WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakata, Yusril Ihza Mahendra, pada hari ini, Kamis 5 Februari merayakan ulang tahunnya yang ke-70 tahun.
Banyak ucapan yang disampaikan kepada Yusril, salah satunya dari Ketua Umum DPP Garda Satu, Cak Abdul Rohim.
Menurut Cak Rohim, Yusril Ihza Mahendra merupakan sosok negarawan, tokoh nasional, pakar hukum tata negara terbaik yang dimiliki bangsa Indonesia.
“Bagi saya, Pak Yusril merupakan sosok negarawan sejati. Pada awal reformasi, bisa saja beliau menjadi presiden, tapi Pak Yusril lebih memilih mundur,” kata Cak Rohim dalam keterangan tertulis pada Kamis (5/2/2026).
Bagi Rohim, Yusril merupakan guru dan mentornya di dunia politik.
Salah satu ajaran Yusril yang selalu diingat Rohim adalah untuk selalu bekerja dari hati dan berkontribusi bagi kemajuan negeri ini.
“Pesan ini saya terapkan dikehidupan saya, ke perusahaan maupun ke dalam organisasi Garda Satu. Selamat Milad Prof Yusril, sehat selalu, bahagia, dan terus memberikan ilmu, gagasan-gagasan, ide kepada Indonesia,” ucapnya.
Baca juga: Yusril Pastikan Rehabilitasi Eks Direksi ASDP Sesuai Mekanisme Konstitusi
Yusril dikenal sebagai pakar hukum tata negara sekaligus politikus Partai Bulan Bintang (PBB).
Yusril lahir pada 5 Februari 1956 di Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Ia meraih gelar sarjana filsafat dari Universitas Indonesia pada 1983, dan melanjutkan studi pascasarjana di bidang hukum serta ilmu Islam di kampus yang sama.
Yusril kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Punjab, Pakistan, dan Universitas Sains Malaysia, tempat ia mendapatkan gelar Master of Science (M.Sc.) dan Doctor of Philosophy (Ph.D.) dalam ilmu politik pada 1993.
Sebagai akademisi, Yusril memulai kariernya sebagai dosen Hukum Tata Negara, Teori Ilmu Hukum, dan Filsafat Hukum di Universitas Indonesia.
Berkat prestasinya, ia diangkat sebagai Guru Besar Ilmu Hukum di almamaternya.
Karier politik Yusril dimulai ketika ia mendirikan Partai Bulan Bintang (PBB) pada era reformasi, sebagai kelanjutan dari Partai Masyumi yang dibubarkan pada masa Presiden Soekarno.
Pada Sidang MPR RI 1999, Yusril hampir terpilih sebagai Presiden Indonesia, setelah berhasil meraih 232 suara, meskipun pada akhirnya Abdurrahman Wahid yang diusung oleh koalisi Poros Tengah berhasil memenangkan pemilihan.
Sebelum terjun ke politik, Yusril sudah dikenal luas sebagai penulis pidato Presiden Soeharto.
Dalam kurun waktu lebih dari dua tahun, ia menulis 204 pidato untuk Presiden Soeharto, hingga akhirnya Soeharto mengundurkan diri pada 1998.
Setelah reformasi, karier Yusril dalam pemerintahan terus berkembang.
Ia dipercaya sebagai Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia di era Presiden Abdurrahman Wahid pada 1999-2001.
Kemudian, Yusril juga dipercaya sebagai Menteri Hukum dan HAM pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri (2001-2004), dan Menteri Sekretaris Negara pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2007).
Tak hanya di pemerintahan, Yusril juga mendirikan firma hukum bersama adiknya, Yusron Ihza.
Ihza & Ihza Law Firm menjadi salah satu firma hukum yang diperhitungkan di Indonesia, terutama karena reputasi besar Yusril di bidang hukum tata negara.
Karier Yusril tidak hanya terbatas di dalam negeri.
Ia beberapa kali dipercaya untuk mewakili pemerintah Indonesia dalam forum internasional, seperti ASEAN, Organisasi Konferensi Islam (OKI), APEC, dan Komisi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sebagai politikus, Yusril juga dikenal sebagai pengacara beberapa tokoh penting, termasuk Joko Widodo, Ma’ruf Amin, Prabowo Subianto, dan Gibran Rakabuming Raka.
Selain itu, ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum PBB untuk periode 2015-2020, dan terus aktif dalam politik nasional.