Data BPS Rokok Penyumbang Terbesar Kemiskinan di Sulawesi Barat
February 05, 2026 03:47 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Barat (Sulbar) mengungkapkan sebuah fakta mengejutkan di balik profil kemiskinan terbaru periode September 2025. 

Rokok kretek filter kembali menjadi "biang kerok" terbesar kedua yang menjebak masyarakat dalam kemiskinan.

Meskipun secara umum persentase penduduk miskin di Sulbar turun menjadi 10,18 persen.

Baca juga: Rakernas PNM 2026 Hadirkan Ruang Berbagi untuk Masyarakat Aceh

Baca juga: BPS Sulbar: Angka Kemiskinan Turun 2,43 Ribu Jiwa, Warga Miskin Justru Makin Tertekan

Namun beban pengeluaran warga miskin justru semakin berat akibat konsumsi rokok yang tinggi.

Kepala BPS Sulbar, Suri Handayani, menyebut rokok kretek filter memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan Garis Kemiskinan di Sulbar, baik di perkotaan maupun di perdesaan.

Berdasarkan data BPS, komoditas makanan masih mendominasi pengeluaran warga miskin dengan kontribusi sebesar 78,28 persen. 

Namun, jika dibedah per jenis barang, posisi rokok sangat mengkhawatirkan.

"Setelah beras sebagai penyumbang utama, rokok kretek filter menempati posisi kedua sebagai komoditas yang paling memengaruhi kemiskinan," ujar Suri Handayani saat pres rilis di aula BPS Sulbar, Jl RE Martadinata, Keluruhan Simboro, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, Kamis (5/2/2026).

Berikut adalah urutan pengeluaran yang paling menguras kantong warga miskin di Sulbar:

- Beras: Menyumbang 28,15 persen di kota dan 26,64 persen di desa.

- Rokok Kretek Filter: Menyumbang 15,61 persen di kota dan 15,18 persen di desa.

- Ikan Tongkol/Tuna/Cakalang: (Penyumbang ketiga).

Data ini menunjukkan pengeluaran untuk rokok jauh lebih tinggi dibandingkan pengeluaran untuk kebutuhan bergizi seperti telur ayam ras, daging, atau kebutuhan pokok lainnya seperti bensin dan pendidikan.

Suri juga menyoroti fenomena "yang miskin semakin miskin". 

Secara jumlah, penduduk miskin di Sulbar memang berkurang sekitar 2,43 ribu jiwa dibandingkan Maret 2025. 

Namun, Indeks Keparahan Kemiskinan justru naik dari 0,41 menjadi 0,54.

"Artinya, penduduk yang masih berada di bawah garis kemiskinan, pengeluarannya semakin tidak merata dan semakin jauh tertinggal dari standar hidup layak," lanjutnya.

Salah satu penyebab sulitnya warga keluar dari jerat kemiskinan adalah besarnya alokasi pendapatan mereka yang "terbakar" untuk rokok, ketimbang digunakan untuk meningkatkan kalori atau investasi sumber daya manusia seperti sekolah.

Faktor Pemicu Lainnya

Selain rokok, BPS mencatat beberapa faktor yang memengaruhi kenaikan biaya hidup di Sulbar.

- Inflasi Tahunan: Tercatat sebesar 3,04 persen (y-on-y).

- Biaya Perumahan: Menjadi penyumbang terbesar di kategori non-makanan (10,36 persen di desa).

- Kenaikan Harga Pangan: Seperti cabai merah dan minyak goreng yang tetap fluktuatif.

"Tantangan ke depan adalah bagaimana mengarahkan konsumsi rumah tangga miskin dari barang yang tidak produktif seperti rokok ke kebutuhan yang lebih krusial, agar mereka bisa segera naik kelas dari garis kemiskinan," tutup Suri.(*)

Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Suandi 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.