusai, Kota Pekanbaru.
Mobil tersebut diduga dikemudikan seorang perempuan yang baru pulang dari tempat hiburan malam, lalu menghilang dalam gelap, meninggalkan luka dan kepanikan.
Masrial tidak sendiri malam itu. Ia bekerja bersama empat orang lainnya yang juga masih memiliki hubungan keluarga.
Dua di antaranya, Reza dan Edy, turut terkena dampak tabrakan dan mengalami luka lecet. Meski tidak sampai dirawat, trauma masih membekas hingga kini.
Baca juga: Kronologi Penangkapan 22,5 Kg Ganja Senilai Rp110 Juta di Kuansing, Tiga Orang Jadi Tersangka
Baca juga: Bukan PSK, Ternyata Kelompok Ini yang Paling Banyak Menyumbang Kasus HIV/AIDS di Riau
Dalam kondisi kritis, Masrial segera diangkat empat keluarganya ke mobil Marka dan dilarikan ke Rumah Sakit Tabrani sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Arifin Achmad.
Harapan keluarga masih menggantung. Namun takdir berkata lain. Beberapa jam setelah mendapatkan perawatan, Masrial menghembuskan napas terakhirnya.
Jenazah almarhum tak lama berselang dipulangkan ke Solok Selatan. Di sanalah istri dan dua anaknya menanti, menerima kabar duka tentang sosok yang selama ini menjadi sandaran hidup keluarga.
"Paman kami (Masrial) ini pekerja keras. Dialah yang menanggung kebutuhan istri dan anak-anaknya,"tutur tiga ponakannya yang menjadi saksi terjadinya kecelakaan Afdal, Febri, dan Reza, keluarga sekaligus rekan kerja korban.
Bagi mereka, kehilangan ini bukan sekadar duka, tetapi juga luka mendalam yang sulit terobati.
Beberapa hari setelah kejadian, keluarga pelaku penabrak lari mendatangi rumah duka di Solok Selatan.
Mereka menyampaikan permohonan maaf dan berjanji akan bertanggung jawab, termasuk membantu biaya pendidikan anak-anak Masrial.
Sementara itu, pelaku tabrak lari telah diamankan aparat kepolisian untuk menjalani proses hukum.
Meski demikian, keluarga korban berharap hukum tetap ditegakkan seadil-adilnya.
Mereka ingin kejadian serupa tak lagi terulang di Pekanbaru, kota yang belakangan ini kerap diguncang kecelakaan lalu lintas pada dini hari, terutama yang diduga melibatkan pengendara usai dari tempat hiburan malam.
Trauma masih membayangi keluarga dan rekan-rekan Masrial. Bagi mereka, bekerja di pinggir jalan saat malam kini terasa jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.
"Keselamatan kami seolah tidak lagi terjamin,"ungkap salah seorang keluarga dengan suara tertahan.
Jalan yang dulu menjadi tempat mencari nafkah, kini menyimpan kenangan pahit tentang seorang ayah yang pulang sudah dalam keadaan tak bernyawa, saat sedang berjuang untuk keluarganya.
Pelaku berinisial SH (28) yang tinggal di Jalan Durian Pekanbaru sudah diamankan pihak kepolisan.
Diduga SH yang mengendarai mobil dinihari itu dalam keadaan pengaruh alkohol, menurut keterangan pihak kepolisian, SH menyetir sambil melakukan Video call. (tribunpekanbaru.com / Nasuha Nasution)